Atas Nama Niat (Catatan Sederhana perihal UNM)

Bad news is a good news atau yang lebih dikenal dengan istilah pameo menjadi salah satu cara penulisan berita. Target berita yang dikembangkan lebih berfokus pada titik negatif, bukan pada tataran titik positif. Indonesia kemudian terlihat begitu buram di mata masyarakatnya sendiri, penuh dengan kesalahan, kekurangan, dan kesalahpahaman.

Maka, jangan salah ketika optimisme pada masyarakat, pemuda dan anak-anak terhadap bangsa Indonesia kemudian melemah. Yang semestinya optimis, kemudian berubah menjadi pesimis, bahkan putus asa bisa bersarang dengan mudah. Kecintaan kepada Indonesia wajib diperlihatkan dengan fokus pada pengembangan potensi secara maksimal dan terarah. Berbagai lapisan masyarakat harus turut serta dalam menciptakan kondisi Indonesia yang lebih baik. Sinergi yang kuat akan menghasilkan kekuatan untuk jauh lebih optimis untuk menatap masa depan di Indonesia.
*

Makassar di mata masyarakat Indonesia terkurung pada persepsi “kekerasan”. Pemberitaan Makassar akan mudah terlihat di layar kaca, surat kabar, bila topik telah jatuh pada persoalan demonstrasi, tawuran, atau aksi bakar ban dan menutup jalan. Jarang, berita positif akan Makassar ditayangkan oleh media. Pada akhirnya, Makassar diasosiasikan dengan kata kunci “anarkis”, “tukang demo”, dan “tawuran”.

Bukan hanya sampai sebatas itu, melainkan juga melalui media online. Bila kita menggunakan key word "Mahasiswa Makassar" dalam bentuk pencarian berita atau pun gambar, yang bermunculan adalah aksi demonstrasi dan tawuran. Parahnya lagi, bahkan saat sebelum kita menekan tombol search pada google, secara otomatis akan muncul kalimat negatif, seperti yang ada pada gambar di bawah ini. 





 Tayangan Google untuk Mahasiswa Makassar





Dalam Bentuk Pencarian Gambar

“Kenapa mahasiswa Makassar senang tawuran, demonstrasi berujung bentrok?” kalimat ini sering bertandang di telinga saya. Hampir setiap kali saya mengikuti kegiatan nasional, pertanyaan itu selalu dilontarkan beberapa teman yang tinggal di luar Sulawesi Selatan. 

Setiap kali mendengar pertanyaan ini, ada rasa yang sulit saya jelaskan. Antara kecewa, harapan, pesimisme, optimisme, marah, bahkan gembira. Akhirnya, menjelang setahun menyandang status sebagai Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Makassar ada sebuah jawaban dari dalam diri saya untuk menghilangkan resah atau gundah dan melekat hingga hari ini dan selamanya.

Saya sadar, bahwa saat mendengar pertanyaan itu atau komentar negatif tentang Universitas Negeri Makassar, lahir sebuah tekad kuat untuk memberikan hal-hal positif. Dengan berkarya untuk Universitas Negeri Makassar, itu menjadi jalan bagi saya untuk membalas dendam kepada mereka. Universitas Negeri Makassar mengajak saya untuk bekerja lebih keras, berusaha untuk memperbaiki diri sebaik-baiknya agar dapat bermanfaat. Sejauh ini, saya masih berupaya untuk meningkatkan kemampuan yang telah ada.

"Bersyukur, Tuhan membukakan pintu dan jalan untuk belajar meraih mimpi itu"

 

Juara I Penilaian Artikel Pendidikan 2012
 oleh Kementrian Pendidikan dan Kebeduyaan





Juara II Lomba Karya Tulis Balitbangda Sul-Sel Tahun 2012 




Menikmati Musim Salju di Kanada, 2012



Berkesempatan berpartisipasi dalam 
Pertukaran Pemuda Indonesia- Kanada 2012-2013


"Niat untuk memberi perubahan akan terjaga atas komitmen yang konsisten"  Saya belajar untuk itu, dan masih banyak hal yang dapat dilakukan demi melahirkan sebuah perubahan.

*


Catatan Sederhana

Merasakan kondisi yang saya alami saat ini, tidak terlepas dari dukungan lingkungan Universitas Negeri Makassar. Saya dapat menemukan banyak energi positif yang membawa langkah ini lebih terarah. Sejak mahasiswa baru, saya ikut bergabung dengan organisasi yang sesuai dengan passion saya.

Pertama, pada tingkat Fakultas; saya bertemu dengan Kak Ardi dan Kak Kelvin. Dua orang yang mempertemukan saya pada dunia tulis menulis, PERS. Bergabung bersama Psikogenesis, salah satu lembaga Pers tingkat Fakultas yang memberikan saya banyak pelajaran. Kak Ardi dan Kak Kelvin menjadi teladan bagi saya. Kak Ardi membagi semangatnya untuk menulis kepada saya, memenangi beberapa perlombaan. Kak Kelvin rajin bercerita tentang perjalanan luar negerinya, hingga membuat saya berusaha untuk lebih dari apa yang mereka dapatkan. Di tingkat Universitas, saya bertemu dengan banyak karakter, teman-teman di LPM Penalaran, yang punya segudang prestasi dan mendorong saya untuk bekerja lebih kemudian berbenah.

