Pertanyaan pada Hari Ulang Tahun

Ilustrasi: Seb Agresti


Saya adalah puisi yang dihadiahkan seorang lelaki untuk kekasihnya yang berulang tahun. Saya tak berima. Metafora tak terlihat sama sekali. Hanya ada pertanyaan yang terasa ganjil. Barangkali dia ingin menjadi seperti Pablo Neruda, lalu menulis puisi yang serupa dalam buku yang berjudul The Book of Questions. Tapi, tak ada yang bisa jadi orang lain, yang ada hanyalah usaha menipu diri sendiri atau tersesat dalam pencarian diri. 


Sehari sebelum lelaki itu menjadikan saya sebagai hadiah, beberapa kata dihapus dalam bait awal. Beberapa kalimat ditambahkan di bagian akhir agar tak sepenuhnya berisi pertanyaan. Saya lebih senang dengan beberapa  draft sebelumnya. 


Saat kekasihnya membaca bait demi bait, dia bertanya, "Bolehkah saya menjawab pertanyaan ini?"

"Tak perlu, dibaca saja dulu"

Kekasihnya kembali membaca dan mungkin menjawab dalam hati. Seorang penyair terkadang menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri. Terlebih lagi dengan orang yang berusaha memahami isi kepala seorang penyair. 

Lelaki kurus bermata sipit itu sendiri tak berani menyebut dirinya sebagai penyair. Meski dia tak henti-hentinya menulis puisi tentang apa saja. Sehari sebelum dia menulis saya sebagai puisi untuk kekasihnya, dia menerima email penolakan dari tiga media sekaligus. Dia rutin mengirim puisi ke berbagai media. Honor menulis puisi itulah yang membuatnya bisa bertahan hidup. Meskipun tak banyak puisinya yang dimuat. Jauh lebih banyak kabar penolakan dibanding dengan kabar pemuatan karyanya. 

Saat menulisku, setelah bait pertama tuntas ditulisnya, dia rebahkan badannya di atas lantai tegel putih yang dingin. Sambil merasakan suhu yang menjalar ke tubuh, dia pejamkan matanya sembari mengenang pertemuan pertama bersama kekasihnya. Kenangan yang seringkali dia ceritakan ulang pada kekasihnya. 

"Di tangga perpustakaan kampus, masih ingat?"

Kekasihnya tentu saja mengingat kejadian itu. Tapi, baginya pertemuan pertama mereka bukanlah sesuatu yang berkesan. Hanya saja penyair kurus ini tetap berkeras meyakinkan kekasihnya bahwa pertemuannya di perpustakaan akan jadi bagian paling menyenangkan dalam hidupnya. Sebenarnya pertemuan mereka sungguh amat biasa. Berpapasan setelah salah seorang teman kekasihnya menyapa, tapi penyair itu malah memperhatikan perempuan yang kini jadi kekasihnya --bukan yang menyapanya.

Sekitar lima menit memejamkan mata, dia kembali bangun dan melanjutkan bait puisi untuk kekasihnya. Betapa banyak pertanyaan di kepala. Celakanya, tak ada jawaban yang lebih baik dari semuanya. 

"Mengapa semua puisi ini berisi pertanyaan?" Diurungkan niatnya untuk membuat seluruh puisi itu hanya berisi pertanyaan. Di bagian penutup, dia mulai memainkan jawaban yang membingungkan. Jawaban yang sebenarnya masih menimbulkan pertanyaan di kepala. Baginya semua hanya perayaan di kepala. Tanpa jawaban, perayaan itu akan tetap berlangsung. Seperti kembang api pada malam tahun baru. Pertanyaan itu meledak keras dan kecil di kepala. Tapi, ledakan itu pula yang sebenarnya membuat saya ada. Kecuali kekasihnya, lelaki itu berpikir bahwa di kepala kekasihnya seluruh jawaban yang dia cari akan didapatkan seketika. 

Sehari setelah puisi itu dihadiahkan, kekasih penyair kurus itu bertanya-tanya. Ada yang bergejolak dalam jiwanya. 

"Mengapa harus ada pertanyaan?" Dalam batinnya, dia mengira lelaki yang dia cintai selama ini telah ragu dan berpikir semua akan segera berakhir. Lelaki itu memikirkan mengapa pertanyaan itu hadir begitu saja? Dan, mengapa dirinya memilih pertanyaan seperti itu?

"Nanti akan saya buat yang lebih baik lagi. Puisi itu belum selesai."

"Ah, tak usah. Ini sudah bagus. Tapi, saya cuma penasaran. Kenapa ya?"

"Kalau mau dijawab, silakan saja. Saya juga belum tahu pasti jawaban semua itu."

Lelaki ini tak heran melihat ekspresi kekasihnya. Seperti itulah adanya. Dugaannya tepat bahwa kekasihnya adalah jawaban dari semua yang tak mampu dipecahkan. Menjadi penyair sebenarnya membuat hidup semakin berat. Sebelum membuat puisi, selesai, bahkan setelah puisi itu dimuat atau dibaca, semua masih akan terasa penuh tekanan. Penyair yang baik semestinya rela ditikam tajam puisinya sendiri. Namun, adakalanya puisi juga menjadi tameng untuk menjaga penyair dari keinginan untuk bunuh diri. 

