BATIK DALAM KAREBOSI JUNCTION DAN KENANGAN DI KANADA

Setiap kali mendengar kata “batik,” ingatan saya dengan mudahnya terlempar pada suatu masa. Apalagi, sekarang tengah berlangsung Festival Batik Nusantara di Karebosi Junction hingga 25 Desember. Namun, sebelum bercerita tentang festival itu, saya hendak menceritakan ingatan tentang batik itu.

Pengalaman ini saya dapatkan saat menjadi peserta pertukaran pemuda antar negara di Kanada tahun 2012. Pada program itu, peserta menerima orang tua angkat yang telah ditentukan sebelumnya. Ibu angkat saya bernama Gweneth. Tulisan ini mungkin tidak akan lahir jika sejumlah pertanyaan itu tak terlontar dari mulutnya.

“Apakah kau mengetahui tentang batik?”

Saya mengangguk.

“Apakah kau pernah membuat batik?”

Saya menggeleng pelan.

Selepas santap malam, kami senang berkumpul dan bercerita. Malam itu, setelah saya menggeleng, Gweneth mendorong kursinya ke belakang lalu berdiri dan melangkah menuju dapur. Saya mengira dia hendak menghindangkan teh seperti kebiasannya di malam-malam terdahulu. Tak lama berselang, dia kembali dengan membawa kantongan putih.

“Malam ini, aku ingin melihatmu membuat batik!” katanya sembari mengeluarkan dua buah canting. Saya tentu saja heran, melihat canting di Kanada dan diajak membuat batik menjadi pengalaman berkesan. Gweneth mendapatkan canting dan peralatan itu dari belanja online, dia menceritakan itu setelah saya penasaran dengan canting yang ada di rumahnya. Gweneth juga mengajar di salah satu universitas di kota itu, dan dia mengajak dan mengajarkan mahasiswanya untuk membuat serta mengenal batik.

“Luar biasa” batinku kala mendengar ceritanya.

Kurang lebih dua jam, saya mencoba untuk membuat motif batik dengan melihat beberapa gambar di google. Ada motif batik Solo, Pekalangon, Mega Mendung, Malang, Tasik, Kawung, Jepara, dan sebagainya. Waktu itu, saya ingin membuat motif Mega Mendung yang nantinya akan saya modifikasi dengan awan dari kelompok Akatsuki dalam serial kartun Naruto. Seperti artinya, Batik yang berasal dari bahasa Jawa, yakni “amba” yang bermakna menulis dan “titik” yang bermakna titik. Hingga jika digabungkan akan bermakna menulis titik-titik. Saya memulai dengan membuat titik-titik di atas kain yang telah disediakan. Tapi apa daya, harapan selalu lebih baik dari kenyataan, dan kenyataan selalu lebih buruk dari perasaan melihat kenyataan itu sendiri. Malam itu, saya gagal membuat batik. Tapi saya tetap senang, melihat Gweneth dengan semangat memperkenalkan batik di kampusnya.     

Batik dan Life Style Masa Kini

Saat Batik di klaim Malaysia, respon kita beragam. Namun satu hal yang patut kita syukuri adalah, pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO mendeklarasikan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Sehingga hal tersebut menegaskan identitas kita dan batik yang selama ini ada di Indonesia. Hari itu pula kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik. Menjaga batik menjadi tanggung jawab kita bersama. Karebosi Junction pun memutuskan untuk memberi kontribusi untuk menjaga hal tersebut. Festival Batik Nusantara menjadi langkah nyata dalam menjaga batik sekaligus mendorong kemajuan batik.

Di Festival Batik Nusantara, ada pula fashion show yang melibatkan siswa SMA, Mahasiswa hingga karyawan hotel. Bayangkan saja, batik akhirnya didesain menjadi life style masa kini. Batik tidak lagi digunakan oleh kalangan tertentu, kini batik bisa menjadi sesuatu yang penting bagi pemuda hingga orang tua. Di festival ini pula, pengunjung dengan bebas menikmati serta dapat memiliki batik yang sesuai dengan kesukaannya. Tak salah jika Karebosi Junction dianggap sebagai pusat perbelanjaan batik.  

Selain itu, kegiatan ini akan memberikan ruang pada masyarakat untuk mengenali beragam produk dalam negeri. Kita bisa melihat batik dari Solo, Cirebon, Jepara, Pekalongan, dan sebagainya. Apakah kau akan melewatkan kesempatan ini begitu saja? Festival ini berlangsung cukup lama, kita bisa datang dan berbelanja atau belajar mengenal batik yang ada di nusantara. Secara tidak langsung, dengan adanya festival ini, batik akan mengambil peran dalam life style kita selama ini. Mencintai batik berarti menjadi Indonesia. Bukan cuma Indonesia, tapi di luar negeri pun batik akan dikenal dan dikenang. Cerita saya tentang Gweneth, adalah satu dari sekian banyak cerita di luar sana.

Rasa-rasanya besok, saya ingin membeli batik di Karebosi Junction untuk dikirim ke Gweneth. Eh, apalagi kalau saya menang lomba blog. Semoga semangat Karebosi Junction terus berkembang hingga menjadikan batik sebagai jantung ekonomi, budaya, dan sosial di Indonesia, khususnya di Makassar. Dan esok, kita tak akan lagi segan untuk bertanya, “Besok, kamu pakai batik apa lagi?”




No comments:

Powered by Blogger.