"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, August 19, 2017

Albert Camus — terjemahan esai dari William Faulkner

7:38 AM Posted by Wawan Kurn , No comments

CAMUS mengatakan bahwa satu-satunya fungsi sejati dari manusia, yang terlahir dalam dunia yang absurd, adalah hidup, menyadari kehidupan seseorang, pemberontakan seseorang, kebebasan seseorang. Dia mengatakan bahwa jika satu-satunya solusi untuk dilema yang manusia alami hanyalah kematian, terlebih lagi kita berada di jalan yang keliru. Jalur yang tepat adalah jalan yang menuju kehidupan, menuju sinar matahari. Seseorang tak akan pernah berhenti merasakan penderitaan atas rasa dingin.
Maka dia memilih memberontak. Dia memang menolak menderita atas kedinginan yang tak pernah berhenti. Dia menolak mengikuti jejak yang hanya mengarahkan kita menuju kematian. Jalur yang dia ikuti adalah satu-satunya kemungkinan yang tidak mengarah pada kematian. Jalur yang dia ikuti mengarah menuju sinar matahari yang menjadi satu kepastian yang membuat kekuatan kita rapuh dan bentuk absurd yang kita miliki, sesuatu yang tak ada dalam kehidupan kita sampai kita benar-benar berhasil mewujudkannya.
Dia mengatakan, ‘Aku tidak percaya jika kematian membuka kehidupan lain. Bagiku, ini adalah pintu yang jelas akan menutup.’ Artinya, dia mencoba mempercayainya. Tapi dia gagal. Terlepas dari dirinya sendiri, seperti semua seniman, dia menghabiskan hidupnya untuk mencari dirinya sendiri dan menuntut jawaban dirinya sendiri yang hanya Tuhan yang akan tahu; Ketika dia menjadi peraih Nobel tahun ini, aku menghubunginya ‘On salut l’├óme qui constamment se cherche et se demande’; Mengapa kemudian dia tak berhenti saat itu juga, jika dia tidak ingin percaya kepada Tuhan?
Begitu dia menabrak pohon, dia masih mencari dan menuntut dirinya sendiri; Aku tidak percaya bahwa dalam sekejap dia berhasil menemukannya. Aku tidak percaya hal seperti itu dapat ditemukan. Aku percaya hal itu hanya untuk dicari, terus-menerus, selalu saja dengan beberapa orang yang rapuh dari absurditas manusia itu sendiri. Yang tidak akan pernah dalam jumlah yang banyak, tapi akan selalu ada di suatu tempat setidaknya satu orang, dan satu itu akan selalu cukup.
Orang-orang akan bilang bahwa dia terlalu muda; Dia tidak punya waktu untuk menyelesaikannya. Tapi bukan persoalan berapa lama, bukan persoalan berapa banyak; Itu semua, secara sederhanya hanyalah Siapa. Ketika pintu tertutup untuknya, dia telah menulis di sisi ini, di mana setiap seniman yang juga menjalani hidup bersamanya yang mengetahui dan juga membenci kematian, berharap dapat melakukan hal serupa: Aku sudah tiba di sini. Dia melakukan itu, dan mungkin pada waktu yang tepat dia bahkan tahu jika dia telah berhasil. Apa lagi yang dia inginkan?
***

[Transatlantic Review, Spring 1961; the text printed here has been taken from Faulkner’s typescript. This previously appeared in Nouvelle Revue Fran├žaise, March 1960, in French.]

Thursday, July 27, 2017

Belum Ada Judul

3:09 AM Posted by Wawan Kurn No comments

Seorang pasien Rumah Sakit Jiwa di Kota M telah menghabiskan waktunya di kamar X23E selama tiga belas tahun, hari ini ia diputuskan bebas dan berniat menjadi seorang penulis. Sebelum keluar dari ruang adminstrasi RSJ, ia melihat seorang pegawai yang tengah bermain facebook di komputer kantor. Ketika pegawai itu meninggalkan kursinya, ia mendekat ke layar komputer dan membaca “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Ia kemudian mengetik pada bagian pertanyaan itu:

“Aku mengetahui banyak hal tentang jiwa. Jika aku berbaik hati untuk menuliskannya untukmu, apa yang ingin kau ketahui dari jiwa?”

Ia membaca kalimat yang ditulisnya dengan terburu-buru. Ia dengar langkah sepatu pegawai itu mendekat, dan secara tak sengaja ia menekan “tampilkan” hingga kalimat yang dituliskannya itu dibaca oleh puluhan, ratusan atau mungkin ribuan teman facebook pegawai itu. Ia menjauh. Pegawai itu duduk tanpa memperhatikan perbuatan dari pasien itu. 

“Borbanuddin...apa itu nama orang tuamu?”
“Iya, dia juga pernah gila tapi sekarang dia meninggal”
“Semoga kelak anakmu tidak ikut gila seperti kau dan ayahmu”
“Aku memang tak berniat punya anak, sudah terlalu banyak orang gila di dunia ini. Kau mungkin juga akan gila nantinya”

Pegawai itu terdiam. Dan pasien itu tersenyum lalu keluar dari RSJ dengan kembali memikirkan pertanyaan, “Apa yang sedang kau pikirkan?” 

