Kepada Borges dan Tiga Sajak Lainnya



Kepada Borges

Borges mencium waktu yang masih basah
di kering kemarau paling panjang dunia ini.

Pagi adalah rahasia yang menghanyutkan mimpi
menenggelamkan matahari bersama cahayanya.
Kau berdiri menggantung lampu di kegelapan kota,
sendiri menghadapi keasingan segala sepi.

Borges menepuk bahu semesta petang nanti
kala anak-anak pandai mengintai kedewasaan.

Malam tiba sebagai kereta terakhir para penumpang,
bintang-bintang langit jatuh tertangkap tepuk kedua tangan.
Kau duduk bersandar di samping buram sebuah jendela
di sana, bulan mendekat menyentuh bibirmu yang gemetar.


Rambu-Rambu Perpisahan

akan kau lihat cemas menyala berwarna-warni

gelap kamarmu di malam hari kau terangkan
dengan sebuah ketakutan terpendam di masa silam.

sebelum subuh tiba dari perjalanan jauh
samar-samar terlihat kerlap kerlip segala resah

dan saat lampu raksasa di kepalamu menyala
bola kaca di jantungmu jatuh memecahkan diri sendiri.



Sebelum Bunuh Diri

nyawa adalah corong asap tertinggi yang pernah ada
kau membakar harapan dengan nyala api seadanya
di bawah langit maha luas ini, hilanglah segala tiada
hujan pun jatuh menembus kehampaan di dada.


Kekosongan

dan puisi ini kutulis hanya untuk menyatakan
bahwa segala yang kukatakan adalah makna.


Menerjemahkan Kematian

riwayat hidup telah padam di bawah bayang-bayang gelora
orang-orang merahasiakan diri kepada kenyataan
dan demikianlah, kesenangan tercipta semu.

mayat adalah sebuah perahu
berlabuh dengan penuh hati-hati
melewati kepedihan berliku orang-orang di tepi

tapi siapa sangka waktu akan melambai kepadamu
atau melambat demi pilihan kebahagiaan
mereka tertawa menjemputmu, terbahak-bahak.







Halo, Saya Wawan Kurniawan. Terima kasih telah berkunjung.

No comments:

Post a Comment