"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Sunday, July 23, 2017

Bertemu Kawabata dan Freud

9:38 AM Posted by Wawan Kurn 2 comments

Ada kalanya saya meragukan 144 sks yang saya dapatkan di kampus, dan saya rasa, seperti itulah kenyataannya. Ada keraguan yang terjaga dan rasa ingin tahu yang tak terpenuhi akibat kemalasan. Kemelut seperti ini menjengkelkan, tapi keseriusan untuk belajar atau menikmatinya, mungkin adalah akar masalah yang belum bisa saya jelaskan dengan baik. Sebagai mahasiswa fakultas psikologi, jika harus membeberkan daftar dosa dari ketidakmampuan menikmati proses belajar, saya rasa itu akan menjadi sesuatu yang mengerikan dan tidak penting. Kalau pun nanti jadi penting, semoga tidak dalam waktu dekat ini.

Hal baik yang saya dapatkan dari ilmu psikologi adalah saya belajar tentang manusia, di sana manusia seperti bunga mawar yang baru mekar, dan kadang pula manusia menjelma sebagai serigala kelaparan yang terus mengincar mangsanya. Di tengah kemungkinan saya membenci manusia, pelajaran di psikologi membuat saya perlahan melihat berbagai keunikan dari manusia. Dan Sigmund Freud, menjadi salah satu tokoh yang sangat keras kepala dalam mempertahankan temuan-temuannya. Dari dirinya, saya belajar beberapa hal yang belum tuntas terjelaskan.

Kemarin, saat saya membaca ulang cerpen “Tahi Lalat” dan “Sang Juru Makam” entah mengapa saya teringat dengan konsep yang ada di kepala Freud. Sebenarnya, saya membaca ulang untuk membuat review lengkap untuk promosi buku “Daun-daun Bambu” di toko buku online Bookslab (silakan di follow ya terus pesan buku-buku kerennya...)  tapi jadinya seperti ini.

*

Pengalaman-pengalaman tokoh dalam dua cerpen Kawabata itu sebenarnya adalah bentuk penjelasan yang menarik. Saya kadang membayangkan, di kelas psikologi, para dosen mulai mengajak mahasiswa untuk gemar membaca sastra dan belajar menikmati kemungkinan cerita dan karakter tokoh dari sana. Tentu itu akan jauh lebih menyenangkan. Tapi, bisa jadi ini hanya berlaku untuk orang-orang tertentu. Berhasil atau tidaknya, saya belum bisa jawab. Tapi ini patut dicoba! Saya sempat membayangkan itu (dulu saat saya ingin jadi dosen) dan jika saya saya tidak berhasil mewujudkan itu, semoga saja ada dosen lain yang memikirkan cara itu.

Di cerpen “Tahi Lalat” terlihat kemampuan Kawabata dalam menciptakan kekuatan melalui hal remeh yang kadang kita abaikan, tahi lalat. Adanya tahi lalat itu membuat si tokoh utama terus mengenang sekaligus mendapat masalah dari kebiasaannya memainkan tahi lalatnya. Ada masalah dengan suami dan pertanyaan masa lalu untuk ibunya. Yang menyenangkan adalah, Kawabata membuat cerita ini berpindah dan melapisinya dengan ingatan-ingatan yang menurut Freud akan tertimbun dan terjaga dalam alam bawah sadar. Dan juga “Sang Juru Makam” tokoh utama yang hidup dalam kesendiriannya, ingatan terus membawanya pada pengalaman-pengalaman mengunjungi berbagai pemakaman. Ia juga terlatih untuk merasakan kesedihan, memahami makna lain dari kematian. Sebagai mahasiswa yang pernah dapat nilai yang baik pada bahasan tentang psikoanalisis, saya berharap bisa menulis cerpen serupa. Tapi ya... mungkin tak sebaik Kawabata. Atau mungkin Kawabata muncul dan membaca cerpenku lalu dia akan bilang, “Hmm... terlalu biasa-biasa saja” 

Aduuuh. Saya tulis tentang mimpi saja kalau begitu. Mimpi kalau saya jadi penulis dan saat terbangun, Kawabata datang lagi “Kau perlu lebih banyak mimpi selain malam dan kesedihan” dan setelah itu Freud mengetuk dari jendela, “Bakar saja buku The Interpreation of Dream itu, lalu kau tulis ulang mimpimu!”

     

2 comments:

  1. Selain diliputi hasrat seksual, perasaan dan pikiran tokoh-tokoh dalam karya Kawabata kayak gunung es. Banyak yg harus dikeruk.
    Mishima muridnya Kawabata pun sama rada Freudian juga. Siapa yg tak pengen jadi murid Kawabata?

    ReplyDelete