Pikirnya, “Itu pertanyaan pertama bagi orang-orang yang ingin jadi gila. Di komputer tempat ini, semua orang sebentar lagi jadi gila. Ah... apa yang sebenarnya kupikirkan? Sekarang aku hanya butuh kertas dan pulpen, dan mungkin mencari kamar yang mirip dengan kamar X23E”

Kota M semakin ramai. Tak jauh dari pintu keluar, ia mulai mengingat sesuatu yang bisa jadi akan membuatnya benar-benar menjadi seorang penulis. Ia mengingat pamannya, Arbahim – seorang yang dianggap gila sebab memilih menghabiskan waktunya dengan bermain catur dengan teman-temannya atau jika teman-temannya tak kunjung datang, ia akan bermain melawan dirinya sendiri. Arbahim, satu-satunya keluarga yang ia punya setelah tiga belas tahun yang lalu ia membakar rumahnya sendiri dan tiga rumah tetangga lalu tertawa melihat api bekerja. Hanya ia yang berhasil selamat, dan semenjak kejadian itu ia terus tertawa tanpa henti selama tiga jam lalu tiga jam berikutnya ia menangis, tiga jam berikutnya ia tertawa, lalu menangis dan begitu seterusnya. Seorang mahasiswi psikologi bernama Masrah dengan segera menghubungi pihak Rumah Sakit Jiwa XMASKD Kota M.


Dan di kamar X23E, seorang pasien berusia dua puluh empat tahun bertemu dinding-dinding biru kusam, yang sedikit retak. Dinding itu pula yang menjadi kawan bagi si pasien baru itu. Hingga grup band Sheila On 7 menemukan lirik “Aku mulai nyaman berbicara pada dinding kamar. Aku takkan tenang saat sehatku datang” dan merilisnya beberapa hari setelah pasien itu terkurung dalam kamar di tahun 2004, pasien itu terlebih dahulu menyanyikannya dengan tangis yang diikuti tawa kecil. Pasien itu terus berbicara dengan dinding kamarnya, tapi percaya atau tidak, dinding kamar telah menyembuhkan sejumlah orang gila dan berhasil menyelamatkan beberapa orang yang nyaris menjadi gila.*    


(*Tulisan ini bagian awal dari novel yang saya rencanakan, semoga bisa dilanjutkan dan diselesaikan) 

Sunday, July 23, 2017

Bertemu Kawabata dan Freud

9:38 AM Posted by Wawan Kurn 2 comments

Ada kalanya saya meragukan 144 sks yang saya dapatkan di kampus, dan saya rasa, seperti itulah kenyataannya. Ada keraguan yang terjaga dan rasa ingin tahu yang tak terpenuhi akibat kemalasan. Kemelut seperti ini menjengkelkan, tapi keseriusan untuk belajar atau menikmatinya, mungkin adalah akar masalah yang belum bisa saya jelaskan dengan baik. Sebagai mahasiswa fakultas psikologi, jika harus membeberkan daftar dosa dari ketidakmampuan menikmati proses belajar, saya rasa itu akan menjadi sesuatu yang mengerikan dan tidak penting. Kalau pun nanti jadi penting, semoga tidak dalam waktu dekat ini.

Hal baik yang saya dapatkan dari ilmu psikologi adalah saya belajar tentang manusia, di sana manusia seperti bunga mawar yang baru mekar, dan kadang pula manusia menjelma sebagai serigala kelaparan yang terus mengincar mangsanya. Di tengah kemungkinan saya membenci manusia, pelajaran di psikologi membuat saya perlahan melihat berbagai keunikan dari manusia. Dan Sigmund Freud, menjadi salah satu tokoh yang sangat keras kepala dalam mempertahankan temuan-temuannya. Dari dirinya, saya belajar beberapa hal yang belum tuntas terjelaskan.

Kemarin, saat saya membaca ulang cerpen “Tahi Lalat” dan “Sang Juru Makam” entah mengapa saya teringat dengan konsep yang ada di kepala Freud. Sebenarnya, saya membaca ulang untuk membuat review lengkap untuk promosi buku “Daun-daun Bambu” di toko buku online Bookslab (silakan di follow ya terus pesan buku-buku kerennya...)  tapi jadinya seperti ini.

*

Pengalaman-pengalaman tokoh dalam dua cerpen Kawabata itu sebenarnya adalah bentuk penjelasan yang menarik. Saya kadang membayangkan, di kelas psikologi, para dosen mulai mengajak mahasiswa untuk gemar membaca sastra dan belajar menikmati kemungkinan cerita dan karakter tokoh dari sana. Tentu itu akan jauh lebih menyenangkan. Tapi, bisa jadi ini hanya berlaku untuk orang-orang tertentu. Berhasil atau tidaknya, saya belum bisa jawab. Tapi ini patut dicoba! Saya sempat membayangkan itu (dulu saat saya ingin jadi dosen) dan jika saya saya tidak berhasil mewujudkan itu, semoga saja ada dosen lain yang memikirkan cara itu.

