Digital Parenting: Panduan Singkat Keluarga Era Kekinian


Seorang anak mendekat di tepi sungai yang mengalir deras dan dalam, anak yang sama sekali tak pandai untuk berenang. Selangkah atau dua langkah lagi, tubuh kecilnya akan ditelan mulut sungai. Jika kau adalah orang tua dari anak itu, apa yang akan kau lakukan? 

Lalu, bagaimana jika internet hari ini serupa dengan sungai itu? Sungai dengan kedalaman yang menawarkan berbagai kemungkinan baik maupun buruk. Beberapa waktu lalu, saya membaca sejumlah kasus kejahatan yang melibatkan anak di bawah umur. Mulai dari perkara hacking, konten pornografi, penipuan online, penghasutan via Facebook, ancaman bom hingga kasus prostitusi online.

Laporan dari Margaret Aliyatul Maimunah, Komisioner Bidang Pornografi dan Cybercrime Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), anak-anak berpeluang tinggi terkena dampak kejahatan melalui internet. Salah satunya, terkait dengan pornografi anak. Di tahun 2017, polisi berhasil mengungkap kasus 750.000 konten video berisi hubungan seksual lelaki dewasa dan anak laki-laki. Belum lagi kasus terkait chat pornografi yang beberapa kali terjadi, celakanya hal seperti itu terkadang luput dari perhatian kita. Khususnya, keluarga.

Melihat maraknya kasus yang kian hari tampak mengerikan, keluarga patut untuk berbenah. Sebenarnya, bagaimana keluarga menghadapi masa digital yang terus berkembang ini? Apakah kita bisa menerapkan digital parenting hari ini?


Digital Parenting

sumber gambar: http://yourekavach.com


Dalam sebuah artikel penelitian yang berjudul, How can parents support children's internet safety? dijelaskan bahwa peran keluarga sangat besar dalam menjaga anak saat bersentuhan dengan internet. Hal tersebut didapatkan melalui hasil survei di 25 negara Uni Eropa yang melibatkan 25.142 partisipan. Akses internet bagi anak-anak di Eropa telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Rata-rata anak-anak mengakses secara rutin 88 menit dalam sehari, dengan kisaran satu jam untuk usia 9 – 10 tahun dan dua jam untuk anak usia 15 – 16 tahun. Beberapa negara seperti Norwegia, Swedia, Denmark, Finlandia dan Belanda melakukan pengawasan di atas rata-rata terhadap anak-anak mereka dalam menggunakan internet. Hanya saja, pun mereka melakukan pengawasan tersebut, risiko atas bahaya internet bagi anak tidak serta merta hilang.

Jika berkaca dari hasil penelitian tersebut,  kita mungkin akan bertanya – bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di tahun 2017, sebagian besar responden mengaku mengakses internet lebih dari enam jam setiap hari. Ada sekitar 55,39 persen dari total responden yang setiap hari mengakses internet lebih dari enam jam. Sementara responden lain lebih bervariasi, mulai dari 2 sampai 6 jam sehari. Bagaimana dengan penggunaan internet pada anak-anak? Sejak tahun 2016, APJII kemudian menemukan fenomena anak-anak di Indonesia yang mulai bersentuhan dengan internet. Rentang usia anak 10 – 14 tahun mencapai 768 ribu pengguna. Dan jumlah tersebut terus bertambah dari tahun ke tahun. Bukan menjadi hal yang tidak mungkin, bila hal buruk amat mudah ditemukan dalam dunia internet dan anak. Hanya saja, melarang anak untuk tidak mengenal internet juga bukan pilihan yang bijak.

Keluarga tentu saja sebisa mungkin memikirkan rancangan strategi untuk memecahkan masalah ini. Akan sangat berbahaya jika sentuhan internet jauh lebih tinggi dibandingkan orang tua itu sendiri. Sebab itulah, digital parenting bisa menjadi pilihan untuk menghadapi atau mengatasi masalah yang selama ini kita khawatirkan akan terjadi. Hanya saja, terkadang orang tua sendiri yang membuat perangkap bagi anaknya. Mereka membuat akun media sosial anaknya meski usianya belum sesuai dengan ketentuan yang disediakan.

Akhirnya, ada beberapa hal yang tak diinginkan dengan mudah terjadi dan mencelakai anaknya sendiri. Pasalnya, masih banyak yang mengira jika anak menggunakan internet tanpa kontrol tak lebih berbahaya dibandingkan interaksi anaknya dengan lingkungan buruk di sekitar rumah atau sekolah. Bagaimana jika internet adalah sungai yang mengalir deras dan dalam?

Beruntunglah, jika sebuah keluarga mulai paham dengan konsep digital parenting yang beberapa tahun belakangan ini mulai berkembang. Dalam sebuah jurnal penelitian lainnya yang berjudul, Digital Parenting: Designing Children’s Safety ditulis oleh Jennifer A. Rode. Dalam penelitian Jenniffer, kita bisa belajar tentang strategi merancang digital parenting. Pada dasarnya, penelitian terhadap anak-anak dan internet memang terbilang kurang mendapatkan perhatian dibandingkan kategori usia lainnya seperti remaja dan dewasa. Hal ini menjadi peluang besar bagi para peneliti untuk memulai sebuah langkah dalam menyelamatkan anak-anak dari bahaya internet. Bahkan dalam bidang Human Computer Interaction (HCI) anak-anak masih belum tersentuh dengan baik.

