Heidegger dan Puisi

Heidegger dan Puisi


Sejatinya puisi mampu menjadi ruang kesadaran maupun ketidaksadaran bagi seseorang. Di mana pada ruang tersebut, orang-orang akan melihat atau memahami kondisi mental yang terjadi pada dirinya. Meski seperti itu, tak mudah juga untuk melihat puisi atau menemukan karya yang benar-benar membawa kita pada pencapaian pengalaman psikologis yang benar-benar subjektif. Berangkat dari kepercayaan tersebut, sudah sepantasnya kita memandangi puisi sebagai bentuk pikiran manusia yang lahir dari gumpalan gagasan yang dipadatkan melalui kata-kata pilihan. Sebuah nuansa puitik patut diciptakan sebagai bentuk terbaik atas penciptaan puisi.

Martin Heidegger, seorang filsuf ternama asal Jerman dalam salah satu esainya berjudul What Call for Thinking, sempat membahas masalah puisi. Dalam esai tersebut, Heidegger mengutip puisi dari Friedrich Hölderlin. Salah seorang penyair yang dia kagumi pada masa itu. “Kita adalah tanda yang tak terbaca” begitulah petikan syair dari Hölderlin. Bagi Heidegger, puisi membawa kita pada ruang untuk menemukan cara untuk mengada. 

Puisi yang menawarkan berbagai kemungkinan pada akhirnya akan membawa kita menuju pemikiran terdalam. Heidegger bahkan bertanya, apa makanan yang tepat agar berpikir tetap ada? Di tengah kemelut hidup yang sangat rumit, kita meninggalkan aktivitas berpikir yang sebenarnya. 

Seseorang mampu mengada lantaran telah mengenali situasi batin yang dialami. Proses berpikir membawanya tiba pada ruang intim dalam dirinya sendiri. Puisi-puisi tanpa pergolakan batin akan sulit menemukan suaranya sendiri. Kita bisa melihat bagaimana Chairil Anwar dalam puisi-puisinya. Betapa suasana batinnya berubah menjadi kata-kata puitik yang segar dan kuat. Saya percaya bahwa setiap kata mewakili kondisi mental seseorang. Lalu puisi, hadir menjadi ruang penuh pintu yang ketika kita membukanya, hal-hal baru kembali mulai terlihat.

Melalui esai Heidegger, puisi dijelaskan sebagai cerminan mental seseorang. Sesuatu yang jelas ada namun tak sepenuhnya mampu kita pahami. Namun dengan jalan itu pula, kita akan tertarik dan mulai memikirkan apa saja yang terkandung di dalam sana. Puisi adalah penarik agar seseorang mulai berpikir lebih serius. Tapi, persoalan puisi yang baik atau buruk tentu menjadi hal yang berbeda. Pembaca sekiranya akan bertualang dengan jalannya masing-masing.

Heidegger  menyebut puisi sebagai pusaran air. Puisi mampu mengalir bolak-balik kembali ke sumbernya, kepada berpikir sebagai memikirkan kembali, sebuah pengenangan. Ingatan-ingatan mencuat dan tersusun sedemikian rupa. Puisi bermuara dari pikiran yang mendedikasikan diri kepada berpikir kembali, kepada pengenangan. Dan seperti itulah yang semestinya mencuat dari pengalaman-pengalaman puitik seorang penyair. 

Bila kembali pada potongan syair dari Hölderlin, tersimpan pertanyaan tentang “tanda” dan “kita”. Bahwa apa yang sebenarnya ada pada kita? Lalu tanda seperti apa yang semestinya terbaca namun terabaikan. Semua hal tersebut akan membawa kita pada pengembaraan alam pikiran yang penuh dalam semesta seorang manusia. 

Seorang penyair perlu merumuskan setiap cerminan mental dalam puisi-puisinya. Melihat jauh ke dalam dirinya dan menggali apa saja yang berpeluang menjadi suatu keindahan puitik. Namun, hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan. Setiap penyair akan bergelut dengan kesulitan untuk melawan diri sendiri, ego yang terus menerus tumbuh dan kerap menghalangi intisari puitik yang lahir dari pengalaman refleksi atas kepasrahan sekaligus perlawanan seorang manusia atas hidupnya. 

Semua akan kembali pada cara berpikir, namun setelah membaca esai Heidegger dan merumuskan sejumlah temuan dari puisi Hölderlin, puisi adalah ruang pikiran yang mesti senantiasa dipikirkan, ditemukan, dan dihadirkan terus menerus.   

Halo, Saya Wawan Kurniawan. Terima kasih telah berkunjung.

No comments:

Post a Comment