Aslan Abidin dan Instagram



Aslan Abidin, dalam sebuah kesempatan berbicara perihal puisi masa kini. Dia menjelaskan tentang maraknya sajak sampiran dan bagaimana instagram memberikan pengaruh terhadap kita. Bila dipikir kembali, apa yang diresahkan Aslan benar-benar menjadi sesuatu yang menarik untuk disiasati. Kerap kali dia mengeluhkan kedalaman makna sebuah puisi. 

“Hanya akrobatik kata” keluhnya. 

Setiap puisi tentu saja menyimpan gagasan yang hendak disampaikan oleh penulisnya. Namun tidak semua penulis puisi mampu menghadirkan puisi dengan gagasan yang utuh. Tentu saja, mendefinisikan puisi dengan cara ini bukan hal yang bijak. Sebab di lain kesempatan, puisi kerap dimaknai dengan bebas oleh setiap orang yang mengaku “bisa” atau merasa pandai menurut pengakuan narsisnya, dalam menulis puisi.

Baru-baru ini saya bertemu seorang pelajar SMA yang menjelaskan puisi sebagai suara hati atau ungkapan perasaan. Pengertian ini dia dapatkan dari kelas Bahasa Indonesia dan juga dikuatkan dengan pengalaman pribadinya. Dengan pendapat atau pengertian puisi yang dia ketahui ini, proses menulis puisinya bisa tercipta dalam waktu yang singkat. Dia hanya menunggu datangnya inspirasi dan lahirlah puisinya. Beberapa penyair ternama sebenarnya pernah menulis dalam waktu yang singkat, tapi itu tidak selalu terjadi bahkan mereka melakukan revisi atau mengendapkan karynya. Para penyair besar telah melewati beragam situasi dan kemungkinan saat menjumpai dan melahirkan setiap puisi. Bahan pikiran mereka telah dilatih dengan mempelajari puisi dari penyair-penyair ternama. Atau dari bacaan-bacaan yang dilewati. 

Celakanya, para penulis puisi yang menjaga pengertian bahwa puisi hanyalah masalah inspirasi dan percikan suasana hati, secara tidak sadar membangun kebiasaan yang berbahaya. Puisi yang dihasilkan kemungkinan tak akan pernah berkembang dan hanya menangkap wilayah yang itu-itu saja. Terlebih lagi, dengan kehadiran instagram yang membuka ruang untuk mengembangkan sekaligus menghadirkan penulis-penulis yang instan. Kebiasaan menampilkan potongan puisi sebait dua bait tampak seperti jebakan. Kembali lagi, besar kemungkinan puisi-puisi dengan komposisi kekuatan gagasan semakin berkurang. 
Fenomena yang belakangan muncul di instagram adalah bermunculannya kelas dan komunitas online. Kelompok itu kemudian, kerap menghadirkan tantangan pada anggota-anggotanya untuk menulis puisi secara rutin. Masihkah puisi itu digarap dengan serius? Menjawab atas nama pemula, mungkin bisa meringankan tuntutan dari pertanyaan ini. Instagram dengan segala jebakannya, pada akhirnya membuat kita betah berlama-lama. 

Pemula tak selamanya gagal menghasilkan karya yang baik. Ada beberapa orang yang pada tahap pemula, berhasil belajar dengan keras hingga tumbuh lebih baik. Tapi adapula yang hanya melakukan usaha biasa-biasa saja dan tanpa sadar tak bertumbuh, Namun dalam sisi narsismenya, dia merasa lebih mahir dibanding orang lain. Sebab itu, saya kemudian belajar jika menulis puisi bukanlah hal yang sepele. Butuh waktu dan keseriusan yang mendalam.

Di dunia instagram sendiri, istilah atau konsep sebagai pemula akan selalu kita temukan. Aslan Abidin sekalipun dapat kita sebut pemula di dunia instagram. Beberapa saat sebelum buku puisi “Orkestra Kematian” terbit, instagramnya launching lebih dulu. 

Aslan kemudian belajar membuat desain quote-quote atau petikan puisi yang cocok dengan instagram. Di satu sisi, kehadiran Aslan dengan puisi-puisinya di instagram, bisa menjadi sebuah alternatif segar di tengah kepungan para penyair instagram masa kini yang kering. 

Lantaran tak punya asisten yang mengurusi instagram dan desain yang akan diposting, Aslan pun meluangkan waktu mendesain sebaik yang dia mampu. Pada bagian ini, saya khawatir Aslan hanya menghabiskan lebih banyak waktu mendesain dibanding menulis puisi yang lebih baik lagi. Saya mungkin berharap Aslan tetap menjadi pemula di instagram, jika dia mahir berinstagram, barangkali desainnya akan lebih indah dibanding puisi-puisi ciptaannya yang dulu. Tentu saja, Aslan punya siasat untuk masalah ini, sedangkan saya hanya menyampaikan firasat buruk terhadap hubungan Aslan dan instagram. Tapi, firasat saya kerap kali benar, terlebih jika Aslan tak percaya.

*Tulisan ini pertama kali dimuat pada kolom Puitika, Koran Fajar - 18 Agustus 2019.

Halo, Saya Wawan Kurniawan. Terima kasih telah berkunjung.

No comments:

Post a Comment