Menemui Carver dalam Novela: Wawancara Bersama Faisal Oddang



Faisal Oddang kala itu mengajak saya berdiskusi beberapa hal di sebuah café langganannya. Lalu kami bercerita tentang apa saja. Sebelum dia dijemput seseorang yang ditunggu sedari tadi. Ada hal penting dan tidak penting yang kami bicarakan. Tapi, saya menyimpan percakapan dengan Faisal perihal karya terbarunya. Sebut saja ini wawancara suka-suka, inilah cerita Faisal tentang Raymond Carver.


Apa pertanyaan yang paling sering muncul di wawancaramu dan sebenarnya tak ingin kau dengar lagi?

Kenapa mau jadi penulis?
Sejak kapan kamu menulis?
Bagaimana Ide datang?
Bagaimana ketika menulis, kita tiba-tiba buntu di tengah jalan?
Bagaimana jadi penulis yang baik?
Buku-buku apa yang perlu dibaca?
Kira-kira pertanyaan seperti itulah. Yang sebenarnya sudah ada di beberapa wawancara saya sebelumnya.


Artinya kau sudah hafal betul jawaban dari semua pertanyaan ini ya?

Kadang saya malah buka wawancara sebelumnya, lalu membaca jawaban yang sama.


Nah, kita coba bahas bukumu lagi. Bagaimana proses menulis karya terakhirmu ini, dengan beberapa karya sebelumnya, khususnya karya pertamamu?

Jauh sebenarnya. ‘Rain and Tears’ kan buku pertama saya, buku itu saya tulis saat SMA. Malahan karya itu sebenarnya kumpulan diari SMA saya. Makanya, kalau kau membacanya, tapi semoga saja tidak, kau mungkin akan tertawa dan jijik. Tokoh utamanya Faisal, setting tempatnya di sekolah saya, karakter lainnya adalah teman saya, dan pacarnya Faisal adalah pacarku waktu itu. Tapi saya tidak tahu ini kebetulan atau tidak, tapi karya terakhir saya dan pertama ini, yang jaraknya dari 2011 sampai 2019, kurang lebih  delapan tahun tapi dua-duanya ini fictional biography. Kira-kira itu kesamaannya.


Kalau perbedaannya apa?

‘Rain and tears’ itu saya tulis saat masih berstatus anak SMA yang baru naik kelas 3, masa ketika saya ingin sekali jadi penulis. Tapi saya menyadari kemampuan saya kurang. Ketika mau nulis, saya mengumpulkan diari saya. Sebagai remaja yang waktu itu sering ikut pengajian, jadi tokoh utama itu Faisal, meninggalkan HIV/AIDS, gagasan anak muda yang sangat heroik dan normatif waktu itu.

Kalau Raymon Carver, saya tak tahu itu normatif atau tidak. Tapi dalam karya ini,  menjadi usaha saya untuk bermain dengan kenyataan dan fiksi. Saya memainkan dua hal ini, bahwa jarak keduanya terkadang kita sulit  membedakannya. Itu respon saya melihat arus informasi belakangan ini, sesuatu yang benar dan salah sangat sulit dibedakan.Kita perlu memiliki beragam cara pandang untuk melihat sesuatu. Itu awalnya, sebagai respon dari fenomena tersebut.

Kemudian, saya di IOWA, dan saya memang menyukai kisah hidup Carver, itu menjadi pintu untuk membawa gagasan tadi.

Waktu menulis Raymond Carver ini, riset yang kau lakukan seperti apa?

Pertama, saya belajar menulis cerpen itu sebenarnya saat membaca buku, yang kira-kira sekitar tahun 2013 atau 2014, saat Katakerja pertama kali hadir, ada koleksi What We Talk About Love, buku itu saya pinjam dan hilangkan.

Sejak saat itu saya senang dengan karya-karya Carver. Ketika di IOWA, gagasan itu lahir.


Tapi sebenarnya, rencana itu sudah ada sebelum ke IOWA atau pas kamu tiba di sana?

Sebelumnya tak ada rencana, tapi saya membaca dia sebelumnya. Nah, ketika di IOWA, ada sebuah kejadian. Ada sebuah pembunuhan. Seorang mahasiswa dibunuh di minggu pertama saya di sana. Tepat di depan hotel tempat kami tinggal, ada lapangan kampus, mahasiswa berkabung dan berkumpul. Saya juga ikut dan mulai bertanya kronologisnya. Dan kisah ini, mirip dengan salah satu cerpen Carver, So Much Water So Close To Home.

