Buku, Bibliomania, Bibliofil.

Beberapa hari ini aku mengurungkan niat untuk datang berkunjung ke toko buku. Berusaha untuk belajar menahan keinginan untuk membeli buku, pasalnya di rumahku masih ada beberapa buku yang belum aku habiskan. Akhir-akhir ini aku berpikir untuk bisa seperti Eliot, salah seorang teman yang tinggal di Toronto, Kanada. Selama enam bulan di program pertukaran pemuda, dia mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah keinginan untuk membeli buku. Eliot selalu mengatakan, bahwa dia tidak akan membeli buku sebelum buku yang dibacanya saat itu belum selesai. Namun, aku selalu terbiasa membeli buku setiap kali aku berkunjung ke toko atau pameran buku. Sepertinya, itu bisa menjadi perilaku yang baik dan bisa juga menjadi tidak baik.




Boulard, seorang ahli hukum asal Prancis yang hidup pada abad ke-18, begitu bernafsu membeli buku, hingga rumahnya tak cukup menampung buku-bukunya, sampai-sampai ia harus membeli enam rumah lagi. Orang yang bertamu harus ekstra hati-hati, kalau tidak mau tertimbun longsoran buku. Sampai meninggalnya, Boulard memiliki 600 ribu-800 ribu jilid buku. Gilanya, Boulard hanya menumpuk buku itu dan tidak membacanya. Masalah seperti itu disebut Bibliomania.

Aku berharap punya waktu lebih dari 24 jam dalam sehari, mungkin dalam sehari bukan 24 jam tapi bisa jadi 48 jam. Dengan begitu aku bisa membeli banyak buku dan dapat membaca dengan tenang dan menghabiskan lebih banyak buku. Richard Heber, asal Inggris dan hidup di abad ke-19 mempunyai koleksi hingga 300 ribu buku yang ditempatkan di delapan rumah miliknya. Dua berada di London, sedangkan 6 lainnya di Inggris dan Eropa. Heber selalu membaca sampai akhir hayatnya. Kasus Heber berbeda dengan Boulard, untuk kasus Heber hal itu disebut dengan Bibliofil.

Istilah Bibliomania dan Bibliofil dapat ditemukan dalam “Biblioholism, The Literary Addiction”yang ditulis oleh Tom Raabe.

***

Sumber Gambar: Pribadi
Ini Eliot saat menemaniku ke Toko Buku

Aku tak yakin mampu seperti Eliot, tapi setidaknya aku tidak sama dengan Boulard. Kelak, jika aku sudah punya rumah pribadi, akan kusediakan ruang khusus untuk buku-buku dan tamu yang ingin datang membaca dan bersedia menjadikan buku sebagai kekasihnya. Di saat sendiri, aku senang melarikan diri lewat buku, di buku ada banyak pintu yang bisa digunakan untuk datang berkunjung ke tempat yang lebih luas dan menyenangkan. Terakhir, aku ingin libur untuk berkunjung ke toko buku. Aku akan menghabiskan buku-buku yang lebih dulu mengisi rak-rak buku di kamarku. Kecuali tanggal 28, aku dan dia telah bersepakat untuk menjadikannya tanggal buku, dan wajib membeli buku. Ada pengeculian untuk masalah ini!

No comments:

Powered by Blogger.