Di cerpen “Tahi Lalat” terlihat kemampuan Kawabata dalam menciptakan kekuatan melalui hal remeh yang kadang kita abaikan, tahi lalat. Adanya tahi lalat itu membuat si tokoh utama terus mengenang sekaligus mendapat masalah dari kebiasaannya memainkan tahi lalatnya. Ada masalah dengan suami dan pertanyaan masa lalu untuk ibunya. Yang menyenangkan adalah, Kawabata membuat cerita ini berpindah dan melapisinya dengan ingatan-ingatan yang menurut Freud akan tertimbun dan terjaga dalam alam bawah sadar. Dan juga “Sang Juru Makam” tokoh utama yang hidup dalam kesendiriannya, ingatan terus membawanya pada pengalaman-pengalaman mengunjungi berbagai pemakaman. Ia juga terlatih untuk merasakan kesedihan, memahami makna lain dari kematian. Sebagai mahasiswa yang pernah dapat nilai yang baik pada bahasan tentang psikoanalisis, saya berharap bisa menulis cerpen serupa. Tapi ya... mungkin tak sebaik Kawabata. Atau mungkin Kawabata muncul dan membaca cerpenku lalu dia akan bilang, “Hmm... terlalu biasa-biasa saja” 

Aduuuh. Saya tulis tentang mimpi saja kalau begitu. Mimpi kalau saya jadi penulis dan saat terbangun, Kawabata datang lagi “Kau perlu lebih banyak mimpi selain malam dan kesedihan” dan setelah itu Freud mengetuk dari jendela, “Bakar saja buku The Interpreation of Dream itu, lalu kau tulis ulang mimpimu!”

     

Friday, July 14, 2017

Allende dan Cerita Tiga Generasi

11:12 AM Posted by Wawan Kurn , No comments
 
Isabel Allende, 2 Agustus 1942

Clara menjadikan novel “The House of Spirits” benar-benar terasa menarik. Ia juga menjadi simbol perlawan perempuan dalam menghadapi kerasnya watak dominan seorang lelaki. Dari berbagai kemampuan yang dimiliki Clara, saya merasa pusat kekuatan Magical Realism novel ini ada pada kehadiran Clara beserta keganjilan-keganjilannya. Perangai kasar suaminya, Esteban menjadi sebuah aliran panjang yang salah satu sebabnya adalah sikap politik yang ia pegang dan yakini. Karakter Esteban yang kemudian dipertemukan dengan Clara menciptakan percik menarik untuk terus menikmatinya. Dan konon, tokoh Clara yang merupakan seorang cenayang, merupakan cerminan tokoh dari nenek si penulis (Isabel Allende) sendiri yang juga seorang cenayang.  

Apa yang terjadi jika Clara, seorang perempuan yang tenang harus menghadapi serta menjalani kisah rumah tangga dengan seorang lelaki perangai kasar yang kaya raya? Perangainya yang buruk didukung dengan kekayaan Esteban yang melimpah, membuatnya terus melakukan apa saja yang ia inginkan. Akan tetapi, di novel ini pula, Isabel Allende seperti tengah mengikis perangai kasar dari seorang Esteban. Kekejaman serta sikap keras kepala yang telah dipertontonkan Esteban selama puluhan tahun pada akhirnya melewati tiga generasi mulai dari Clara, Blanca, dan Alba. Perjalanan itulah yang menjadi ruang bagi Allende untuk memulai memangkas sikap buruk seorang Esteban. (Ini hanya pendapat pribadi saya, tentu ada juga akan melihat usaha lain dari Allende)  

Blanca sebagai anak pertama dari Clara dan Esteban yang kemudian melahirkan Alba dari hubungan yang tidak direstui oleh Esteban. Pada titik inilah, usaha Isabel Allende mengikis perangai kasar Esteban pun dimulai, namun terlihat keras dan sulit untuk merubah apa yang telah tertanam dan tubuh subur dalam kepala Esteban. Sulit untuk menghadapi lelaki seperti Esteban, lelaki yang terus menerus memaksa dan menciptakan kuasa di mana-mana. Hingga tiba ketika Clara melakukan perlawanan dengan menjadi bisu dan mengabaikan suaminya itu lantaran telah menyiksa Blanca. Menyiksa Blanca yang telah dianggap mempermalukan keluarga dengan menjalin hubungan bersama seorang lelaki hina di mata Esteban. Keberanian Clara tidak sepenuhnya diterima oleh Blanca, puncak segala perlawanan barulah diwariskan secara utuh kepada Alba. Alba pulalah yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan perubahan setelah melewati proses dan peristiwa yang luar biasa.


Bagaimana pun, perubahan Esteban serta kemelut yang ada membiarkan Alba terus berjuang dan merenungi banyak hal. Beberapa kali tercipta pengulangan peristiwa yang kemudian membuat Alba mulai tak percaya akan masa lalu, sekarang dan masa depan. Ia berspekulasi bahwa sesuatu itu berada dalam satu masa yang kemudian terus saling terhubung dan terulang. Bahwa setiap cerita akan menyimpan makna dalam suatu keseluruhan itu sendiri.