Menjaga Optimisme


Pemuda dalam sejarah bangsa memiliki peran penting dalam menemukan irama kehidupan berbangsa dan bernegara yang semestinya. Berdirinya keyakinan untuk terlepas dari ikatan-ikatan penjajah muncul dari pemikiran-pemikiran intelektual muda yang memiliki integritas tinggi. 

Kongres Pemuda yang ke-2 di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, pada 28 Oktober 1928 menciptakan suatu kekuatan psikis yang membangkitkan keyakinan untuk melepaskan diri dari penjajahan.Indonesia tercetus dalam Kongres Pemuda sebagai nama bangsa yang kemudian dideklarasikan kelahirannya melalui tiga butir Sumpah Pemuda: Tanah Air, Bangsa, dan Bahasa Indonesia. Sumpah menjadi simbol sakral dari lahirnya suatu niat tulus ikhlas untuk menemukan kemerdekaan bangsa Indonesia. 

Dari butir tersebut terlihat rasa optimisme yang kuat dalam menopang keyakinan mewujudkan bangsa Indonesia.Duffy dan Awater (2002) berpendapat bahwa optimisme menjadikan individu mengetahui apa yang diinginkan.Individu tersebut dapat dengan cepat mengubah diri agar mampu menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi. Seligman (1995) menjelaskan optimisme adalah suatu pandangan secara menyeluruh, melihat hal yang baik, berpikir positif dan mudah memberikan makna bagi diri.

Individu yang optimistis mampu menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari yang telah lalu, tidak takut pada kegagalan dan berusaha untuk tetap bangkit mencoba kembali bila gagal. Optimisme mampu mendorong individu untuk selalu berpikir bahwa sesuatu yang telah terjadi adalah hal yang terbaik bagi dirinya. Namun, bagaimana kabar pemuda hari ini? Ketika bangsa tengah dilanda berbagai masalah, masihkah pemuda memiliki semangat Sumpah Pemuda? Masihkah mereka optimistis? 

Menjadi pemuda saat ini penuh dengan berbagai tantangan yang mesti dihadapi. Butir-butir sumpah pemuda menanamkan kekuatan harapan pada tahun 1928 untuk menerjang masa, berjuang mencapai kondisi yang semestinya dapat dirasakan. Penderitaan akibat penjajahan yang berlangsung lama mesti segera diselesaikan. Menggenggam martabat bangsa yang telah tertindas dan dihina menjadi tanggung jawab besar bagi pemuda. 

Hingga akhirnya, tiga poin penting yang terdapat dalam Sumpah Pemuda menjadi suatu fondasi yang kuat dalam menjaga jiwa bangsa Indonesia. Kembali merenungi dan melihat sejarah lahirnya Sumpah Pemuda tentu dapat menjadi energi positif untuk menemukan mozaik perjuangan yang sedikit demi sedikit mulai menghilang. Pemuda hari ini patut untuk berjuang dengan tekad yang lebih dibandingkan dengan pemuda 84 tahun yang lalu. 

Spirit perjuangan itu dapat ditemukan dengan kembali menggali sejarah. Bung Karno mengatakan,“Jangan sekali-kali Meninggalkan sejarah”.84 tahun lalu menjadi fondasi kokoh bangsa Indonesia, yang dilahirkan dari tangan para pemuda. Sekiranya, pemuda tetap menciptakan perubahan, melahirkan gagasan, serta menjalankan sebuah keyakinan atau optimisme guna menemukan kondisi yang lebih baik. Seperti halnya pemuda yang mengusung butir-butir Sumpah Pemuda, semoga hari ini pemuda tetap menjaga optimisme untuk bangsa Indonesia. Amin

Diterbitkan di Suara Mahasiswa, Koran Seputar Indonesia, 10 November 2012

1 comment:

Powered by Blogger.