Dari hasil wawancara dengan tujuh keluarga, dengan mewawancarai orang tua dan anak secara langsung, beberapa hal menarik ditemukan. Terdapat lima aturan dalam menjaga keamanan anak dalam menggunakan internet. Aturan pertama, penggunaan laptop atau ponsel dihubungkan dengan aktivitas lain seperti, “bisa mengakses internet setelah mengerjakan PR, setelah membersihkan, dan lain-lain.” Aturan kedua, orang tua memberikan kepercayaan untuk tidak mengakses situs-situs yang tidak semestinya. Aturan ketiga, orang tua melakukan pengamanan terhadap beberapa situs tertentu, mengklik pop-up, konten dewasa. Aturan keempat, lebih spesifik dari sebelumnya, anak-anak diizinkan menggunakan laptop saat orang tua berada di sekitarnya, serta tidak menerima kontak dengan orang yang tak dikenal di sosial media, pintu tetap terbuka saat mengakses internet di kamar. Hal ini bertujuan untuk upaya pengawasan dari orang tua. Kelima, membangun komunikasi dengan anak secara langsung untuk tidak membuka situs-situs tertentu.  

Pada dasarnya, peran orang tua sangat dibutuhkan dalam tercapainya keamanan saat menggunakan internet. Komunikasi aktif dengan anak menjadi langkah penting namun terabaikan begitu saja. Penggunaan anak terhadap teknologi menjadi kunci dari keberhasilan orang tua dalam mencegah terjadinya hal-hal buruk. Aturan atau langkah dalam menangani masalah ini tentu saja beragam. Hanya saja penerapan akan kembali bergantung dari kondisi keluarga dan kreativitas orang tua dalam menjaga anak agar terhindar dari bahaya penggunaan internet secara bebas.

Menjadi Orang Tua Masa Kini

Di tengah pesatnya perkembangan internet dari tahun ke tahun, kita bisa melihat laporan bahwa internet kebanyakan digunakan hanya untuk mengakses situs-situs media sosial, seperti facebook, instagram, twitter dan masih banyak lainnya. Salah satu yang luput dari cara kita menggunakan internet adalah ketidaksadaran kita untuk menjadikan internet sebagai ruang belajar. Membayangkan internet sebagai “perpustakaan raksasa” mungkin jarang kita lakukan.
Masalah yang jauh lebih parah adalah keinginan belajar dari orang tua yang kadang berhenti. Padahal, memiliki anak semestinya diikuti dengan pengetahuan baru yang terus disegarkan dan dikembangkan. Sudah hal yang lumrah kita temukan hari ini, anak mengajari orang tua menggunakan ini dan itu. Sedang, bagi yang belum berkeluarga atau belum memiliki anak, semoga keinginan belajar itu mulai dikembangkan dan dimulai sejak dini.  

Beberapa situs di bawah ini bisa menjadi rujukan untuk dipelajari para orang tua atau calon orang tua:

Babycenter.com

Melalui situs babycenter.com, kita dapat belajar tentang anak sejak masa kandungan hingga usia perkembangan. Beberapa artikel menarik dapat kita gunakan untuk mengembangkan buah hati.

Fatherly.com

Berbeda dengan situs sebelumnya, pada situs fatherly.com, terdapat beberapa artikel khusus untuk calon ayah atau seorang ayah. Dengan beragam topik seperti kesehatan, penelitian, kasih sayang dan beberapa hal menarik lainnya.

National Geographic Kids

Situs ini menyediakan artikel sederhana untuk para orang tua yang dapat membantunya dalam menjawab sejumlah pertanyaan-pertanyaan anak yang kadang sulit dijawab. Beberapa video serta majalah di desain untuk anak dan dengan dampingan orang tua, hasil yang didapatkan bisa lebih maksimal dan berkualitas.

Dan masih banyak lainnya seperti, ABCmouse.com, PositiveParenting.com, Parents.com dan lain-lain.

Tak kalah dengan beberapa situs di atas, kita juga bisa menemukan beberapa artikel menarik melalui situs sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id yang menyediakan artikel, e-book, info grafis, kisah keluarga, forum khusus dan info kegiatan menarik. Melalui sahabat keluarga pula, kita bisa kembali menemukan lima konsep digital parenting untuk para orang tua.

sumber: sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Pertama, Kritisi – pada kemampuan ini orang tua sebisa mungkin untuk menjaga dan mengecek apa yang diakses oleh anak. Memastikan jika situs itu aman dan pantas untuk digunakan anak. Kedua, Diskusi – seringkali orang tua sekadar melarang tanpa mampu menjelaskan apa yang semestinya. Diskusi akan sangat penting untuk membangun kesadaran anak dalam menggunakan internet. Ketiga, Batasi – penting pula bagi orang tua untuk memberi batas bagi anak dalam mengakses atau menggunakan perangkat digital. Keempat, Patuhi – pada bagian ini aturan yang dimuat mesti disertai dengan proses mematuhi dan mengikuti langkah yang disepakati dari awal. Terakhir, Nikmati – orang tua bisa bersama anak dalam mengakses atau belajar bersama dan menikmati manfaat yang semestinya dari internet.

Dunia yang terus berkembang membawa kita menjadi manusia dengan beragam masalah dan peluang. Internet bisa menjadi bagian dari masalah sekaligus peluang. Tapi, jikalau saja orang tua membiarkan anak kecil yang belum pandai berenang untuk mendekat hingga terseret arus deras internet, ucapkan selama tinggal pada kebahagiaan itu sendiri. Mari kita renungkan pesan dari Desmond Tutu, seorang Teolog asal Afrika Selatan,  mengatakan, “Kau tak memilih keluarga. Mereka adalah karunia Tuhan kepadamu, begitu pun kehadiranmu bagi mereka”

No comments:

Powered by Blogger.