"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Friday, February 5, 2016

Memulai Pertanyaan Pada Diri Sendiri

 “Judge a man by his questions rather than by his answers.” ― Voltaire

Seperti itulah pesan seorang penulis asal Prancis abad ke-18, Voltaire. Ia dikenal sebagai seorang pemikir, ahli filsafat dan juga sastra. Hari ini budaya bertanya di lingkungan kita patut untuk diresahkan. Kita bisa melihat di sekitar kita, hanya ada sedikit orang yang senang bertanya. Di sekolah, anak-anak lebih memikirkan kapan jam pelajaran akan berakhir, dibandingkan bertanya dan memperdalam apa yang telah dia pahami. Pun jika seorang guru bertanya, “ada yang ingin bertanya?” suasana kelas sejenak hening dan semua diam. Sebagian besar orang menundukkan kepala atau berpura-pura untuk tidak mendengar pertanyaan itu.

Seorang yang senang bertanya jarang kita temukan. Berdasarkan pengalaman, sejak kecil ketika di dalam kelas ada siswa yang senang bertanya, kadang ia di cap sebagai siswa yang bodoh, tidak mudah memahami pelajaran. Pengalaman itu terbawa hingga ke jenjang pendidikan selanjutnya. Walhasil, tak jarang kita melihat bahasa tubuh teman atau mungkin diri kita sendiri, ketika di akhir pelajaran kita sulit untuk bertanya.

Selain di sekolah, keluarga juga kadang menghambat rasa ingin tahu seorang anak. Padahal, sang anak hanya ingin belajar dan sudah hakikatnya seorang anak selalu punya banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan kepada putrinya, “jika kau bertanya, kau telah memiliki separuh dari apa yang kau cari.” Pertanyaan menjadi awal penting dalam kesempatan kita menemukan apa yang sedang kita cara. Mungkin anda sering mendengar “Malu bertanya sesat di jalan.” Pesan itu semoga saja tidak sekadar ditertawakan atau disepelekan begitu saja.

Beberapa penemuan besar selalu diawali dengan pertanyaan sederhana, sebut saja Newton yang bertanya, “Mengapa sebuah apel jatuh dari pohon?” itu menjadi awal dari teorinya yang terkenal. Barangkali kita memiliki pengalaman menarik masing-masing, tentang kesulitan kita untuk bertanya. Kita bisa belajar dari seorang filsuf. Para filsuf menghabiskan waktu mereka dengan terus memikirkan pertanyaan mendalam akan berbagai hal. Mereka tetap dewasa tanpa lupa jika ia pernah menjadi anak kecil yang tak henti bertanya. Tentu saja anak kecil belajar dengan bertanya, mereka bertanya kepada orang tua, siapa saja. Akan tetapi, setelah beranjak dewasa, kemampuan itu pudar dan hilang sedikit demi sedikit. Rasanya, kita patut untuk belajar dari seorang Eric Schmidt, CEO dari Google. Eric mengatakan bahwa "We run the company by questions, not by answers." Eric berhasil menghidupkan pertanyaan dan menemukan banyak hal dari semua itu.

Sudah semestinya, orang-orang yang tak menghargai pertanyaan atau kemampuan kita untuk membenci pertanyaan mesti dibenahi. Orang besar memulai jalan hidupnya dengan mempertanyakan dirinya sendiri dan kemudian memilih untuk berani kepada siapa saja. Sesat adalah petaka yang sebisa mungkin kita hindari. Jika saja kita sulit untuk memulai bertanya pada orang lain lantaran ketakutan masa lalu terus menghantui, setidaknya kita mulai bertanya pada diri sendiri, “Sampai kapan kita ingin tersesat?”


7 comments:

  1. Replies
    1. Galau kenapa? Sudah dapat jawaban atau sudah dapat pertanyaan?

      Delete
  2. Mungkin, kita terlalu banyak diajarkan tentang aturan, kepercayaan dan keyakinan, sampai hidup tidak lagi cukup membuat kita ragu, untuk melahirkan pertanyaan-pertanyaan. pembahasan menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin? Ya, itu sudah menjadi sebuah pertanyaan.

      Delete
  3. terima kasih telah berkunjung :)

    ReplyDelete