Puisi dalam Asal Usul dan Bahasa Asli


Di tahun 2013, saya pernah menulis puisi dalam bahasa Bugis dan diterbitkan di halaman budaya Koran Harian Fajar tanggal 1 September 2013. Puisi itu berjudul Ininnawa Sipurio.Alasan saya menulis itu hanyalah ingin mencoba menulis dengan bahasa dan mencoba menggunakan cara berpikir dengan cara pandang Bugis. Secara kebetulan, waktu itu Fajar membuka kesempatan untuk puisi-puisi dengan bahasa asli, antara Makassar dan Bugis. Saya tumbuh dengan bahasa Bugis dan sewaktu di sekolah, saya sempat mendengar puisi Bugis diulang-ulang oleh guru Bahasa Indonesia saya. 

Gellang riwata’ majjékko,
Anré-anréna to Menre’é,
aténa unnyié.  

Pertama kali saya mendengar penggalan puisi Bugis itu, saya sama sekali tak mengerti dengan maksud atau makna yang ada di dalamnya. Tapi pada akhirnya, guru saya menjelaskan jika itu adalah semacam puisi teka-teki. Menyimpan sampiran, bunyi, kemudian makna. Bila ditelaah, kita dapat menemukan: méng (kail), anré-anréna to Menre’é (pisang), aténa unnyié (kuning). Kail, pisang, kuning, jika diubah dalam bahasa Bugis secara berurutan akan menjadi meng-loka-ridi. Rangkaian itu kemudian dibaca, mélo’ ka ridi yang artinya, “aku mencintaimu.”  

Tentu saya tak menulis dengan pendekatan seperti ini. Saat saya menulis puisi Bugis, saya hanya menulis puisi dengan gaya  seperti saat menulis bahasa Indonesia. Kerumitan puisi dalam sastra Bugis memperlihatkan betapa proses berpikir para penulis kala itu sungguh luar biasa. Menyimpan atau membangun lapisan seperti itu bukanlah hal yang mudah untuk dipelajari. Genre puisi Bugis tadi adalah satu dari sekian banyak genre puisi Elong. Di Elong sendiri, terdiri dari beberapa jenis, yang jumlahnya tidak sedikit. Puisi di atas, kutipan yang berulang kali dijelaskan guru saya itu, merupakan salah satu contoh dari satu jenis elong, yang disebut élong maliung bettuanna.  Puisi yang memang serupa dengan teka-teki. 

Dalam puisi, Bahasa Bugis mampu memperlihatkan ruang yang barangkali terabaikan. Di tengah gempuran dunia yang serba cepat dan maju, mundur ke belakang melihat masa ketika elong atau puisi Bugis berkembang mungkin dianggap bukan sebagai pilihan. Saya sendiri merasa penting untuk menggali berbagai kemungkinan yang ditawarkan dalam puisi Bugis. Menyatu dengan bahasa asli membuat kita mampu melihat diri kita secara utuh. Bahasa akan menjadi bagian dari proses penciptaan kita dan pemilihan kata yang benar-benar mewakili asal usul kita.  

Dua tahun belakangan ini, saya rutin menerjemahkan karya sastra dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Bila sebelumnya saya hanya membaca sebuah karya dalam bahasa Inggris dan saya mengerti, maka menerjemahkan menuntut saya untuk melakukan hal yang lebih dari itu. Selain memahami, memindahkan rasa bahasa asli ke dalam bahasa yang kita gunakan ternyata tampak seperti sebuah permainan.Kadang, menerjemahkan seperti mengerjekan puzzle. Belum lagi jika harus menerjemahkan puisi bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, butuh mempertimbangkan banyak hal untuk merampungkannya. Di saat yang bersamaan, keberadaan bahasa asli mencuat dan membuat saya mesti belajar menguasai bahasa yang hendak saya tuju. 

Bahasa Indonesia tentu saja kaya, namun di tangan seorang penerjemah, kekayaan itu mestilah dikembangkan dan dipelajari dengan serius. Belum lagi jika penyair yang hendak memperkaya karyanya dengan kemampuan bahasa yang mumpuni. Asal usul seorang penulis kiranya akan terpatri dalam karya-karya yang dia hasilkan. Butuh proses panjang untuk mewujudkan atau melahirkan karya yang semestinya. Dalam puisi, bahasa asli ataupun bahasa itu sendiri masih menyimpan ruang kemungkinan yang belum terjamah dan pada kesempatan itulah, seseorang mesti belajar serta mengembangkan apa yang telah ada di dalam asal usul dan bahasa yang dia miliki.    

*Tulisan ini pertama kali dimuat pada rubrik Puitika, Koran Fajar - 2 Juni 2019

Halo, Saya Wawan Kurniawan. Terima kasih telah berkunjung.

No comments:

Post a Comment