"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Sunday, July 23, 2017

Bertemu Kawabata dan Freud

9:38 AM Posted by Wawan Kurn 1 comment

Ada kalanya saya meragukan 144 sks yang saya dapatkan di kampus, dan saya rasa, seperti itulah kenyataannya. Ada keraguan yang terjaga dan rasa ingin tahu yang tak terpenuhi akibat kemalasan. Kemelut seperti ini menjengkelkan, tapi keseriusan untuk belajar atau menikmatinya, mungkin adalah akar masalah yang belum bisa saya jelaskan dengan baik. Sebagai mahasiswa fakultas psikologi, jika harus membeberkan daftar dosa dari ketidakmampuan menikmati proses belajar, saya rasa itu akan menjadi sesuatu yang mengerikan dan tidak penting. Kalau pun nanti jadi penting, semoga tidak dalam waktu dekat ini.

Hal baik yang saya dapatkan dari ilmu psikologi adalah saya belajar tentang manusia, di sana manusia seperti bunga mawar yang baru mekar, dan kadang pula manusia menjelma sebagai serigala kelaparan yang terus mengincar mangsanya. Di tengah kemungkinan saya membenci manusia, pelajaran di psikologi membuat saya perlahan melihat berbagai keunikan dari manusia. Dan Sigmund Freud, menjadi salah satu tokoh yang sangat keras kepala dalam mempertahankan temuan-temuannya. Dari dirinya, saya belajar beberapa hal yang belum tuntas terjelaskan.

Kemarin, saat saya membaca ulang cerpen “Tahi Lalat” dan “Sang Juru Makam” entah mengapa saya teringat dengan konsep yang ada di kepala Freud. Sebenarnya, saya membaca ulang untuk membuat review lengkap untuk promosi buku “Daun-daun Bambu” di toko buku online Bookslab (silakan di follow ya terus pesan buku-buku kerennya...)  tapi jadinya seperti ini.

*

Pengalaman-pengalaman tokoh dalam dua cerpen Kawabata itu sebenarnya adalah bentuk penjelasan yang menarik. Saya kadang membayangkan, di kelas psikologi, para dosen mulai mengajak mahasiswa untuk gemar membaca sastra dan belajar menikmati kemungkinan cerita dan karakter tokoh dari sana. Tentu itu akan jauh lebih menyenangkan. Tapi, bisa jadi ini hanya berlaku untuk orang-orang tertentu. Berhasil atau tidaknya, saya belum bisa jawab. Tapi ini patut dicoba! Saya sempat membayangkan itu (dulu saat saya ingin jadi dosen) dan jika saya saya tidak berhasil mewujudkan itu, semoga saja ada dosen lain yang memikirkan cara itu.

Di cerpen “Tahi Lalat” terlihat kemampuan Kawabata dalam menciptakan kekuatan melalui hal remeh yang kadang kita abaikan, tahi lalat. Adanya tahi lalat itu membuat si tokoh utama terus mengenang sekaligus mendapat masalah dari kebiasaannya memainkan tahi lalatnya. Ada masalah dengan suami dan pertanyaan masa lalu untuk ibunya. Yang menyenangkan adalah, Kawabata membuat cerita ini berpindah dan melapisinya dengan ingatan-ingatan yang menurut Freud akan tertimbun dan terjaga dalam alam bawah sadar. Dan juga “Sang Juru Makam” tokoh utama yang hidup dalam kesendiriannya, ingatan terus membawanya pada pengalaman-pengalaman mengunjungi berbagai pemakaman. Ia juga terlatih untuk merasakan kesedihan, memahami makna lain dari kematian. Sebagai mahasiswa yang pernah dapat nilai yang baik pada bahasan tentang psikoanalisis, saya berharap bisa menulis cerpen serupa. Tapi ya... mungkin tak sebaik Kawabata. Atau mungkin Kawabata muncul dan membaca cerpenku lalu dia akan bilang, “Hmm... terlalu biasa-biasa saja” 

Aduuuh. Saya tulis tentang mimpi saja kalau begitu. Mimpi kalau saya jadi penulis dan saat terbangun, Kawabata datang lagi “Kau perlu lebih banyak mimpi selain malam dan kesedihan” dan setelah itu Freud mengetuk dari jendela, “Bakar saja buku The Interpreation of Dream itu, lalu kau tulis ulang mimpimu!”