Sebelumnya, saya juga diberitahu kalau Raymond Carver tinggal di tempat ini. Jadi saya mulai bertanya-tanya, mengapa Raymond Carver selalu datang di pikiranku? Dan peserta residensi suka minum, mereka tiap malam ke bar, kadang saya ikut main billiar, mereka buat lelucon, “Kita ikut residensi seperti Raymond Carver saja, kita cuma pergi minum, tapi kita mungkin tak bisa sebesar dia.”

Lalu, saya ulang tahun 18 September. Teman-teman memberi kejutan, dan dua orang dari mereka menghadiahkan saya buku Raymond Carver. Dari Taiwan, ada buku biografi Raymond Carver. Dan salah seorang teman dari Turki menghadiahi saya, Will You Please Be Quite, Please? kumpulan cerpen Carver. Nah teman dari Venezuela, setelah saya menceritakan jika saya ingin menulis tentang Carver, dia memberi tahu saya jika di dalam kumpulan cerita di buku itu, ada cerpen Carver, yang menulis tentang kematian Anton Chekov, judulnya Errand.

Jadi informasi tentang Carver begitu banyak, dan saya mulai menulis. Mengunjungi beberapa tempat dan mengambil foto. Saya mulai memikirkan apa yang kira-kira dilakukan Carver. Dan di akhir residensi kita diminta membacakan karya, lalu saya membaca naskah saya tentang Raymond Carver waktu itu.


Kamu punya ketakutan tersendiri tidak saat menulis kisah hidup Carver?

Tentu saja ada, hidup Carver begitu kompleks. Mulai dari latar belakang hidupnya, kemiskinannya, tapi di situlah tantangannya. Fakta mana, yang saya masukkan akan mendukung situasi fiktif yang ingin saya bangun.


Tapi ada tidak, fakta yang ingin kau masukkan kemudian berpikir lalu membatalkannya?

Ada beberapa. Misalnya, saya ingin memasukkan hubungannya dengan Tess Gallagher, dia yang memegang beberapa hak cipta Carver. Ada konflik istri pertama dan istri kedua Carver. Saya mau bahas, tapi ini terlalu jauh dengan konteks buku saya. Cuma pada saat di Iowa yang banyak berhubungan dengan Carver, ya istri pertamanya, bukan Tess Gallagher.

 Setelah terbit, bagaimana respon para pembaca yang kamu terima?

Beberapa teman yang belum tahu Raymond Carver, akhirnya mulai membaca cerpen Carver. Kebanyakan respon yang tidak serius. Bahas lelucon tentang mi instan, dan beberapa lelucon-lelucon lainnya. Karena memang novela ini cuma untuk hiburan saja sebenarnya.


Sulitkah menghubungkan mi instan dengan Raymond Carver?

Iya sebenarnya, tapi saya percaya, dalam menuliskan sebuah peristiwa, meskipun itu tidak masuk akal, yang jelas ada fondasi kuat untuk masuk akal itu bisa kita lakukan.

Jadi saya, menghubungkan mi instan dengan Carver, setelah melihat respon teman-teman yang suka micinnya mi instan. Bahkan ada teman yang tiap minggu datang ke kamarku minta dibuatkan mi instan, dan waktu kemarin residensi saya di Berlin, ada teman dari Taiwan, “saya bawa mi instan dari Indonesia, itu gara-gara kamu sebenarnya.”

Nah, dari pengalaman itu, saya mencari mengapa Carver tergila-gila dengan mi instan. Dalam novela ini, Carver juga begitu mencintai istri pertamanya. Dia mengingat perjuangannya waktu miskin, naskah-naskah, beasiswa waktu jadi penulis biasa-biasa saja. Faktanya, ketika dia datang ke IOWA, dia sebagai mahasiswa creative writing jurusan puisi, mereka miskin, mereka berempat. Carver, istrinya dan dua orang anaknya. Awalnya tinggal di kontainer, setelah itu dapat penginapan asrama mahasiswa, itu pun kumuh sekali. Saya juga menulis itu. Dan membuat beberapa adegan, cara mereka bertahan hidup dengan memakan mi instan yang relatif murah dan mudah.

Dan 50 tahun kemudian, ketika dia kaya dan punya hotel, dia jarang makan mi instan, tapi saat bertemu mi instan, dia teringat masa lalunya. Jadi bangunan fondasi itu yang saya jaga.

 Setelah ini, apalagi yang akan kau kerjakan?

Saya sedang menggarap sesuatu, tapi mungkin akan selesai lima atau sepuluh tahun ke depan. Tapi saya tidak akan menceritakannya dulu.

Baiklah, semoga segera selesai.*

*Wawancara ini pertama kali dimuat Revius.id, Edisi 9 Mei 2019.

Halo, Saya Wawan Kurniawan. Terima kasih telah berkunjung.

No comments:

Post a Comment