Menyambut Salju



Sebentar lagi hijau rumput akan berpayungkan salju. Pohon-pohon di pinggir jalan telah melepas seluruhnya daun-daunnya, hingga ranting seolah berubah menjadi tangan-tangan yang berdoa. Semenjak tiga hari yang lalu, 29 November tepatnya, salju hadir menyapa. Beberapa hari sebelum salju di Charlottetown tiba, aku melihat teman-teman yang ada di grup Halifax, Truro merayakan kedatangan salju dengan berfoto ria, bahkan mengabadikannya dalam video. Salju datang ebih cepat di Truro dan Halifax, sepertinya kedatangan salju menjadi bagian yang dinanti, terebih bagi peserta yang akan menjadikan hari itu pengalaman pertama bertemu salju. Termasuk aku, 



Aku menyambut salju cukup dengan senyuman, mengintipnya lewat jendela belakang. Saat baru terbangun dan melihat halaman belakang berubah warna menjadi putih. Suhu yang dihadiahkan nantinya akan sedikit menjadi tantangan bagi aku, dan peserta lainnya. Sekitar seminggu terakhir, suhu bermain di bawah 0 derajat celcius. Sekarang saja, sudah mencapai -8 derajat celcius. Biasanya tidak secepat ini, sangat dingin. Bahkan ketika angin berhembus, suhu bisa mencapai -15 derajat celcius. 

Hal yang cukup menarik adalah berlari saat salju itu tiba, atau berlari di bawah suhu 0 derajat celcius. Aku dan Eliot kadang berlari saat kami terlambat. Kami mesti mengejar bus, datang tepat waktu dan menunggu bus. Hidungku merah, bibir menjadi kering, telapak tanganku mati rasa. Namun, semua tetap berjalan dengan baik.

Minggu ini, meskipun suhu kadang kurang bersahabat namun beberapa aktivitas mesti tetap untuk dijalani. Mulai dari tanggungjawab di Beach Grove Home, menjaga kantin yang ada di Beach Grove hingga minggu ini kami mendapatkan rekot tertinggi, melaksanakan Spageti Night, menjadi volunteer di berbagai tempat, mengikuti kelas Psikologi di Universitas Prince Edward Island dan terakhir mempersiapkan EAD. 

3 Desember, aku dan Eliot mesti menjelaskan sedikit tentang Globalisasi. Mencari bahan yang menarik, menjadikan topik itu terdengar sedikit lebih ringan. Aku dan Eliot bergantian menggunakan laptop. Jika Eliot menggunakan Laptop, maka aku akan melakukan sesuatu hal. Pertama, membaca buku yang ada di kamar, ada banyak pilihan yang kusiapkan daam kamar. Kedua, menyulam. Aku masih terus menyulam, belajar untuk bersabar dan teliti. Ketiga, bermain sudoku, bermain dengan angka-angka itu menyenangkan. Keempat, menuliskan sebait sajak, lalu chating. Dan yang terakhir, bermain dengan barbel yang beratnya masih ringan. 

Eliot mengajarkan aku sedikit olahraganya, dan aku tertarik.  

***
Malam minggu ini, aku dan Eliot mendapatkan kesempatan untuk hadir di Pameran Art Galery. Kevin dan Gwenth menyediakan tiket untuk kami. Disana kami bertemu dengan Dea dan Sophie yang menjadi volunteer di Art Galery. 

"Kamu tahu gak Wan berapa harga tiket?" tanya Dea

"50 dolar kan?" jawabku

"Ini tiketnya ada yang 150 Dolar dapat piring" 

"Semuanya orang kaya semua disini" tambahnya


Dea dan Sophie bercerita tentang tugas mereka sebelum event ini. Mereka menefon dan mengajak beberapa orang untuk membeli tiket dan ikut pameran. Angkat telfon, bercerita, menerima penolakan, atau disambut. Seperti itulah ringkasnya pekerjaan terakhir mereka.

Di pameran itu berjejer piring-piring yang telah di desain sedemikian rupa. Termasuk piring Gwenth yang menjadi permain kami saat di meja makan. Bersama mereka, aku sedikit demi sedikit belajar tentang seni yang mereka lakukan. 

Desember dan cerita yang masih akan berlanjut, salju mungkin akan semakin lebat. Tapi tak jadi masalah, semua punya seni. Yang bisa kutuliskan dalam sebait puisi. 

Mungkin akan ada puisi yang berjudul, "Puisi yang kedinginan" atau puisi tentang salju.



Semua akan tetap menyenangkan,




 Semoga. #optimism

2 comments:

  1. sungguh rasanya menyenangkan bila dapat berada diluar negeri...

    salam dari Lombok! :)

    ReplyDelete
  2. Weeeisss sedap banget bisa merasakan salju "asli" dinegeri orang :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.