Dari semua itu, saya berani untuk melangkah ke tempat yang lebih luas. Saya tidak ingin diam, saya wajib berjalan, melangkah lebih jauh.  Pada akhirnya, saya optimis untuk menciptakan kondisi yang lebih positif di Universitas Negeri Makassar.

Ada banyak jalan menuju Roma, begitupun jalan untuk kembali melakukan perubahan positif bagi Universitas Negeri Makassar. Maraknya pemberitaan negatif terhadap mahasiswa Makassar, tidak terlepas dengan maraknya aksi demonstrasi dan tawuran yang terjadi. Namun, yang jauh lebih parah dari semua itu adalah proses pemberitaan media lokal maupun nasional yang lebih condong pada konsep berita pameo.

Wajah Universitas Negeri Makassar yang ada di masyarakat jelas berdampak besar, terkhusus pada Mahasiswa Baru yang baru ingin memulai perjalanannya di Universitas Negeri Makassar. Berita negatif yang mendominasi membuat semangat itu akan terganggu. Layaknya konsep pertumbuhan di dunia psikologi, Mahasiswa baru dapat diibaratkan sebagai anak kecil, patut untuk dijaga dan dibentuk dengan harapan memperoleh bekal motivasi. Mahasiswa Baru patut memiliki akar yang kokoh yang mampu menopang mimpi besar untuk membangun Universitas Negeri Makassar, menanamkan optimis dan harapan bagi mereka akan menguatkan langkah dan menjadikan akar mimpi mereka mampu menjalar lebih dalam di nurani mereka masing-masing.

Sangat disayangkan, bila saat menjadi mahasiswa baru, mereka tidak mampu mengenal dan memiliki “rasa memiliki”. Hal itu bisa disebabkan oleh informasi negatif yang membuat mahasiswa baru memilih acuh dan tidak peduli sama sekali. 

Berdasarkan pengalaman selama menjadi Mahasiswa UNM, keyakinan mesti dibentuk saat ada pada posisi Mahasiswa Baru. Maka patut diperkenalkan dengan sejumlah prestasi yang mampu mendorong mereka untuk berbuat lebih. Mengundang para peraih prestasi, berbagi dan membangun paradigma berpikir yang lebih baik bersama bibit-bibit baru Universitas Negeri Makassar. Sebisa mungkin langkah sederhana tersebut dikemas dengan kreatif, serupa dengan kelas inspirasi atau lebih dari itu.

Mahasiswa Baru,menjadi sebuah harapan yang mesti untuk dijaga hingga menemukan sebuah pencapaian positif dan bermakna. Hingga pada akhirnya, sedikit demi sedikit akan tercipta kondisi yang mengharuskan kita untuk saling menjaga dalam keberagaman, mampu menghargai setiap perbedaan dan senantiasa melakukan perubahan untuk almamater.

Mahasiswa Baru UNM menjadi salah satu langkah awal untuk kembali merancang kondisi Universitas Negeri Makassar. Yang nantinya, akan tumbuh, berkarya dan “Tetap Jaya Dalam Tantangan” Amiin. 


"Niat untuk memberi perubahan akan terjaga atas komitmen yang konsisten" 
  

Salam
Wawan Kurniawan
*

Diikutkan pada Lomba Blog Cinta Damai.


8 comments:

  1. Jadi, klo nanti ada kegiatan di biologi,, bisa toh sy undang untuk berbagi inspirasi dan motivasi..? :D

    ReplyDelete
  2. Bolehlah kak, dengan senang hati.

    Saya tunggu kabarnya.

    ReplyDelete
  3. niatnya keren! semoga indonesia bisa lebih optimis

    ReplyDelete
  4. article ini keren.... give me power to be optimist person,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat atas prestasimu :) Semoga tetap berbagi dan terus semangat..!

      Delete
  5. Semoga saja, kita tidak hanya ambisius pada pencapaian prestasi yang anda maksud. Karena melawan kebijakan pemerintah yang ditafsirkan mencederai kesejahteraan masyarakat, itu jauh lebih penting. Bagi saya. Dan saya pikir, kematangan analisis wacana mereka tidak dipertanyakan lagi....beda dengan kita ini yang mengejar value pribadi.....semoga saja masih peka dengan kebijakan kampus yang timpang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, tentu saja perlawanan wajib untuk dijalankan. Hanya saja, melawan dengan tangan kosong dan tanpa nilai pribadi yang lebih baik, akan menghasilkan perlawanan yang tak cukup.

      Delete

Powered by Blogger.