Pesta Paradoks dalam Remeh Temeh Kundera


Mengapa Kundera disebut sebagai seorang filsuf? Bagi saya, buku The Festival of Insignicance (yang kemudian diterjemahkan oleh Lutfi Mardiansyah dengan judul Pesta Remeh Temeh: Penerbit Trubadur) menjadi salah satu bukti atas sebutan itu. Bagi Kundera, dia selalu berpesan bahwa “menjadi penulis bukan untuk menghkhotbahkan kebenaran melainkan menemukan kebenaran.” Kekuatan di buku ini bisa jadi sebuah kebenaran yang didapatkan dari hasil perenungan mendalam seorang Kundera. Betapa tidak, dengan jumlah halaman yang terbilang tipis, karya ini menjelma sebagai novel yang begitu padat. Dia berhasil merangkai cerita remeh temeh dan kisah Stalin dalam konsep humor pesimisme yang dikagumi Kundera.

Magazin.aktualne.cz


Pada bagian awal, Stalin mencoba untuk menceritakan sesuatu yang mungkin akan membuat prajuritnya tertawa dengan leluconnya. Cerita tentang “dua puluh empat ekor ayam hutan.” Tapi apa yang terjadi, tak seorang pun tertawa dan semua hanya menganggap jika kamerad itu tengah membual. Kisah ini pun kemudian berlanjut dan membangun bagian lain dari novel tipis Kundera. Setelah sebelumnya  di bagian awal, seorang tokoh bernama Alain dihinggapi pertanyaan remeh tentang pusar.

Apakah kau pernah berpikir tentang pusar dan daya tarik seorang perempuan? Jika di masa sebelumnya, daya tarik seksual perempuan akan membawa kita pada payudara, pada, dan pantat, kali ini sebuah konsep tentang pusar pun berkembang. Inilah bentuk remeh temeh pertama yang ditawarkan penulis yang juga menggemari Franz Kafka. Dalam sebuah wawancara bersama Olga Carlisle yang dimuat , Kundera menyebutkan bahwa The Castle karya Kafka dan The Good Soldier Schweik karya Jaroslav Hasek memberikan semangat Praha yang baginya kemudian dilanjutkan bahkan dikembangkan.  

Semula, saya berpikir keremehan memang sesuatu yang remeh. Sudah, itu saja. Tapi suara dari novel ini, hadir membantah orang-orang yang beranggapan sederhana dan dangkal seperti saya. Dengan tokoh-tokoh yang diciptakan saling mengisi hingga terjalin cerita yang rapi. Berawal tentang pertanyaan pusar itu, pembaca akan dibawa hingga bagian akhir dengan rasa ingin tahu yang kuat. Ada dengan pusar seorang perempuan? Apakah itu sesuatu yang punya makna?

Menghidupkan tokoh dengan ingatan serta pertanyaan pedih masa lalu juga menjadi keahlian Kundera. Bahwa pertanyaan remeh itu hadir dari ingatan sedih tentang anak dan seorang ibu yang tak pernah mengharapkan kehadirannya. Ingatan Alain dan juga Charles mewarnai novel ini. Terlebih paradoks yang digambarkan dari seorang ibu, di mana sebagian besar perempuan mendamba hadirnya seorang anak, namun kali ini berbeda. Kisah utuh dalam buku ini, bisa saja kita sebut sebagai humor gelap yang berusaha menertawakan kebimbangan kita dalam melihat masa kini. Seorang tokoh pun harus dibawa dalam kebimbangan berbohong dan kecemasan antara hidup dan mati seperti yang dilakukan D’Ardelo. Harapan dan bentuk kekecewaan yang mudah ditemukan dalam Ramon. Satu per satu tokoh demi tokoh mengalami pesta remeh temeh yang parah diselingi paradoks kehidupan masing-masing. Paradoks menjadi bagian pesta lain dari Kundera.   

Mari kita rayakan remeh temeh ini. Namun tidak dengan cara yang biasa. Jawaban tentang pusar pun akan diungkap di bagian akhir buku ini. Apa yang lebih remeh dari hari ini? Kundera tentu saja akan tertawa atau mungkin sedari dulu, dia mampu melihatnya. Bahwa hari ini, kita menjadi manusia yang terus menerus hidup dalam bentuk paling remeh dan rapuh. Sedang Kundera, barangkali hendak menyadarkan kita bahwa dari keremahan, sesekali patutlah kita mencari kebijaksanaan yang jernih.

Jika harus membuat panduan membaca Kundera, The Festival of Insignicance akan menjadi buku pertama dari dia yang selanjutnya akan membuat anda mengenal dan mengangumi filsuf, esais sekaligus novelis ini. Aduh, maaf saya tak menjawab pertanyaan pertama saya dengan baik, silakan baca sendiri. Barangkali jawaban saya hanyalah keremehan yang kalah dan payah. 

*Tulisan ini juga dimuat dalam Majalah Online LigteraZine Vol.4 April 2018. 

No comments:

Powered by Blogger.