     

Friday, July 14, 2017

Allende dan Cerita Tiga Generasi

11:12 AM Posted by Wawan Kurn , No comments
 
Isabel Allende, 2 Agustus 1942

Clara menjadikan novel “The House of Spirits” benar-benar terasa menarik. Ia juga menjadi simbol perlawan perempuan dalam menghadapi kerasnya watak dominan seorang lelaki. Dari berbagai kemampuan yang dimiliki Clara, saya merasa pusat kekuatan Magical Realism novel ini ada pada kehadiran Clara beserta keganjilan-keganjilannya. Perangai kasar suaminya, Esteban menjadi sebuah aliran panjang yang salah satu sebabnya adalah sikap politik yang ia pegang dan yakini. Karakter Esteban yang kemudian dipertemukan dengan Clara menciptakan percik menarik untuk terus menikmatinya. Dan konon, tokoh Clara yang merupakan seorang cenayang, merupakan cerminan tokoh dari nenek si penulis (Isabel Allende) sendiri yang juga seorang cenayang.  

Apa yang terjadi jika Clara, seorang perempuan yang tenang harus menghadapi serta menjalani kisah rumah tangga dengan seorang lelaki perangai kasar yang kaya raya? Perangainya yang buruk didukung dengan kekayaan Esteban yang melimpah, membuatnya terus melakukan apa saja yang ia inginkan. Akan tetapi, di novel ini pula, Isabel Allende seperti tengah mengikis perangai kasar dari seorang Esteban. Kekejaman serta sikap keras kepala yang telah dipertontonkan Esteban selama puluhan tahun pada akhirnya melewati tiga generasi mulai dari Clara, Blanca, dan Alba. Perjalanan itulah yang menjadi ruang bagi Allende untuk memulai memangkas sikap buruk seorang Esteban. (Ini hanya pendapat pribadi saya, tentu ada juga akan melihat usaha lain dari Allende)  

Blanca sebagai anak pertama dari Clara dan Esteban yang kemudian melahirkan Alba dari hubungan yang tidak direstui oleh Esteban. Pada titik inilah, usaha Isabel Allende mengikis perangai kasar Esteban pun dimulai, namun terlihat keras dan sulit untuk merubah apa yang telah tertanam dan tubuh subur dalam kepala Esteban. Sulit untuk menghadapi lelaki seperti Esteban, lelaki yang terus menerus memaksa dan menciptakan kuasa di mana-mana. Hingga tiba ketika Clara melakukan perlawanan dengan menjadi bisu dan mengabaikan suaminya itu lantaran telah menyiksa Blanca. Menyiksa Blanca yang telah dianggap mempermalukan keluarga dengan menjalin hubungan bersama seorang lelaki hina di mata Esteban. Keberanian Clara tidak sepenuhnya diterima oleh Blanca, puncak segala perlawanan barulah diwariskan secara utuh kepada Alba. Alba pulalah yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan perubahan setelah melewati proses dan peristiwa yang luar biasa.


Bagaimana pun, perubahan Esteban serta kemelut yang ada membiarkan Alba terus berjuang dan merenungi banyak hal. Beberapa kali tercipta pengulangan peristiwa yang kemudian membuat Alba mulai tak percaya akan masa lalu, sekarang dan masa depan. Ia berspekulasi bahwa sesuatu itu berada dalam satu masa yang kemudian terus saling terhubung dan terulang. Bahwa setiap cerita akan menyimpan makna dalam suatu keseluruhan itu sendiri. 

