"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, April 1, 2017

Membaca Borges, Sebelum Berkunjung ke Banggai

5:26 AM Posted by Wawan Kurn , No comments
Sehabis membaca buku “With Borges” dua jam yang lalu, saya mengingat sebuah janji di bulan Februari. Sebelum bercerita tentang janji itu, saya hendak bercerita sedikit tentang Borges. Nama yang sering kali saya sebutkan di beberapa kesempatan saat menjadi fasilitator di kelas menulis. Jorge Luis Borges, seorang penulis asal Argentina yang memiliki peran penting dalam perkembangan sastra abad 20. Saya mulai mengenal Borges dari kutipannya “I have always imagined that Paradise will be a kind of library.”

Jorge Luis Borges


Borges adalah seorang pembaca. Buku menjadi sumber kebahagiaannya. Bahkan ketika ia pada akhirnya mengalami kebutaan, penyakit keturunan yang ia warisi dari ayahnya, ia masih tetap menjalani hidup sebagai pembaca. Ia meminta ibu dan beberapa orang untuk datang membacakannya buku yang ia pilih. Salah satu yang pernah menjadi pembaca untuk Borges adalah Alberto Manguel, yang kemudian pengalaman itu dituliskan dalam “With Borges” dengan jumlah 74 halaman. Buku itu singkat dan menarik untuk anda jika ingin mengenal semangat membaca seorang Borges. Kala ia berusia enam belas tahun, ia menjadi penjaga toko buku Pygmalion di Buenos Aires. Dan di sanalah, Borges sebagai pelanggan setia menemukannya. Selama 1964-1968 ia rutin datang berkunjung di apartemen Borges yang sederhana.    

Menjadi pembaca adalah sesuatu hal yang penuh kebahagiaan bagi Borges. Saya juga hendak menjadi pembaca. Namun, jika bercermin dari semangat Borges, saya rasa apa yang saya lakukan hanyalah omong kosong. Selain menjadi pembaca, saya hendak melihat ada banyak orang yang sadar bahwa buku menyimpan kekuatan yang selama ini dirasakan Borges atau pembaca lainnya. Hanya saja, kenyataan kadang membuat saya berniat untuk berhenti berharap mendamba mimpi seperti itu. Beruntung, saya selalu dikelilingi orang-orang baik yang dengan keras kepala tetap percaya pada utopia masing-masing.   

Mari lupakan data UNESCO tentang rendahnya minat baca di Indonesia dan berusaha melawannya. Belakangan ini, ada banyak komunitas serta gerakan literasi yang tetap konsisten berjuang. Di Makassar sendiri, saya beruntung setiap tahun dilangsungkan, Makassar International Writers Festival (MIWF). Hadirnya MIWF memberikan atmosfer tersendiri, ada banyak teman saya yang kemudian mulai mengenal sastra dan belajar untuk menjadi penulis. Kegiatan ini saya rasa akan menyebar dan menyimpan kekuatan serta harapan untuk menciptakan budaya baca yang lebih baik. Festival Sastra Banggai (FSB) yang akan dilakukan di Luwuk, Banggai Sulawesi Tengah memiliki kesempatan yang juga serupa dengan MIWF.

Saya belum pernah berkunjung ke Luwuk, Banggai. Saya belum bisa bercerita tentang, keindahan Pulo Dua, Pantai Kilolima, Air Terjun Salodik, Air Molino Tontouan dan beberapa destinasi wisata yang menarik. Di bulan April ini, jika teman-teman hendak mencari destinasi wisata, cobalah untuk berkunjung ke Luwuk, Banggai. Saya baru saja memanfaatkan Om Google untuk melihat beberapa foto, video dan artikel tentang keindahan Luwuk, Banggai. Saya percaya bahwa Luwuk, Banggai adalah tempat yang indah.  Dan keindahan yang lebih dari semua itu, saya rasa akan ada hadir dalam Festival Sastra Banggai yang jadwal pelaksanaannya juga bertepatan dengan Hari Buku Sedunia, 23 April.   

Tentu saya tidak akan bercerita tentang bagaimana cara merayakan hari itu dengan baik dan benar. Hanya saja, kehadiran FSB di Kota Luwuk Banggai adalah sebuah ruang yang akan menyenangkan untuk merayakan hari buku sedunia. Di FSB dengan talkshow, workshop selama acara berlangsung ditambah dengan kayanya kesenian Banggai akan menghadirkan budaya baru untuk masyarakat Banggai. Slogan “Rayakan Kata, Bumikan Ilmu” semoga benar-benar hidup hingga Luwuk akan dikenal sebagai kota literasi, kota aksara. Dan orang-orang akan Bangga di Banggai.

***
Pulo Dua, Banggai


Borges menemukan kebahagiaan dalam buku-buku dan di Banggai ada ruang untuk merayakan literasi. Saya berencana untuk datang ke Festival Sastra Banggai. Panitia  menyelenggarakan lomba blog, kita bisa menulis tentang pariwisata, budaya, sejarah atau apa saja tentang LuwukBanggai. Namun apa saya tuliskan tadi hanyalah harapan akan lahirnya orang-orang yang mencintai buku dan hadirnya kota yang mampu merayakan budaya literasi. Dan janji yang saya sebutkan di awal itu adalah menulis tentang Banggai. Saya sempat lupa dengan janji itu, namun kembali membaca Borges mengingatkan saya, bahwa merayakan buku dalam kegiatan FSB tentu adalah sesuatu yang luar biasa. Saya membayakan Banggai akan jadi Kota Aksara yang benar-benar memberi pengaruh untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik.  

Mari merayakan Hari Buku Sedunia di FestivalSastra Banggai 2017. 
#Banggai #FSB2017 #BanggaDiBanggai 

0 comments:

Post a Comment