Pengakuan Lelaki Penjual Parfum

“Kau tak boleh membuka tutup botol parfum ini. Hanya dia yang mesti mencium aroma pertamanya” Lelaki yang menerima pesan itu bertubuh gempal dengan hidung pesek yang agak sedikit melebar. Pesan itu ia terima sejak sebulan kemarin dari tuannya, seorang lelaki kurus yang telah meracik aroma parfumnya sedemikian rupa. Setelah berhasil memadukan aroma jasmine dan mawar, ia menemukan racikan lain yang kemungkinan akan disukai oleh banyak orang. Parfum yang nantinya akan dijual di tokonya. Tapi racikan pertama itu hendak ia hadiahkan pada seseorang terlebih dahulu.Aroma ketumbar dan merica ia kombinasikan dengan buah jeruk mandarin dan jeruk citrus ditambah dengan aroma jasmine membuatnya yakin jika itu akan memberikan kesegaran yang luar biasa. Semula ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa kelak akan membuat parfum istimewa untuk orang yang sangat ia cintai.

Sayangnya, orang yang ingin diberikan parfum istimewa itu meninggal dan membuat lelaki hidung pesek harus berbohong kepada tuannya jikalau parfum yang ia bawa telah diterima dengan penuh rasa haru dan bahagia. Ia membayangkan tuannya tersenyum sendiri tiap kali ia membayangkan ekspresi si penerima kala menghirup dan memakai parfum itu.  Sebab lelaki pesek itu paham betul akan perasaan tuannya, sebisa mungkin ia berdusta demi membuat perasaan tuannyatetapberbahagia. Terlebih jika ia kembali mengingat bahwa proses pembuatan parfum itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Lelaki itu benar-benar berbohong sesukanya. Tapi ia berbahagia dengan kebohongan yang ia ciptakan sendiri.

Jika mengingat perjalanannya, ia merasa pantas untuk berbohong. Jarak tempat si penerima parfum sangatlah jauh dari tempat lelaki hidung pesek dan tuannya itu berada. Lelaki hidung pesek itu mesti menempuh empat sampai lima jam perjalan dengan menggunakan bus, hingga tiba di pelabuhan, ia harus menyeberangi pulau dengan kapal feri selama kurang lebih dua jam untuk tiba di Kepulauan Selayar. Selanjutnya, ia harus menempuh perjalanan sejauh 60 KM, menuju desa Appatanah, desa tempat si penerima itu berada. Di desa Appatanah, tak ada sinyal handphone sama sekali bahkan listrik pun belum terpasang, pak pos sendiri jarang membawa kiriman di tempat itu. Sebab itu, demi memastikan hadiah itu diterima dengan baik, secara khusus lelaki kurus itu meminta bantuan lelaki hidung pesek, yang memang setia dan telah bekerja selama dua tahun dengannya. Demi misi khusus itu, lelaki kurus itu memberikan jatah liburan yang cukup panjang untuknya serta bonus gaji yang cukup digunakan untuk bersenang-senang.

Akhirnya, sepulang dari menjalankan misi itu, ia menikmati waktu liburan itu untuk bermalas-malasan di dalam kamarnya. Ia hanya mengirimkan pesan singkat pada tuannya bahwa ia telah tiba dan berhasil menjalankan misi khususnya. Dan seperti yang ia harapkan, tuannya tersenyum sembari membayangkan parfum racikannya menebar aroma yang damai dan membuat si penerima merasakan kebanggaan yang tak terkira. Sehari menjelang masa liburnya berakhir, di dalam kamar, lelaki pesek itu memikirkan tentang si penerima parfum dan juga aroma yang ada di dalam botol parfum istimewa itu. Ia sama sekali tak berani bertanya tentang alasan mengapa orang itu mendapatkan hadiah parfum dan perlakuan istimewa dari tuannya.Ia sendiri tak tahu, apakah penerima itu adalah seorang lelaki atau perempuan. Tapi ia seakan-akan sangat yakin, jika orang itu adalah kekasihnya yang dulu berpisah beberapa tahun yang lalu dengan tuannya.

Ia sangat ingin melihat wajah penerima itu, tetapi, yang ia temui di alamat yang diberikan tuannya hanyalah rumah panggung yang pintu dan jendelanya tertutup rapat. Serta pesan dari seorang anak kecil berusia sepuluh tahun. Anak itudengan bahasa daerah khas menjelaskan jikalaupemilik rumah itu telah meninggal tiga tahun yang lalu. Lelaki pesek itu beruntung punya teman yang sering menggunakan bahasa yang serupa sehingga ia tak kesulitan menerjemahkan pesan anak kecil itu.Saat mendengar kabar itu, ia tak tahu harus berbuat apa. Kala itu, ia berencana meninggalkan botol parfum di depan pintu begitu saja. Tapi tiba-tiba, ia mendengar suaraku yang serak disertai batuk yang tertahan di dada. “Bawa saja parfum itu... (aku terbatuk cukup lama) dan katakan jika aku telah menerimanya dengan bahagia!”Saat itu ia terdiam dan tanpa sepatah kata pun, ia berbalik menuju jalan pulang ke kota. Sepanjang perjalanan, aku membantunya untuk menyusun rencana agar tuannya tetap bahagia.

Aku tak bisa menjelaskan dengan baik antara mengapa dan bagaimana ia bisa dengan jelas mendengarku, tapi sebelum ia tiba, kulihat ia tertidur di atas kapal yang tengah diserang gelombang tinggi dan dikelilingi kabut yang menghalangi jarak pandang awak kapal. Walhasil, kapal yang ia tumpangi tenggelam, dan tanpa sadar ia pun ikut tenggelam beserta ratusan penumpang lainnya. Saat ia terbangun, ia temukan dirinya berdiri di pelabuhan dan berjalan menuju arah mobil yang hendak menuju desaku. Di dalam mobil, aku berbincang dengannya dan ia sempat menawarkan beberapa merek parfum ternama. Aku juga sempat bercerita jikalau dulu, aku sempat ingin membuka toko parfum bersama kekasihku, tetapi ia berencana menikah dan aku memilih pergi ke desa Appatanah. Saat aku menyebut nama desaku, lelaki pesek itu memperlihatkan alamat yang diberikan tuannya. Aku mengantarnya hingga tiba di halaman rumahku sendiri, setelah itu kubiarkan ia naik ke tangga, mengetuk pintu, dan terus mengucapkan salam di depan pintu. Berselang beberapa menit, aku meminta seorang anak kecil untuk menyampaikan pesan yang sebenarnya. Dulu, anak kecil itu meninggal karena keracunan makanan.


Baru setelah itu, aku bersembunyi dan menyampaikan pesan serta sejumlah cara agar ia tenang dan tetap merasa berhasil menjalankan perintah dari tuannya. Saat ia pulang ke rumahnya, dengan mudah aku menemukan alamatnya, dan kulihat pintu dan jendela rumahnya tertutup rapat. Tapi aku terus memanggilnya, sebab aku ingin sekali mencium aroma parfum itu. Lalu akan kuceritakan yang sebenarnya pada lelaki pesek itu, bahwa aku juga pernah menjual parfum, dan juga aku adalah kekasih dari tuan yang membunuhnya dan yang juga membunuhku. Tapi, lelaki pesek itu benar-benar menikmati liburannya dengan bermalas-malasan di kamar (sembari memikirkan aroma parfum istimewa itu).*


*Cerpen ini dimuat Bali Post, Minggu 19 November 2017. Jika ingin mengirim cerpen di Bali Post, teman-teman bisa mengirim via email balipostcerpen@yahoo.com

No comments:

Powered by Blogger.