Sunday, July 9, 2017

Pertanyaan Pada Diri Sendiri dari Dag Solstad

7:22 AM Posted by Wawan Kurn No comments



D
ag Solstad dalam buku “Aib dan Martabat” menceritakan Elias Rukla sebagai tokoh utama dengan cerita yang dimulai di musim gugur. Senin pagi di bulan Oktober, dia melakukan rutinitasnya bersama seorang istrinya. Salah satunya adalah mengucapkan “sampai jumpa” dengan begitu tulus dan ramah tamah yang tampak menyenangkan. Padahal kondisi itu tidak menampakkan kondisi mereka yang sebenarnya. Mereka menetap di Oslo, ibukota Norwegia. Sebagai seorang dosen sastra yang berusia 50 tahun, Elias memiliki hidup yang rumit.
Cerita dengan cepat berpindah ke dalam kelas. Pembaca secara tidak langsung akan merasa berpindah ke ruang kelas yang murung. Di tengah 29 remaja berusia 18 tahun, Elias meminta mereka mempelajari karya Itik Liarkarya salah seorang penulis yang bernama Henrik Ibsen. Dan di saat yang bersamaan, Elias mesti menanggung atmosfer yang diberikan dari siswa-siswanya. Kondisi kelas tidak lagi sepenuhnya menyenangkan dan itu disadari olehnya, namun demikian semua itu adalah kewajibannya sebagai seorang guru.
Kebosanan siswa dipaparkan melalui kondisi kelas yang telah menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk membahas karya Itik Liar dari Henrik Ibsen selama lebih dari sebulan. Dan pada hari itu, mereka masih ada pada bagian pertengahan. Siswa yang mengikuti mata pelajaran Bahasa itu, merasa begitu penat. Namun berbeda dengan Elias yang telah mengajarkan materi itu selama 25 tahun. Ia telah mengetahui kondisi kelas dan memahami apa yang terjadi pada remaja usia 18 tahun yang mesti menerima materi karya sastra Norwegia klasik. Pada bagian ini, Solstad memunculkan sebuah kritik akan kurikulum pendidikan yang dia anggap keliru. Materi SMA seharusnya tepat dan tidak seperti materi yang didapatkan mahasiswa. Apa daya, sistem pendidikan Norwegia memiliki target mutu tertentu hingga mengharuskan siswanya mengalami kondisi serupa.
Bermula pada bagian itu, Elias pun mengenang dirinya di masa lalu. Bagaimana ketika ia ikut merasa bosan dengan mata pelajaran dan materi yang sama. Serta pengenalan dan pengalamannya mempelajari karya-karya Ibsen seperti Peer Gynt, Brand, hantu-hantu, Hedda Gabler, Rosmersholm, dan Ketika Kita yang Telah Mati Bangkit. Baru setelah itu, sederet penulis Norwegia pun disebutkan sebagai gambaran selera dari tokoh dalam buku ini. Sebut saja, Bjornson, Kielland, Garborg, Hamsun, Vesaas, Mykle dan lain-lain.
Pada bagian selanjutnya, Elias pun bertemu dengan seorang teman yang berasal dari Jurusan Filsafat, Universitas Oslo yang bernama Johan Corneliussen. Mereka bertemu pertama kali dalam kuliah tentang Wittgenstein, dan Johan bertanya di sesi akhir. Pertanyaan itu membuat sang dosen sempat terdiam dan membuat Elias tertarik. Johan dianggap sebagai mahasiswa filsafat dengan masa depan gemilang bersama tesisnya tentang Immanuel Kant. Persahabatan mereka pun berlanjut.
Diri Elias menjadi lebih bergairah setelah mengenal Johan. Mereka menikmati sejumlah hal, musik, hoki es, sastra, film, sepakbola, iklan, politik, toko buku antic, klub film, dan pertandingan seluncur. Hingga pada akhirnya, Eva Linde datang dan menarik perhatian mereka berdua. Tidak seperti cinta segitiga pada umumnya, hubungan mereka berjalan berbeda. Johan menikah dengan Eva dan menjalani kehidupan yang bahagia, sementara Elias diam tak pernah mampu mengungkapkan perasaannya kepada Eva.
Namun ada masa ketika Johan telah memiliki satu orang anak dan ia mengalami masalah berat. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan istri dan anaknya. Hingga akhirnya, Elias pun datang menyelamatkan hidup Eva dan anaknya. Mereka pada akhirnya menikah dan menjalani hidup seperti keluarga pada umumnya. Meski, Elias harus menerima kenyataan bahwa dalam relung hati terdalam Eva, Johan tak pernah benar-benar pergi. Hingga usia senja, Elias dipenuhi pertanyaan dan keraguaan akan balasan kasih sayang yang ia terima dari Eva. Konflik sepasang suami istri tentu saja terjadi, namun bagaimana pun mereka telah dewasa dalam bersikap. Tantangan berat dari Elias adalah konflik melawan kondisi di luar dirinya yang tak mampu ia terka. Ditambah lagi dengan kasih sayang yang hanya bersifat rutinitas dengan seseorang perempuan yang kiranya dapat menjadi istri namun tetap pada posisi kawan semata, tidak lebih.
Solstad telah menggambarkan bagaimana tokoh Elias terjebak dalam ketiadaan di kelas hingga di keluarga kecilnya. Sepertinya, berada pada posisi Elias secara langsung menjebak kita untuk senantiasa memberi pertanyaan pada diri sendiri. Mengajukan sejumlah pertanyaan yang menguji apakah kita benar-benar ada di lingkungan kita atau hanya sesuatu yang bersifat nihilisme.

Tulisan di atas juga dimuat di Rubrik Budaya Kolom Apresiasi, Koran Fajarpada tanggal 11 Juni 2017.