Beberapa hari kemudian mereka masih terus bertanya-tanya dan tak menemukan jawaban pasti. Saat itu juga saya merasa beruntung menjadi sebuah puisi pada hari ulang tahun kekasih seorang penyair malang. 

Penyair itu menulis puisi lagi. Di sebuah kursi tua dengan sandaran empuk yang menghadap jendela dia kembali menulis. Saat sebagian tubuhnya tenggelam dalam empuk kursi tua berwarna cokelat itu, dia kembali memejamkan matanya. Kembali terkenang pertemuan pertama di tangga perpustakaan. Debar jantungnya masih terdengar, kering bibirnya masih terasa, dan pandangan yang malu-malu jelas terbayang. Saat itu juga dia kembali bertanya, "Apakah pertemuan akan berjalan maju menuju perpisahan?" Seperti usia yang terus bertambah, tapi sebenarnya semakin dekat dengan kematian. 

Kurang lebih dua bulan setelah hari ulang tahun kekasihnya, dia pun akan merayakan usianya yang kedua puluh tujuh. Menjelang hari ulang tahunnya, begitu banyak pertanyaan yang ditulis dan membuat tubuh puisi yang kumiliki semakin bertambah. Sepertinya, saya akan mengalahkan jumlah pertanyaan dalam buku terakhir yang ditulis Pablo Neruda. 

Penyair itu juga mulai bertanya tentang kematiannya. 


"Semakin dekat usia kematian." 

"Bagaimana jika saya mengulang takdir mati muda Chairil Anwar?" tambahnya. 

Sesuatu yang ganjil terasa di dalam dirinya. Bahwa hidup bersama kekasihnya begitu indah dan terasa kuat. Namun, pertanyaan tentang perpisahan kadang membuatnya sulit memberi jawaban bahkan pada dirinya sendiri. Dia ketakutan dan hal itu jelas terasa dalam pertanyaan-pertanyaannya yang gamang. Wajar saja jika kekasihnya pun dibuat bertanya-tanya dengan semua yang ditulisnya. 

"Ingin hidup seribu tahun lagi?" Dia tak yakin mampu hidup selama itu. Tak akan seberuntung Chairil yang mati muda, tapi terkenang begitu lama. Mungkin abadi. Seringkali dia meminta agar kekasihnya menulis sebuah cerpen tentangnya. Tiap kali membaca itu, dia merasa akan hidup lebih lama lagi. Tapi, kekasihnya masih kesulitan untuk menulis. Hidupnya terperangkap dalam mitos penyair yang mungkin mati muda. 


Saya adalah puisi yang dihadiahkan seorang lelaki untuk kekasihnya yang berulang tahun. Beberapa pekan sebelum ulang tahun lelaki kurus bermata sipit itu, kekasihnya berjanji akan menghadiahkannya sesuatu yang menyenangkan. Dia mencoba menerka hadiah apa yang akan diberikan kekasihnya. Tapi, sulit mendapat jawaban itu. Hingga malam sebelum hari ulang tahunnya tiba, dia berdiri menghadap jendela. 

Membayangkan pertemuan pertama dengan kekasihnya sembari menyambut usianya yang baru. "Apakah usia ini benar-benar akan bertambah?" Dia terus bertanya pada dirinya sendiri. Dia tak ingin jawaban terucap. Dia takut berhenti dan ingin terus bertanya. Tapi, kematian datang merenggut sisa hidupnya. Jantungnya berhenti dan berdetak dengan sangat cepat sebelum kematian merenggutnya. 

Pagi pada hari ulang tahunnya, kekasihnya menghubunginya dengan handphone. Tak terdengar jawaban sama sekali selain bunyi tanda bahwa panggilan itu tersambung. Penyair itu terbaring di lantai tegel putih, terpejam, kembali mengulang pertemuan pertama dengan kekasihnya. Sebelum kematian membuatnya sulit untuk mengenang dan melihat kekasihnya lagi. 

Saya pun melihat kekasihnya terus bertanya-tanya. Mencoba menghubungi lelaki itu beberapa kali. Firasatnya mulai terasa aneh. Keringat mulai keluar di telapak tangannya. Dia ingin segera keluar rumah dan menemui lelaki kurus itu. Dengan mengendarai mobil putihnya, dia keluar dengan perasaan cemas. Kecepatan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Hari itu tanggal merah dan jalanan begitu lengang. Pada saat itu juga, lelaki kurus itu tiba-tiba terlihat dari kaca spion tengah di dalam mobil duduk dan tersenyum. Seketika dia mengerem mobilnya dan berbalik tanpa melihat penyair malang itu sama sekali. Mobilnya berhenti beberapa saat. Dan, jalanan terasa semakin sepi. 

Saya adalah puisi yang tetap ada, melihat sepasang kekasih terus-menerus bertanya tanpa menemukan jawaban pasti sama sekali. Saat itulah saya merasa semakin menjadi puisi. 

Halo, Saya Wawan Kurniawan. Terima kasih telah berkunjung.

No comments:

Post a Comment