"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Sunday, March 27, 2016

Pidato Nobel Sastra 2010: Mario Vargas Llosa

7:45 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Pada awalnya saya ingin menerjemahkan pidato Mario Vargas L, namun ternyata saya menemukan pidato itu telah diterjemahkan lebih dulu oleh seseorang yang belum saya kenal. Anda boleh membaca terjemahannya di blog yang ia dedikasikan untuk belajar sastra, alamatnya ada di sini. Ia telah menerjemahkan pidato Mario Vargas yang lebih panjang, jika anda ingin membacanya dalam versi bahasa Inggris, anda boleh berkunjung di sini. Saya harap anda membacanya, pidato yang merupakan pujian Mario Vargas kepada bacaan fiksi. 

Saya pun menerjemahkan pidato singkat yang dibacakan pada saat jamuan makan malam. Pidato yang lebih ringkas dari sebelumnya. Dibacakan beberapa hari setelah mendapatkan penghargaan Nobel. 

***

Sumber gambar ada di link ini.

Saya adalah seorang yang senang bercerita, maka sebelum kita mulai bersulang untuk merayakan semua ini saya akan menceritakan sebuah kisah. 

Alkisah, ada seorang anak laki-laki yang belajar membaca saat usianya lima tahun. Semua itu mengubah hidupnya.  Berhutang pada cerita petualangan yang ia baca, ia menemukan cara untuk melarikan diri dari panti asuhan, dari negara miskin, dan kemiskinan realitas di mana ia berada saat itu, dan perjalanan yang luar biasa, tempat paling indah yang memukau seluruh pendatang dengan makhluk yang ditemukan di dalamnya, dan hal-hal yang paling mengejutkan, di mana setiap hari dan setiap malam memberikan bentuk yang lebih kuat, lebih mendebarkan dibandingkan dengan kebahagiaan pada umumnya. 

Ia begitu menikmati saat mulai membaca sebuah cerita tentang suatu hari lelaki itu, yang kini telah menjadi seorang pemuda, hadir untuk menciptakan mereka dan menulis dirinya sendiri. Ia memiliki waktu yang rumit untuk melakukan semua itu, namun hal itu memberikannya kesenangan dan ia senang menuliskan cerita seperti ia senang membaca seluruh ceritanya.

Karakter dalam cerita saya, bagaimana pun, telah menyadari bahwa dunia sesungguhnya adalah satu hal dan merupakan sebuah dunia yang mewah dari mimpi-mimpi dan begitu pun dengan sastra, dan hal terakhir (sastra) yang saya sebutkan akan muncul ketika ia membaca atau menulis sejumlah cerita. Sisanya, semua akan musnah. 

Hingga suatu hari, di pagi yang terlalu pagi, tokoh utama dari cerita saya menerima panggilan misterius di mana seorang pria dengan nama begitu sulit diucapkan mengumumkan kepadanya bahwa ia telah memenangkan hadiah dan bahwa untuk menerimanya ia harus melalui perjalan ke suatu tempat yang bernama Stockholm, ibukota sebuah daratan yang bernama Swedia. 

Untuk seluruh kebingungan yang ia miliki, karakter saya pun mulai mengalami pengalaman itu dalam kehidupan yang sesungguhnya dari salah satu cerita yang ada disejumlah cerita hingga ia hanya menemukan di dunia yang semu dan dunia nyata dari sastra. Ia tiba-tiba merasa seperti orang miskin, yang mesti merasakan ketika ia mulai kebingungan dihadapan pangeran di Mark Twain, The Prince and the Pauper. Ia masih ada di sana, kutipan yang mengejutkan, tanpa memahami jika ia tengah bermimpi atau benar-benar telah terjaga, apakah semua nyata atau kebohongan, apakah ini adalah hidup sebenarnya atau sastra, karena batas yang memisahkan dua hal tersebut benar-benar mulai musnah. 

Dear teman-teman, sekarang saya bisa mengajak teman-teman untuk bersulang sesuai janjiku di awal tadi. Mari kita bersulang untuk Swedia, kerajaan aneh yang tampaknya telah memperlihatkan, sejumlah hak istimewa, mukjizat yang mengubah kehidupan masuk ke dalam sastra dan sastra masuk dalam kehidupan.

Cheers dan terima kasih banyak!
  

***

Anda bisa membaca versi bahasa Inggrisnya, di sini. Saya ucapkan terima kasih atas kunjungan anda di blog saya yang jarang di update ini. Akhir-akhir ini saya tak tahu harus menulis, sampai saya memilih untuk menerjemahkan hal-hal yang menurut saya penting.

  

0 comments:

Post a Comment