Thursday, June 8, 2017

Para Pembunuh dan Kompas; Cerpen Hassan Blasim

4:52 AM Posted by Wawan Kurn No comments


Abu Hadid memeriksa yang tersisa di botol arak. Ia dekatkan wajahnya padaku dan, dengan ketenangan dari seseorang yang amat candu dengan ganja, ia memberiku nasihat: “Dengar, Mahdi. Aku telah melihat berbagai macam masalah dalam hidup, dan aku paham cepat atau lambat aku akan mendapat kesialan. Kau masih enam belas tahun, dan hari ini aku akan mengajarimu bagaimana menjadi seekor singa. Di dunia ini kau butuh untuk lebih pandai bersiasat. Bagaimanapun kau mati hari ini atau pada usia tiga puluh tahun, bagiku itu tak ada bedanya. Kau pikirkan masalah hari ini dan apalagi jika kau dapat melihat ketakutan di mata tiap orang. Orang-orang yang takut akan memberikan segalanya padamu. Jika seseorang datang untuk memberitahumu, ‘Tuhan melarang itu’ atau ‘Itu salah,’ misalnya, tendang saja pantatnya, sebab tuhan yang mereka katakan hanyalah omong kosong. Bahwa tuhan mereka, bukan tuhanmu. Kau adalah Tuhanmu untuk dirimu sendiri, dan hari ini adalah milikmu. Tuhan tak akan ada tanpa orang-orang yang menyembahnya atau orang lemah yang rela mati kelaparan atau menderita atas namanya. Kau harus belajar cara untuk menjadikan dirimu sebagai Tuhan di dunia ini, sehingga orang-orang itu menjilat pantatmu sembari kau tetap membuang kotoranmu di kerongkongannya. Hari ini aku ingin kau diam saja, bahkan kau tak perlu mengeluarkan sepatah kata pun. Kau mesti menemaniku, bisu seperti anak domba. Kau paham, goblok?”
Ia lemparkan botol arak ke arah dinding dan tiba-tiba mengenai hidungku dengan keras.
Kami berjalan dalam kegelapan melewati jalan setapak yang berlumpur. Sejumlah rumah yang porak-poranda setelah diserang badai merasakan napas mereka. Di dalamnya orang-orang tengah tertidur dan bermimpi. Seluruhnya tampak basah kuyup dan menyedihkan. Angin yang senantiasa berembus pada segala lorong jalan kecil sepanjang malam jadi begitu kencang, hingga akhirnya terasa begitu dingin mencekam — pemukiman yang murung ini di mana aku menghabiskan hidup dan kelak akan mati. Sering kali aku membayangkan bagaimana secara turun-temurun keluarga ibuku tinggal di pemukiman ini. Terlihat begitu menyengsarakan. Aku bahkan tak mampu memahami keberadaan ibuku sebagai seorang manusia. Ia selalu menangis dan meratap di sudut dapur seperti anjing yang terikat penuh siksa. Ayahku akan menyerang ibuku lalu menghujani cercaan, dan ketika ibu kehilangan kesabarannya, ia akan merengek dengan suara keras, “Tuhan, mengapa? Mengapa? Cabutlah nyawaku dan selamatkan hambamu.”
Dan jika seperti itu ayahku akan berdiri, mengambil tali dari sorban di kepalanya, dan mencambuk ibuku tiada henti selama setengah jam, lalu meludahinya terus-menerus.
Hidungku mengeluarkan darah. Aku menahan kepalaku sembari tetap mengikuti langkah bersama Abu Hadid. Aroma ikan yang dibumbui tercium dari jendela rumah Majid seorang polisi lalu lintas. Ia mesti telah mabuk berat hingga menggoreng ikan di tengah malam seperti ini. Kami masuk melewati jalan berliku yang sempit. Abu Hadid memungut sebuah batu dan melemparkannya ke dua ekor kucing untuk menghentikan perkelahian di atas tumpukan sampah. Mereka kemudian melompat ke dalam jendela rumah kosong Abu Rihab yang ditinggalkan. Sampah yang menumpuk hampir mencapai atap rumah. Pemerintah telah mengeksekusi Abu Rihab dan menyita rumahnya. Mereka mengatakan jika keluarganya kembali di negara asal mereka. Abu Rihab mempunyai hubungan dengan partai Daawa yang terlarang. Setelah setahun dari siksa dan interogasi dalam sejumlah tempat dinas militer, ia dikenal sebagai seorang pengkhianat dan ditembak mati. Hal yang mustahil dilupakan adalah fisik serta kecantikan putrinya, Rihab. Ia serupa tiruan dari seorang Jennifer Lopez dalam film “U Turn”. Aku telah melihat banyak film di rumah Abbas, penyair yang tinggal di dekat rumah. Ia punya film yang tidak akan disaksikan dalam televisi nasional selama kurun waktu seratus tahun lamanya. Sebagian besar pemuda mencoba mendekati Rihab dengan sejumlah surat cinta, tapi ia benar-benar orang bodoh yang tak memahami sesuatu hal sama sekali selain menyiram halaman gedung dan mencuci tangan ayahnya yang seorang anggota partai Daawa sebelum ayahnya berdoa.
