Catatan Setelah Membaca Knut Hamsun

Di bulan Agustus, Knut Hamsun lahir. Salah seorang penulis asal Norwegia. Saya baru saja menyelesaikan Victoria, setelah sebelumnya pernah membaca Hunger (Lapar) dan Pan. Bagi saya, membaca karya Knut Hamsun telah mengajarkan sejumlah hal yang menarik. Salah satunya adalah kemampuan Knut Hamsun dalam membentuk dan menciptakan perang terhadap diri sendiri. Perasaan paling dalam dari tokoh selalu berusaha menembus ruang pikiran dan perasaan. 

Bukan tak mungkin, jika para pembaca kemudian menyalurkan dan membiarkan diri mereka merasakan apa yang terjadi. Tugas penulis telah berhasil menciptakan ruang baru dan dengan tokoh yang dituliskan, semua menjadi jauh lebih terasa. Ketiga novel itu boleh saya sebut sebagai novel psikologis. 

Tiga karya Knut Hamsun yang saya baca seluruhnya bercerita sebagai seorang penulis. Menulis benar - benar menjadi jawaban dari setiap masalah yang ditemukan tokoh utama. Sepertinya, Hamsun juga menggali ide dari serangkain persitiwa nyata yang dia alami. Beberapa pengalaman hidupnya diubah menjadi karya. Mungkin itu sebabnya, Knut Hamsun terbilang produktif. 

Sekiranya, saya hendak melanjutkan membaca dan melihat Hamsun di karya - karya selanjutnya. Saya juga belum membaca karya yang kemudian membawanya menerima penghargaan Nobel Sastra. Beberapa orang sering merekomendasikan karya Knut Hamsun yang berjudul Lapar untuk dijadikan bacaan wajib bagi mereka yang ingin menjadi penulis. Di luar sana, masih ada banyak karya Hamsun yang patut untuk dibaca. Semoga saya atau anda, sempat menemukannya.   

3 comments:

Powered by Blogger.