Albert Camus — terjemahan esai dari William Faulkner


CAMUS mengatakan bahwa satu-satunya fungsi sejati dari manusia, yang terlahir dalam dunia yang absurd, adalah hidup, menyadari kehidupan seseorang, pemberontakan seseorang, kebebasan seseorang. Dia mengatakan bahwa jika satu-satunya solusi untuk dilema yang manusia alami hanyalah kematian, terlebih lagi kita berada di jalan yang keliru. Jalur yang tepat adalah jalan yang menuju kehidupan, menuju sinar matahari. Seseorang tak akan pernah berhenti merasakan penderitaan atas rasa dingin.
Maka dia memilih memberontak. Dia memang menolak menderita atas kedinginan yang tak pernah berhenti. Dia menolak mengikuti jejak yang hanya mengarahkan kita menuju kematian. Jalur yang dia ikuti adalah satu-satunya kemungkinan yang tidak mengarah pada kematian. Jalur yang dia ikuti mengarah menuju sinar matahari yang menjadi satu kepastian yang membuat kekuatan kita rapuh dan bentuk absurd yang kita miliki, sesuatu yang tak ada dalam kehidupan kita sampai kita benar-benar berhasil mewujudkannya.
Dia mengatakan, ‘Aku tidak percaya jika kematian membuka kehidupan lain. Bagiku, ini adalah pintu yang jelas akan menutup.’ Artinya, dia mencoba mempercayainya. Tapi dia gagal. Terlepas dari dirinya sendiri, seperti semua seniman, dia menghabiskan hidupnya untuk mencari dirinya sendiri dan menuntut jawaban dirinya sendiri yang hanya Tuhan yang akan tahu; Ketika dia menjadi peraih Nobel tahun ini, aku menghubunginya ‘On salut l’âme qui constamment se cherche et se demande’; Mengapa kemudian dia tak berhenti saat itu juga, jika dia tidak ingin percaya kepada Tuhan?
Begitu dia menabrak pohon, dia masih mencari dan menuntut dirinya sendiri; Aku tidak percaya bahwa dalam sekejap dia berhasil menemukannya. Aku tidak percaya hal seperti itu dapat ditemukan. Aku percaya hal itu hanya untuk dicari, terus-menerus, selalu saja dengan beberapa orang yang rapuh dari absurditas manusia itu sendiri. Yang tidak akan pernah dalam jumlah yang banyak, tapi akan selalu ada di suatu tempat setidaknya satu orang, dan satu itu akan selalu cukup.
Orang-orang akan bilang bahwa dia terlalu muda; Dia tidak punya waktu untuk menyelesaikannya. Tapi bukan persoalan berapa lama, bukan persoalan berapa banyak; Itu semua, secara sederhanya hanyalah Siapa. Ketika pintu tertutup untuknya, dia telah menulis di sisi ini, di mana setiap seniman yang juga menjalani hidup bersamanya yang mengetahui dan juga membenci kematian, berharap dapat melakukan hal serupa: Aku sudah tiba di sini. Dia melakukan itu, dan mungkin pada waktu yang tepat dia bahkan tahu jika dia telah berhasil. Apa lagi yang dia inginkan?
***

[Transatlantic Review, Spring 1961; the text printed here has been taken from Faulkner’s typescript. This previously appeared in Nouvelle Revue Française, March 1960, in French.]

1 comment:


  1. An impressive share! I've just forwarded this onto a colleague who has been doing a little research on this. And he in fact bought me dinner because I found it for him... lol. So allow me to reword this.... Thank YOU for the meal!! But yeah, thanx for spending the time to discuss this matter here on your blog. capitalone.com login

    ReplyDelete

Powered by Blogger.