Abu Hadid, saudaraku yang terlihat seperti raksasa, berhenti di depan pintu rumah Umm Hanan. Ia seorang janda dari Allawi Shukr, dan orang-orang sekitar mencerca sosoknya dan memberi panggilan baru menjadi Hanan Aleena, yang bermakna “gampangan”. Kami masuk ke dalam dan duduk di kursi kayu dengan sandaran yang kurang nyaman. Umm Hanan meminta seorang putrinya untuk membersihkan wajahku dan mengurusiku. Putrinya lalu menyumbat hidungku dengan kapas. Umm Hanan punya tiga anak gadis yang cantik, semuanya mirip seperti suster. Kakakku tidur bersama Umm Hanan. Kemudian ia bercinta dengan putrinya yang paling muda sebanyak dua kali. Setelah itu ia meminta Umm Hanan untuk bercinta denganku. Aku terkejut ia tidak meminta perempuan yang seumuran denganku. Lalu Abu Hadid merampas uang dan tiga bungkus rokok dari Umm Hanan, dan memberiku satu bungkus.
Kami kembali memulai perjalanan, berjalan sepanjang jalan berlumpur. Abu Hadid melangkah pelan, kemudian kembali mundur dan berhenti di pintu Abu Mohammed, seorang montir mobil. Ia menggedor pintu menggunakan kakinya. Seorang lelaki datang dengan membawa gamis putih dengan perutnya yang gendut. Matanya melotot seolah hendak keluar dari kepala kala Abu Hadid menyapanya. Aku dan teman-temanku memanggilnya “tikus kecil yang menelan semangka”. Ia kadang memberikan beberapa pil sebagai hadiah untuk diriku dan beberapa teman sepulang dari menusuk ban-ban mobil di pemukiman, agar bisnisnya tetap berkembang. Kami akan tawar-menawar dengannya tentang seberapa banyak pil demi jumlah banyaknya ban yang kami letuskan. Kakakku memerintahkanku untuk melepas baju yang berlumuran darah dan mengatakan kepada montir untuk mengambilkan baju yang bersih. Si tikus kecil amat patuh dan kembali dengan kaus biru beraroma sabun. Kaus itu milik anaknya, seorang mahasiswa di perguruan tinggi kedokteran, yang terlihat masih baru. Aku terkejut kausnya sesuai dengan ukuranku. Kakakku membungkuk dan berbisik di telinga montir, dan wajah montir itu seketika berubah lebih gelap dari biasanya.
Kami menyeberangi jalan utama menuju pemukiman lainnya. Sepanjang jalan aku bertanya-tanya apa yang telah dibisikkan Abu Hadid di telinga si tikus kecil itu. Abu Hadid terbatuk dengan suara keras, dan dadanya terengah seperti traktor tua milik pamanku. Dia tak mengatakan sepatah kata pun saat di jalan. Dia menyalakan dua batang rokok pada saat yang sama dan menawarkan satu untukku. Saat itu sudah lewat tengah malam. Aku tak tahu siapa saja yang tinggal di pemukiman ini, selain seorang anak menjengkelkan yang pernah satu sekolah dengan kami. Dia pernah memukulku, dan aku tidak pernah berniat balas dendam dengan menusuk pantatnya dengan jariku. Ketika ia tahu jika aku adalah adik Abu Hadid, ayahnya datang ke sekolah dan memintaku untuk memukuli anaknya.
Orang-orang amat ketakutan dengan kebrutalan kakakku yang tak masuk akal. Reputasi kekejamannya tersebar di seluruh kota. Dia akan membingungkan polisi dan badan keamanan lainnya selama bertahun-tahun hingga suatu hari, ia dihukum mati di depan umum. Bahkan musuh-musuhnya meratapi dia ketika hal yang buruk itu terjadi. Kadang selama hidupnya ia membela orang-orang dengan melawan kekejaman partai yang berkuasa, misalnya. Abu Hadid tidak membedakan antara yang baik dan yang jahat. Dia memiliki setan pribadinya sendiri. Setelah ia melemparkan sebuah granat tangan di kantor partai ketika “kamerad” mengeksekusi