Sejumlah Hal yang Saya Pelajari di Biro Skripsi

“When people talk, listen completely. Most people never listen.” 
― Ernest Hemingway

Saya punya kepercayaan yang aneh. Mungkin saya tidak akan menceritakan seutuhnya di sini, namun membuka tulisan ini dengan bercerita tentang kepercayaan, saya rasa akan menjadi hal menarik untuk dicoba. Tapi, saya kemudian sedikit ragu jika kepercayaan itu gagal saya ceritakan dengan baik dan semestinya. Bisa saja saya dianggap sesat, padahal sebenarnya tidak seperti itu. Lupakan saja kepercayaan saya. 

Saya akan memulainya di tanggal 18 Februari 2015. Tanggal yang tertera di ijazah saya. Hari itu secara resmi saya berhak dengan gelar sarjana psikologi (S.Psi.). Beberapa hari setelah itu, wisuda pun dilaksanakan. Saya lupa kapan tanggal wisudanya. Saya tidak ikut kegiatan itu. Beberapa orang, teman maupun kerabat masih mengira saya mahasiswa. Di sejumlah media sosial yang saya miliki, foto dengan mengenakan toga tidak saya tampilkan. Mengikuti kegiatan ramah tamah pun tidak, entah mengapa saya tidak tertarik dengan perayaan seperti itu. 

Setelah itu, beberapa teman atau rekan pun mulai berlomba-lomba mengejar beasiswa di dalam hingga di luar negeri. Sementara saya, tetap berada di fakultas. Di saat yang bersamaan, saya ditawari untuk ikut membantu mengisi kekosongan fakultas. Saya diminta menjadi staf biro skripsi, jurnal, dan penjamin mutu. Namun, saya lebih banyak bekerja di biro skripsi.

"Membaca buku itu kebahagiaan."
Sumber ilustrasi usatcollege


Terhitung hari ini, saya telah menghabiskan waktu selama sepuluh bulan tiga minggu di Biro Skripsi. Dan hari ini, saya telah menyerahkan tugas itu kepada salah seorang asisten dosen yang siap membantu untuk melanjutkan semuanya. Dan berikut beberapa hal yang saya temukan dan pantas untuk saya catat.   

1.
Skripsi adalah bencana. Salah satu tugas saya di Biro Skripsi adalah memerika kembali daftar pustaka sebelum mereka maju untuk ujian hasil. Memastikan jikalau acuan mereka memang ada dan benar-benar digunakan. Setiap kali mereka membawa rujukan mereka yang bertumpuk, saya selalu iseng untuk bertanya tentang tema penelitian, hasil, dan apa yang ia dapatkan dari skripsi itu. 

Dan sejumlah mahasiswa mengaku bahwa mengerjakan skripsi adalah hal yang melelahkan, menguras banyak energi, fisik maupun psikologis. Hanya ada satu dua orang yang saya temukan memiliki gairah untuk mengerjakan skripsi dengan sungguh-sungguh tanpa merasa terbebani. 

2.
Jika skripsi adalah bencana, sumber bencananya ada pada mahasiswa itu sendiri. Selain mahasiswa, ada banyak masalah yang menghambat skripsi. Misalnya, dosen pembimbing kadang jadi masalah. Namun, saya tidak akan berkomentar panjang tentang dosen atau hal lain. Bagaimana pun mahasiswa butuh lebih tangguh untuk mengatasi berbagai masalah, termasuk masalah dengan dosen dan sejumlah hal yang ada. Yang menjengkelkan adalah mahasiswa yang senang berkoar-koar ingin melakukan banyak perubahan, tapi mengurusi dirinya saja susah minta ampun. Hidup adalah keseimbangan.

Sumber bencana itu lahir dari  mahasiswa yang memang tak memiliki persiapan matang dan hanya mengerjakan skripsi sekadar mencoba lulus dan mendapat gelar sarjana. Kurang dilandasi niat belajar yang tulus, jika ada yang bertanya siapa yang bertanggungjawab atas niat tulus itu? Silakan jawab sendiri. Semoga jawaban anda tidak membuktikan jika kita adalah generasi yang gemar saling menyalahkan.  

