Buku Wili

Sepulang sekolah, Wili menemukan buku setebal 674 halaman diselimuti debu di gudang rumahnya. Wili penasaran dan ingin segera membacanya. Di kelasnya, ia menjadi orang pertama yang pandai membaca. Setiap pagi ia memiliki ritual khusus, berdiri di hadapan cermin lalu membiarkan dirinya senyum selama dua menit. Setelah itu ia akan mengatakan sesuatu hal positif kepada dirinya sendiri, “Kau akan mendapatkan nilai yang baik.” Atau ia akan menjelaskan sesuatu pada dirinya sendiri, “Kau adalah anak kelas dua sekolah dasar yang paling dewasa. Kata kakekmu, kau bisa sebaik nabi yang pernah di utus Tuhan. Jika kamu tak jadi Nabi, minimal kau jadi orang yang baik, jujur, dan pandai menerima kenyataan.” Wili percaya, ritual itu adalah sebuah upaya untuk tidak melupakan almarhum kakeknya. Sebab kakek Wili-lah yang mengajarkan banyak hal. Mulai dari menjadi anak yang baik, hingga menjadi anak yang bijak. 

Bertepatan saat Wili menemukan buku di gudang, sebelum ke sekolah Wili memang mengatakan sebuah harapan yang tak di sangka segera terwujud hari itu juga, “Aku ingin mendapatkan sesuatu yang menantang dan menarik.” Wili mengangkat buku itu keluar dari gudang, lalu membersihkannya di halaman. Wili adalah anak pertama dan belum punya saudara kandung, di rumah ia tinggal bersama pamannya. Orang tuanya sibuk dengan urusan kantor masing - masing. Kini usia Wili telah menginjak usia sepuluh tahun, namun belum pernah sekali pun Wili habiskan dengan ayah maupun ibu. Pamannya selalu bilang, “mungkin bulan depan mereka akan datang.” Meski pun hidup dengan kondisi seperti itu, Wili tak merasa kesepian sama sekali. Salah satu yang diwariskan kakek Wili adalah perpustakaan yang berisi kurang lebih 1302 koleksi buku. Dan buku yang ditemukan Wili di gudang jelas akan dia simpan di perpustakaan itu.

Wili paham jika salah satu kebiasaan kakeknya adalah membaca di mana saja, termasuk di garasi. Jadi tidak mengherankan ketika Wili menemukan buku di beberapa titik di rumahnya. Karena tebalnya debu yang menyelimuti buku itu, Wili memutuskan membersihkannya di halaman depan, tepat di atas rumput hijau yang masih basah karena hujan beberapa menit lalu. Kebiasaan Wili membaca dimulai sejak usianya lima setengah tahun. Awalnya, Wili hanya mampu bertahan dengan buku tipis, namun dua tahun setelah itu, Wili tak lagi peduli dengan tebal buku. Selama ia menyukai dan tertarik dengan isi buku, ia akan tetap membacanya. Termasuk buku yang baru saja ia temukan.

Wili membuka buku lalu membaca halaman pertama buku itu,

“Aku menghirup aroma kematian kapan saja. Aku merasakan harapan mulai hilang satu per satu, hanya ada kecewa, putus asa, derita, sepi dan ketakutan yang penuh kecemasan.”

Wili tertarik dengan kalimat itu. Lalu ia pun lupa untuk membersihkan buku itu lebih dulu. Seolah terhipnotis oleh halaman-halaman buku tebal itu, Wili tak menghiraukan apa-apa. Ia mulai bisa menebak jika latar tempat cerita itu adalah sebuah panti jompo yang jaraknya cukup dekat dari rumahnya. Karena setiap pulang dari sekolah Wili melewati jalan panti jompo itu, ia dikenal oleh beberapa petugas.

“Halo Wili, bagaimana sekolahmu hari ini?”
“Sangat menggembirakan, para guru memberikanku hadiah karena nilaiku yang paling tinggi.”
“Benarkah? Selamat Wili…., kamu pulang sendiri?”

Wili hanya tersenyum dan tak perlu menjawab. Ia jelas jengkel dengan pertanyaan basa-basi seperti itu. Dari buku tebal itu, Wili menemukan sesuatu yang menarik. Itu semua membuatnya terus bertanya-tanya, ritual cermin ada dalam buku tebal itu. Namun penjelasannya jauh lebih lengkap. Hingga tiba di akhir pekan, Wili memilih mengurung diri di kamar dan membaca buku itu. Dari halaman 312, Wili menemukan sebuah surat resmi dari rumah sakit yang Wili kenal.

Pada bagian awal surat itu, tertulis nama Wili dan juga nama almarhum kakeknya. Wili membacanya dengan seksama. Perlahan ia mulai mengerti jika buku ini adalah autobiografi milik almarhum kakeknya. Ia melanjutkan bacaannya, namun kemudian ia kembali paham bahwa bukan, ini bukan cerita kakeknya. “Ini cerita kakek dari kakek.”

Selama tiga hari ia menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan membaca buku itu. Di akhir cerita Wili mulai bertanya-tanya,buku itu seolah ramalan tentang dirinya. Tahun demi tahun cerita itu berpindah dan dengan jelas memperlihatkan bayangan Wili tentang masa depannya, juga cerita masa kanak-kanak yang diceritakan di bagian akhir.

“Apa kehidupan penulis ini sama seperti kehidupanku?” tanyanya dalam hati.

*
Wili kini berusia tujuh puluh satu tahun, ia tak lagi tinggal bersama keluarganya. Ia punya dua orang anak. Anak pertamanya seorang direktur perusahaan, sedangkan anak keduanya telah menikah dengan seorang menteri dan ikut pindah ke ibu kota. Istrinya telah meninggal lima tahun lalu. Kedua anaknya memutuskan untuk memindahkan Wili ke panti jompo.


Wili tak ingin tinggal di panti jompo, namun dengan terpaksa ia menerima keputusan dua orang anaknya. “Tapi ada satu syarat! Aku harap kalian memindahkan perpustakaan yang ada di rumah ini ke panti jompo.” Walhasil, perpustakaan itu pun dipindahkan bersamaan dengan pindahnya Wili. Pagi ini, ia hendak menulis sesuatu, barangkali ia mampu membuat sebuah buku. Kalimat pertamanya, “Aku menghirup aroma kematian kapan saja. Aku merasakan harapan mulai hilang satu per satu, hanya ada kecewa, putus asa, derita, sepi dan ketakutan yang penuh kecemasan.”


No comments:

Powered by Blogger.