seseorang yang telah menghindari wajib militer. Lain waktu ia pernah memutilasi wajah seorang pedagang sayur, hanya karena dia mabuk dan dia merasa ingin melakukan hal seperti itu. Abu Hadid sering kali berbuat onar seperti itu selama delapan tahun, sampai suatu hari Johnny tukang cukur menghentikannya. Pada malam kejadian itu Abu Hadid sedang meniduri putri Johnny di loteng rumahnya. Polisi mengelilinginya dan menembaknya di kaki. Mereka mengeksekusinya seminggu kemudian. Ibuku dan tujuh adikku meratapinya selama satu tahun, tapi ayahku begitu lega setelah terbebas dari kejenakaan anak yang bandel.
Abu Hadid mengetuk pintu berkarat yang masih memiliki beberapa bintik cat hijau, berbentuk seperti katak, di atasnya. Kami diterima oleh seorang pria berusia empat puluhan dengan kumis tebal yang menutupi giginya ketika ia berbicara. Kami duduk di ruang tamu di depan televisi. Aku menyimpulkan bahwa orang itu hidup sendiri. Dia pergi ke dapur dan kembali dengan sebotol arak. Dia membukanya dan menuangkannya ke gelas. Kakakku memintanya untuk menuangkan satu untukku. Kami duduk dalam diam, bersama pria itu aku menyaksikan pertandingan sepak bola antara dua tim lokal, sementara kakakku menatap ke dalam tangki ikan kecil.
“Apakah kau pikir ikan senang di dalam tangki?” tanya kakakku, tenang dan serius.
“Selama mereka makan dan minum dan berenang, mereka baik-baik saja,” jawab orang itu, tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
“Apakah ikan minum air?”
“Tentu saja. Mereka minum.”
“Bagaimana ikan bisa minum air asin?”
“Tentu mereka punya cara. Bagaimana bisa mereka bisa berada dalam air dan tidak minum?”
“Jika mereka berada di air, mungkin mereka tak perlu minum.”
“Kenapa kau tidak bertanya langsung pada ikan yang di dalam tangki itu?”
Sebelum pria botak itu menoleh dan menatapnya, kakakku lebih dulu melompat di atasnya seperti harimau lapar. Dia melemparkannya ke lantai, berjongkok di atas dadanya, dan menjepit kedua lengannya ke celah lipatan lutut kakakku. Dalam sekejap ia mengambil pisau kecil dari sakunya, meletakkannya dekat dengan mata orang itu, dan mulai berteriak histeris di hadapan wajahnya, “Jawab, kau bajingan! Bagaimana bisa ikan minum air asin? Jawab, kau bangsat! Jawab! Bagaimana bisa ikan minum air asin? Jawab, bodoh!”
Abu Hadid menyumbatkan mentimun di pantat pria itu dan kami meninggalkan rumahnya. Aku tak akan pernah mengerti apa yang terjadi antara pria itu dan kakakku. Kami menuju tempat parkir. Seorang pemuda kurus, setahun lebih muda dari kakakku, tengah bersandar pada Chevrolet Malibu merah tahun tujuh puluhan. Dia memeluk kakakku dengan hangat, dan aku merasa bahwa Abu Hadid dan dia adalah teman sejati. Kami berangkat menggunakan mobil itu, merokok dan mendengarkan lagu populer tentang seorang kekasih yang hendak berpisah. Kami masuk jalan raya menuju pinggiran kota. Abu Hadid mematikan radio tape, berbaring di tempat duduknya, dan berkata, “Murad, ceritakan pada adikku cerita tentang anak Pakistan itu.”
“Tentu, tak ada masalah,” jawab Murad Harba.
“Dengar, Mahdi. Beberapa tahun yang lalu aku mengambil risiko dan melarikan diri ke Iran. Aku berpikir untuk pergi dari tempat itu dan menetap di Turki dan melupakan negara yang hancur ini. Aku tinggal di sebuah rumah kumuh di utara Iran, dengan orang-orang yang datang dari Pakistan, Afghanistan, dan Irak, dan dari mana pun tuhan melacurkan buminya. Kami menunggu mereka yang akan menyerahkan kami kepada orang pribumi penyelundup Iran yang akan membawa kita melintasi perbatasan pegunungan. Di situlah aku bertemu anak Pakistan itu. Dia seumuran denganmu, anak baik, muda dan sangat tampan. Dia berbicara sedikit bahasa Arab, tapi ia telah hafal al-Qur’an. Dia selalu merasa takut. Dan dia memiliki benda aneh di tangannya: kompas. Dia akan meletakkan di telapak tangannya seolah seperti kupu-kupu dan menatapnya. Lalu ia akan menyembunyikannya dalam kantong khusus yang tergantung di lehernya seperti liontin emas. Dia gantung diri di kamar mandi sehari sebelum petugas keamanan Iran menyerbu rumahnya. Mereka mendorong kami ke dalam penjara dan memukuli kami berulang kali. Ketika mereka selesai mempermalukan kami, kami mendapat kesempatan untuk bernapas lega dan mulai mengenal para tahanan lainnya. Salah seorang dari kami bercakap-cakap dengan seorang warga Irak muda yang sudah dipenjara karena menjual ganja. Ia lahir di Iran. Pemerintah mendeportasi keluarganya dari Baghdad setelah perang pecah dengan alasan bahwa ia memiliki kewarganegaraan Iran. Aku bercerita tentang anak Pakistan yang telah gantung diri. Pria itu benar-benar marah tentang anak miskin itu, ia katakan bahwa sebelumnya ia telah bertemu dengannya, bahwa ia seorang anak yang baik, dan dari dirinya ia tahu seluruh kisah tentang kompas itu.
“Pada tahun 1989 di kota Peshawar, Pakistan, Sheikh Abdullah Azzam, bapak spiritual jihadis di Afghanistan, sedang berada di mobil dalam perjalanan hendak beribadah di sebuah masjid yang sering dikunjungi oleh orang Afghan — Arab. Orang Arab yang pergi untuk berperang di Afghanistan. Mobilnya diledakkan karena melintasi jembatan di dalam beliung badai. Kedua anaknya tengah bersama dengan dirinya dan tercabik-cabik. Menurut muazin masjid, yang bergegas ke tempat ledakan, tubuh Azzam tampaknya tak tersentuh. Tidak ada goresan sedikit pun. Hanya ada hanya garis tipis darah mengalir dari tepi bibir Syekh yang sudah mati. Itu bencana yang mengerikan — al Qaeda dituduh membunuh para Syekh yang telah berdiri dengan menggunakan kekuatan dari Uni Soviet, mungkin untuk memberi mereka kekebalan hukum yang lebih besar sebagai sebuah organisasi.
“Sebelum banyak orang lain yang berkumpul, Malik sang muazin melihat kompas dekat dengan serpihan mobil. Ketika ia menyeka darah di kompas itu, ia merasa menggigil menjalar ke tulang punggungnya. Itu adalah kompas seorang tentara dengan ukiran nama Allah dan Muhammad di atasnya. Itu jelas bagi muazin sebagai kompas suci sang syekh, yang terberkati oleh Tuhan dan sumber dari segala mukjizat-Nya. Banyak mujahidin mengklaim bahwa kompas akan berubah menjadi merah darah ketika Tuhan memberi syarat baik atau buruk pada orang yang membawanya. Azzam tidak pernah berpisah dengan kompasnya itu sepanjang hidupnya selama berjihad. Malik kemudian menyembunyikannya di rumah selama sepuluh tahun. Ia membawanya keluar setiap malam, dipoles, dan melihat kompas itu, karena ia meneteskan air mata kesedihan kala kematian syekh sang mujahid.
“Sang muazin memberikannya pada sang anak, Waheed, dengan tulus seperti seseorang yang menjaga sebuah permata yang berharga dalam busananya. Waheed telah memutuskan untuk menyelundup masuk ke Inggris. Dia mungkin menemui sebuah keberuntungan, membantu keluarganya, dan belajar untuk menjadi seorang dokter. Sang muazin mengatakan pada anaknya Waheed tentang rahasia kompas dan menyarankan dia untuk menjaganya dengan segenap hidupnya. Dengan keteguhan iman, ia mengatakan kepadanya bahwa kompas itu akan membantunya dalam perjalanannya dan sepanjang hidupnya, dan bahwa itu adalah hal yang paling berharga yang bisa seorang ayah berikan pada anaknya. Waheed tidak menyadari kekuatan kompas dan pengaruhnya, dan ia tak tahu banyak hal tentang saat-saat sakral dan khusus ketika kompas berubah menjadi merah untuk memperingatkan baik atau buruk, tetapi kepercayaan ayahnya membuat Waheed menghargainya. Kompas itu kemudian menjadi tak terpisahkan dari pemiliknya.