3.
Mahasiswa kehilangan kepekaan, ide tak kunjung tiba, skripsi hanya mimpi. Salah satu hal menarik di Biro Skripsi adalah, saya memiliki ruang khusus dan pas untuk saya tempati. Nah, selain memeriksa kelengkapan skripsi, ruangan saya kadang dikunjungi oleh beberapa mahasiswa yang ingin berdiskusi. Mereka datang minta ide, namun tidak membawa apa-apa. Seolah saya adalah dukun yang punya banyak wangsit. Setiap kali diserang kondisi seperti itu, sebisa mungkin saya membuka ruang diskusi. Bertanya dan menemukan apa yang mesti ia tulis lalu menemukan pertanyaan baru. Padahal ada banyak masalah di sekitar kita, baik di lingkungan dalam kampus atau di luar kampus. Saya malah ingin bertanya, selama ini mereka hidup di dunia yang seperti apa? Dunia apa yang tak punya masalah? Apa lagi lingkungan kota Makassar yang perlahan secara psikologis mulai gila. Atau mereka jauh lebih gila dari kota ini. 

4.
Menemukan pertanyaan sulit, maka jawaban kadang jauh lebih sulit. Menjadi mahasiswa psikologi yang belajar untuk observasi dan mendengar lebih banyak adalah salah satu modal penting. Namun untuk skripsi, kadang semua itu kurang dimanfaatkan. Atau barangkali, modal itu tak lagi dimiliki. Pertanyaan awal tidak akan lahir dari observasi dan kemampuan mendengar atau merasakan masalah yang buruk. Mereka tidak punya landasan kuat. Mereka seolah menjadikan skripsi sebagai ajang perlombaan. Teman maju skripsi, saya wajib untuk maju. Mereka maju berperang bukan untuk menang, tapi hanya membohongi diri sendiri dan melupakan esensi belajar yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, sebagian besar hanya mengulang judul skripsi yang telah ada. Kurangnya kebaruan kadang membuat saya malas membaca topik penelitian yang mereka ajukan. Ide mereka mudah diprediksi dan kurang menarik. Di awal saya bergabung, ada Pak Lukman yang menggawangi Biro Skripsi. Ia tidak akan meloloskan mahasiswa yang tidak paham dengan apa yang hendak ia lakukan. Namun berhubung beliau harus fokus untuk studi, ia digantikan oleh dosen lain. Saya jelas menyukai apa yang dilakukan Pak Lukman, pada akhirnya mereka akan mahir dan tidak sekadar tersesat dalam kebodohan yang terkutuk.    

5.
Malas membaca adalah bencana yang sebenarnya. Saya senang menantang mahasiswa yang datang di ruang biro untuk membaca lebih banyak jurnal penelitian, buku atau bahkan buku yang sama sekali tidak berhubungan dengan psikologi. Beruntung saya diberikan lemari kosong di ruang itu, saya membawa buku-buku sejarah, novel, puisi dari rumah. Saya berharap akan ada yang tertarik untuk membacanya, namun harapan itu benar-benar hampa. Padahal, psikologi juga akan mudah ditemukan disejumlah buku-buku sastra yang baik. 

Nah, masalah penelitian, pun jika mereka tertarik pada topik tertentu, saya selalu meminta mereka membaca minimal 10 jurnal terbaru (saya sarankan baca penelitian luar negeri). Setelah itu barulah saya siap untuk mengajaknya berdiskusi lagi. Namun sayangnya, mereka harus menyerah dan memilih mencari topik yang lebih mudah. Tema yang sudah mainstream akan banyak dipilih ketimbang tema baru. Sebab tema lama jelas mudah ditemukan refrensinya, sedang tema baru kita harus banyak membaca jurnal penelitian (yang bahasanya pun dikeluhkan padahal isinya keren). Secara statistik, kita memang berada pada kondisi minat baca yang rendah. Itu menjadi tantangan untuk kita semua, "Tetap Jaya dalam Tantangan."

Salah satu kata dalam visi Fakultas Psikologi UNM terdapat kata "tangguh" dan semoga cepat atau lambat, harapan itu akan terwujud.

***


Mohon maaf atas segala yang kurang berkenan. Sejujurnya, saya sendiri adalah bencana. Dalam diri saya, ada kemalasan yang tersimpan. Serupa bom atom yang mungkin akan meledak sewaktu-waktu. Catatan ini saya buat sebagai pengingat, untuk saya dan orang lain. Saya juga malas membaca dan semoga dengan tulisan ini kemalasan itu perlahan kumusnahkan, sebelum ia memusnahkan pemiliknya. Terima kasih untuk Fakultas Psikologi UNM, dan sejumlah pengalaman ini. Semoga lingkungan yang lebih baik selalu tercipta dari niat tulus dan keberanian untuk melakukan perubahan.

Batua Raya, Makassar, 15 Februari 2016

3 comments:

  1. Gue pernah tuh ditunjuk jadi staf biro skripsi gitu. Sumpah pusing hahahaa

    ReplyDelete

Powered by Blogger.