Setelah Menulis Puisi Tentang Kematian Sosok M


Dia menulis sebuah nama di dalam puisinya, berinisial M. Bila kau membacanya, tentu saja itu akan membuatnya semakin mengerti, bahwa puisi itu ditulis tidak sembarangan. Ada banyak alasan mengapa dia menulis puisi untuk M, salah satunya karena sosok berinisial M itu datang menemuinya melalui mimpi. Di atas pesawat menuju Belanda, melalui racun arsenik — seseorang berhasil merenggut nyawanya. Malam kemarin, dia kembali memimpikan sosok M.
“Kau tak perlu menulis puisi tentang kematianku!” pinta sosok M dalam mimpinya.
“Mengapa?” Dia terdiam sejenak lalu kembali angkat bicara, “Saya sudah mengetahui kisahmu dari ayah saya, dia kenal siapa yang membunuhmu tapi dia telah terbunuh oleh orang bejat itu.”
“Sudahlah, jika kau masih ingin menikmati duniamu, berhentilah menulis puisi tentang kematianku.”
“Saya tak takut dengan mereka, saya bahkan ingin membalas dendam ayah saya.”
“Tunggu dulu…” belum sempat sosok M menjelaskan sesuatu, dia terbangun dengan tubuh penuh keringat.
Di dinding kamarnya, sebuah sketsa wajah sosok M terbingkai dan terpajang di samping rak buku. Dia melihat wajah sosok M dan bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa?”
Dia tak heran melihat sosok M datang dalam mimpinya. Ini bukan kali pertama, sudah tiga bulan lamanya. Sebuah media nasional memuat puisi-puisinya dan beberapa orang menayangkan potongan puisinya di instagram. Tiap kali dia melihat puisi-puisinya, ada keberanian yang membuatnya ingin terus menulis. Dia ingin mengenang sosok M dalam puisinya. Tapi di saat yang bersamaan, dia ragu jika benar-benar menulis untuk mengenang sosok M.
Seminggu setelah mimpi terakhirnya bertemu sosok M terjadi, sebuah puisi dia tulis sepanjang tujuh halaman tanpa rima dan irama, seperti yang sering dia lakukan dalam beberapa puisi sebelumnya. Hanya ada sebuah metafora yang sulit dipahami. Bertahun-tahun setelah puisi itu ditulis, kabarnya menghilang. Tak seorang pun mengetahui keberadaan penyair kita ini. Sosok M hilang belasan tahun lalu dan kematiannya masih dikenang orang-orang yang mencari kebenaran. Penyair kita hilang dalam puisi dan di dalam mimpi, dia datang menemui seorang pelajar yang hendak ke Belanda agar tak meneguk minuman di pesawat dan dia akan selamat. Tapi seperti itulah mimpi.***
*Cerpen ini pertama kali dimuat pada ideide.id, 23 April 2019.

Halo, Saya Wawan Kurniawan. Terima kasih telah berkunjung.

1 comment: