Kawan Saya Bilang, “Saya Mau Mengabdi di Asmat!”


Kawan baik saya, seorang dokter muda berencana ingin mengabdikan diri di Asmat. Beberapa kali saya mendengar ceritanya tentang rencananya itu. Saya tentu saja terkesima dengan niat dan usahanya untuk bisa mengabdi, tak banyak orang yang saya kenal bersedia menyumbangkan waktu demi kebaikan orang lain. Kawan saya bilang, “Saya mau mengabdi di Asmat!”

sumber gambar: voaindonesia

Saya tentu bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat kawan saya itu hendak mengabdi di Asmat? Saya tak ingin mendengar jawaban langsung dari dia. Saya mulai mencari dengan membaca dan melihat beberapa video tentang Asmat. Saya percaya, ada sebuah kesadaran mendalam di jiwa kawan saya itu. Kesadaran yang saya atau mungkin orang pada umumnya, tidak (belum) dimiliki.

Sulit bagi saya untuk mengenal Asmat dengan baik, tapi semakin sering saya mendengar cerita kawan saya itu, saya membaca dan melihat kabar Asmat melalui berbagai liputan yang ada. Pada akhirnya, saya pun mulai sadar jika keputusan kawan saya untuk mengabdi ke Asmat adalah sesuatu yang semestinya diikuti oleh lebih banyak orang lagi. Saya sedih pada diri saya sendiri, lantaran tak bisa melakukan hal yang sama dengan kawan saya itu. Sungguh, Asmat menjadi sebuah tempat yang membutuhkan lebih banyak bantuan. Selama ini, Asmat menjadi daerah yang seolah luput dan terabaikan.

Asmat menjadi salah satu daerah dari 122 daerah yang ditetapkan Presiden Jokowi sebagai  daerah tertinggal 2015-2019. Penetapan itu tertuang dalam Peraturan Presiden (perpres) Nomor 131/2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015–2019. Ada banyak hal yang membuat Asmat berada dalam deretan daerah tertinggal. Mulai dari masalah kemiskinan, kesehatan hingga infrastruktur. Belum lagi kondisi geografis yang masih menjadi tantangan. Kondisi geografis yang didominasi rawa dan ketersediaan air bersih menjadi dua hal utama yang menjadi permasalahan di Asmat. Ada air dari sebuah sumur bor tapi airnya payau. Mereka hanya memanfaatkan air hujan. Dengan air hujan, kehidupan sehari-hari mereka terpenuhi. Tapi sayangnya, air hujan tak benar-benar baik untuk dikonsumsi. Kandungan airnya tak memiliki mineral yang cukup untuk menjaga kesehatan.

Dalam hal kesehatan, orang-orang Asmat bahkan pernah berstatus sebagai daerah dengan kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk. Selain bermasalah dalam ketersediaan air bersih, suku Asmat juga harus menghadapi sulitnya mengatasi ketersediaan pangan. Mereka hanya mengonsumsi umbi-umbian yang ditanam secara terbatas. Berdasarkan data dari Kementerian Sosial, hingga 28 Januari 2018, total 71 anak meninggal dunia akibat gizi buruk dan campak di Asmat, meningkat dari sebelumnya 68 orang. Sementara ratusan lainnya harus menjalani perawatan. Mengatasi masalah tersebut, pemerintah menurunkan 177 tenaga kesehatan di Asmat yang membantu menangani kasus tersebut, yang bergabung dengan tim dari Kementerian Sosial dan TNI. Sedang TNI, mengirimkan 260 orang, termasuk delapan tim kesehatan. Mereka berjaga hingga waktu yang ditentukan. Akhirnya, sejak 5 Februari 2018, status KLB di Asmat dicabut. Tapi tak lama setelah status itu dihentikan, tetap saja masih ada anak-anak yang meninggal akibat campak dan gizi buruk.

Salah satu kendala yang ada di Asmat selepas status itu dicabut adalah kurangnya tenaga medis. Tercatat dari total 16 puskesmas yang ada, sebagian besar tidak memiliki dokter. Hal ini juga yang mungkin membuat kawan saya untuk mengabdikan dirinya di Asmat. Beberapa dokter konon menolak untuk bekerja di sana, lantaran inftrastruktur yang belum memadai. Sepertinya, hanya orang-orang terpilih yang siap mengabdikan diri untuk kondisi di Asmat. Belum lagi jika kita bercerita tentang sulitnya menembus daerah Asmat. Mode transportasi yang digunakan pun memiliki tantangannya masing-masing. Belum ada jalur darat hingga hanya dapat melalui jalur udara atau laut. Dan tiap pilihan itu memiliki risikonya masing-masing.  

Membangun daerah tertinggal tentu bukanlah hal yang mudah. Mengatasi masalah kesehatan di Asmat tentu harus dilakukan dengan upaya yang serius. Klinik Asiki, menjadi salah satu alternatif dalam menjawab masalah dan bagian dari upaya membangun daerah 3 T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Salah satu program dari klinik tersebut, adalah klinik mobile. Para tenaga medis langsung diarahkan menuju pelosok-pelosok yang ada di daerah, melakukan penyuluhan dan bantuan kepada warga. Sejak diresmikan pada tanggal 2 September 2017, Klinik Asiki telah memberikan kontribusi berarti bagi warga.

Mengajak masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan juga menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, mereka masih menyimpan pola pikir yang cenderung mengobati penyakit dengan cara tradisional. Akhirnya, penanganan terhadap satu kasus kesehatan seringkali terlambat ditangani. Saya rasa, butuh usaha yang dapat mendekati masyarakat dengan proses memahami cara berpikir mereka selama ini. Keberadaan Klinik Asiki yang digagas oleh Korindo Group bersama KOICA (Korea International Cooperation Agency) mencoba melakukan pendekatan tersebut. Bukan hanya di daerah Asmat, usaha dari Klinik Asiki ini berusaha menjangkau tempat dan masyarakat yang selama ini jauh dari akses kesahatan yang layak dan lengkap.  

Masalah setelah kasus campak dan gizi buruk yang melanda Asmat, kiranya dapat teratasi dengan hadirnya fasilitas kesehatan seperti itu. Kita tentu tak ingin mendengar kabar lagi jika kasus menyedihkan seperti itu terus berulang tanpa ditangani secara serius. Klinik mobile yang menjadi program dari Klinik Asiki semoga saja dapat membantu terciptanya kondisi kesehatan masyarakat yang lebih baik. Ada pengobatan gratis, penyuluhan tenaga medis tentang kesehatan, masyarakat juga diberi kebutuhan kesehatan, seperti obat-obat, susu, dan hal lainnya secara gratis. Pihak dari Korindo turut aktif membangun perubahan di daerah tersebut.

sumber gambar: Korindo News

Pada dasarnya, Korindo mencoba membangun perbatasan menjadi terasnya Indonesia. Selain di bidang kesehatan, melalui program Corporate Social Contribution (CSC/SCR) pihak perusahaan mencoba membangun hubungan yang harmonis, menguntungkan dan berkelanjutan dan menyentuh sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan dan infrastruktur. Beberapa penghargaan pun telah diraih, misalnya saja Klinik Asiki yang meraih predikat Klinik Terbaik di tingkat Propinsi Papua versi BPJS Kesehatan pada tahun 2017. Selanjutnya, Klinik Asiki ini mendapat penghormatan untuk menghadiri Pertemuan Nasional FKTP BPJS Kesehatan Tahun 2018 pada pertengahan April 2018 lalu di Jakarta. Ini bisa menjadi langkah perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.

Sumber gambar: Korindo

Tentu saja, semakin banyak hal baik seperti ini akan membawa perubahan untuk daerah tertinggal. Butuh lebih banyak kolaborasi lagi antara masyarakat dan berbagai komponen yang ada. Kawan saya hendak menghabiskan setahun di sana. Dia ingin belajar dan memahami bagaimana proses yang terjadi di daerah seperti Asmat. Sebagai seorang dokter muda, dia punya jiwa yang kuat untuk mewujudkan tekadnya. Tak seperti beberapa dokter yang menolak bekerja di daerah tertinggal, lantaran tak ada fasilitas lengkap, kawan saya ingin malah menantang dirinya untuk berjuang menghadapi suasana yang ada di sana.

Di masa depan, kita tentu berharap jika daftar daerah tertinggal yang sebanyak 122 berkurang atau benar-benar terselesaikan sepenuhnya. Pemerataan di Indonesia menjadi salah satu misi dari Presiden kita hari ini. Mengharapkan kerja pemerintah tentu hal yang menyenangkan, tapi berharap saja, kadang hanya menimbulkan kecewa lantaran harapan itu tak pernah benar-benar diwujudkan. Langkah kawan saya pun membuat saya belajar, menentukan pilihan dan ikut mengabdi bisa menjadi keputusan yang tepat. Semoga, pembangunan daerah 3T terus dilakukan dan semakin banyak orang yang menyimpan kesadaran untuk turut berpartisipasi aktif. Saat melihat tekad kawan saya itu, saya pun selalu bertanya-tanya dalam hati, “Jadi, kapan kamu ke Asmat?”


Halo, Saya Wawan Kurniawan. Terima kasih telah berkunjung.

No comments:

Post a Comment