Waheed tiba Iran dan tinggal di rumah-rumah bobrok yang diurusi oleh para penyelundup. Ia harus bekerja selama enam bulan untuk menyimpan cukup uang demi menyeberang ke Turki. Suatu hari ia pergi keluar dengan enam anak muda Afghanistan untuk bekerja pada konstruksi bangunan. Seorang pria kaya raya asal Iran menjemput mereka dengan truk kecil dan membawa mereka ke pinggiran kota, di mana ia membangun sebuah rumah besar di tengah ladangnya. Mereka bekerja dengan harga murah. Pria itu menurunkan mereka di ladangnya dan meminta mereka untuk membersihkan batu bata, plester, karung, dan kayu yang tersisa dari bangunan tersebut. Perjanjiannya adalah bahwa pemilik akan kembali menjelang malam dan membawa mereka kembali ke kota. Dia memberi mereka setengah dari upah mereka di awal dan menyarankan mereka untuk menyelesaikan pekerjaan dengan benar. Waheed dan orang-orang Afghanistan bekerja dengan lamban dan malas sepanjang hari. Ketika matahari terbenam mereka semua berdoa dan kemudian duduk untuk bersantai di salah satu kamar besar. Mereka menuangkan jus, melinting rokok, dan mulai bercakap tentang rute penyelundupan ke Eropa. Sesekali pemuda Afghanistan akan memberikan Waheed penghinaan yang buruk. Pemilik rumah datang terlambat. Orang-orang Afghanistan memutuskan untuk melewatkan waktu dengan memainkan taruhan sebuah tipu daya yang amat licik. Terdapat sejumlah drum berisi air, dan di samping ada beberapa karung semen. Mereka mengatakan pada Waheed bahwa permainannya adalah mereka akan mencampur semen dengan air dalam sebuah tong dan semua orang dalam kelompok akan meletakkan tangannya dalam campuran sampai dengan siku, dan siapa pun yang berhasil bertahan lebih lama akan mendapatkan sejumlah uang. Mereka menyarankan Waheed yang pertama. Penuh gembira dan keluguannya, Waheed berdiri dan mencelupkan lengannya ke dalam campuran semen itu. Dalam beberapa menit semen mengeras dan lengan Waheed terjebak di dalam tong. Orang-orang Afghanistan lalu melucuti celana Waheed dan satu per satu menyodominya.”
Kami telah menghabiskan sembilan batang rokok sambil mendengarkan cerita tentang anak Pakistan itu. Murad Harba mengisahkan ceritanya dalam sekali cerita, kemudian minum dari botol air di sampingnya, lalu mengutuk Tuhan. Abu Hadid mengambil pistolnya keluar dari sabuk dan mengisinya peluru. Cerita tentang anak Pakistan itu tak berpengaruh padaku. Aku terpesona dengan sahabat dari kakakku, Abu Hadid dan dengan kesempatan untuk masuk pada berbagai dunianya. Kami berhenti di sebuah taman yang luas dengan pepohonan yang meranggas seperti tentara yang menjelma jadi batu. Murad mematikan mesin. Jantungku berdebar, dan aku penasaran untuk mencari tahu apa yang akan mereka lakukan di kegelapan taman yang dingin ini. Jelas kami tidak datang jauh-jauh hanya untuk mendengarkan cerita tentang anak Pakistan itu. Kami keluar dari mobil. Abu Hadid melihat sekeliling sementara Murad Harba membuka bagasi mobil dan mengambil penggaruk dan sekop. Abu Hadid memerintahkanku untuk membantu Murad menggali. Darahku mulai berkejaran dengan kegembiraan serta rasa takut. Abu Hadid, dengan otot yang kuat, membantu penggalian. Kami mulai berkeringat. Tanah itu keras. Akar-akar kusut pohon dan batu besar menghambat pekerjaan kami. Sebelum kami punya waktu untuk mengambil napas, Murad dan Abu Hadid kembali ke bagasi mobil, sementara aku berdiri di dekat lubang, bingung seperti orang tuli di sebuah pesta pernikahan. Mereka mengambil seorang pria, terikat dan tersumbat, keluar dari bagasi dan menyeretnya di sepanjang tanah menuju lubang galian itu. Kakakku mengatakan kepadaku untuk mendekat dan melihat ke dalam mata pria itu. Terlihat ketakutan, aku merekam kuat dalam ingatku seolah dicap besi. Abu Hadid menendang punggung, dan pria itu lalu merosot ke dalam lubang. Kami menimbunnya dengan pasir di atasnya dan kemudian meratakannya dengan tanah.
Abu Hadid menjambak dengan keras rambutku dan berbisik di telingaku:
“Sekarang kau adalah Tuhan.”

*Cerpen ini saya terjemahkan dari buku The Corpse Exhibition And Other Stories Of Iraq karya Hassan Blasim.