"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Friday, July 14, 2017

Allende dan Cerita Tiga Generasi

11:12 AM Posted by Wawan Kurn , No comments
 
Isabel Allende, 2 Agustus 1942

Clara menjadikan novel “The House of Spirits” benar-benar terasa menarik. Ia juga menjadi simbol perlawan perempuan dalam menghadapi kerasnya watak dominan seorang lelaki. Dari berbagai kemampuan yang dimiliki Clara, saya merasa pusat kekuatan Magical Realism novel ini ada pada kehadiran Clara beserta keganjilan-keganjilannya. Perangai kasar suaminya, Esteban menjadi sebuah aliran panjang yang salah satu sebabnya adalah sikap politik yang ia pegang dan yakini. Karakter Esteban yang kemudian dipertemukan dengan Clara menciptakan percik menarik untuk terus menikmatinya. Dan konon, tokoh Clara yang merupakan seorang cenayang, merupakan cerminan tokoh dari nenek si penulis (Isabel Allende) sendiri yang juga seorang cenayang.  

Apa yang terjadi jika Clara, seorang perempuan yang tenang harus menghadapi serta menjalani kisah rumah tangga dengan seorang lelaki perangai kasar yang kaya raya? Perangainya yang buruk didukung dengan kekayaan Esteban yang melimpah, membuatnya terus melakukan apa saja yang ia inginkan. Akan tetapi, di novel ini pula, Isabel Allende seperti tengah mengikis perangai kasar dari seorang Esteban. Kekejaman serta sikap keras kepala yang telah dipertontonkan Esteban selama puluhan tahun pada akhirnya melewati tiga generasi mulai dari Clara, Blanca, dan Alba. Perjalanan itulah yang menjadi ruang bagi Allende untuk memulai memangkas sikap buruk seorang Esteban. (Ini hanya pendapat pribadi saya, tentu ada juga akan melihat usaha lain dari Allende)  

Blanca sebagai anak pertama dari Clara dan Esteban yang kemudian melahirkan Alba dari hubungan yang tidak direstui oleh Esteban. Pada titik inilah, usaha Isabel Allende mengikis perangai kasar Esteban pun dimulai, namun terlihat keras dan sulit untuk merubah apa yang telah tertanam dan tubuh subur dalam kepala Esteban. Sulit untuk menghadapi lelaki seperti Esteban, lelaki yang terus menerus memaksa dan menciptakan kuasa di mana-mana. Hingga tiba ketika Clara melakukan perlawanan dengan menjadi bisu dan mengabaikan suaminya itu lantaran telah menyiksa Blanca. Menyiksa Blanca yang telah dianggap mempermalukan keluarga dengan menjalin hubungan bersama seorang lelaki hina di mata Esteban. Keberanian Clara tidak sepenuhnya diterima oleh Blanca, puncak segala perlawanan barulah diwariskan secara utuh kepada Alba. Alba pulalah yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan perubahan setelah melewati proses dan peristiwa yang luar biasa.


Bagaimana pun, perubahan Esteban serta kemelut yang ada membiarkan Alba terus berjuang dan merenungi banyak hal. Beberapa kali tercipta pengulangan peristiwa yang kemudian membuat Alba mulai tak percaya akan masa lalu, sekarang dan masa depan. Ia berspekulasi bahwa sesuatu itu berada dalam satu masa yang kemudian terus saling terhubung dan terulang. Bahwa setiap cerita akan menyimpan makna dalam suatu keseluruhan itu sendiri. 

0 comments:

Post a Comment