"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Thursday, July 27, 2017

Belum Ada Judul

3:09 AM Posted by Wawan Kurn No comments

Seorang pasien Rumah Sakit Jiwa di Kota M telah menghabiskan waktunya di kamar X23E selama tiga belas tahun, hari ini ia diputuskan bebas dan berniat menjadi seorang penulis. Sebelum keluar dari ruang adminstrasi RSJ, ia melihat seorang pegawai yang tengah bermain facebook di komputer kantor. Ketika pegawai itu meninggalkan kursinya, ia mendekat ke layar komputer dan membaca “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Ia kemudian mengetik pada bagian pertanyaan itu:

“Aku mengetahui banyak hal tentang jiwa. Jika aku berbaik hati untuk menuliskannya untukmu, apa yang ingin kau ketahui dari jiwa?”

Ia membaca kalimat yang ditulisnya dengan terburu-buru. Ia dengar langkah sepatu pegawai itu mendekat, dan secara tak sengaja ia menekan “tampilkan” hingga kalimat yang dituliskannya itu dibaca oleh puluhan, ratusan atau mungkin ribuan teman facebook pegawai itu. Ia menjauh. Pegawai itu duduk tanpa memperhatikan perbuatan dari pasien itu. 

“Borbanuddin...apa itu nama orang tuamu?”
“Iya, dia juga pernah gila tapi sekarang dia meninggal”
“Semoga kelak anakmu tidak ikut gila seperti kau dan ayahmu”
“Aku memang tak berniat punya anak, sudah terlalu banyak orang gila di dunia ini. Kau mungkin juga akan gila nantinya”

Pegawai itu terdiam. Dan pasien itu tersenyum lalu keluar dari RSJ dengan kembali memikirkan pertanyaan, “Apa yang sedang kau pikirkan?” 

Pikirnya, “Itu pertanyaan pertama bagi orang-orang yang ingin jadi gila. Di komputer tempat ini, semua orang sebentar lagi jadi gila. Ah... apa yang sebenarnya kupikirkan? Sekarang aku hanya butuh kertas dan pulpen, dan mungkin mencari kamar yang mirip dengan kamar X23E”

Kota M semakin ramai. Tak jauh dari pintu keluar, ia mulai mengingat sesuatu yang bisa jadi akan membuatnya benar-benar menjadi seorang penulis. Ia mengingat pamannya, Arbahim – seorang yang dianggap gila sebab memilih menghabiskan waktunya dengan bermain catur dengan teman-temannya atau jika teman-temannya tak kunjung datang, ia akan bermain melawan dirinya sendiri. Arbahim, satu-satunya keluarga yang ia punya setelah tiga belas tahun yang lalu ia membakar rumahnya sendiri dan tiga rumah tetangga lalu tertawa melihat api bekerja. Hanya ia yang berhasil selamat, dan semenjak kejadian itu ia terus tertawa tanpa henti selama tiga jam lalu tiga jam berikutnya ia menangis, tiga jam berikutnya ia tertawa, lalu menangis dan begitu seterusnya. Seorang mahasiswi psikologi bernama Masrah dengan segera menghubungi pihak Rumah Sakit Jiwa XMASKD Kota M.


Dan di kamar X23E, seorang pasien berusia dua puluh empat tahun bertemu dinding-dinding biru kusam, yang sedikit retak. Dinding itu pula yang menjadi kawan bagi si pasien baru itu. Hingga grup band Sheila On 7 menemukan lirik “Aku mulai nyaman berbicara pada dinding kamar. Aku takkan tenang saat sehatku datang” dan merilisnya beberapa hari setelah pasien itu terkurung dalam kamar di tahun 2004, pasien itu terlebih dahulu menyanyikannya dengan tangis yang diikuti tawa kecil. Pasien itu terus berbicara dengan dinding kamarnya, tapi percaya atau tidak, dinding kamar telah menyembuhkan sejumlah orang gila dan berhasil menyelamatkan beberapa orang yang nyaris menjadi gila.*    


(*Tulisan ini bagian awal dari novel yang saya rencanakan, semoga bisa dilanjutkan dan diselesaikan) 

0 comments:

Post a Comment