"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Friday, January 8, 2016

Charles Bukowski dan Sejumlah Puisinya

8:58 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Saya menerjemahkan beberapa puisi dari Charles Bukowski. Setelah beberapa hari ini saya membaca puisi-puisinya, dalam "The People Like Flowers At Last." Saya sendiri lupa kapan dan bagaimana saya mengenal penulis kelahiran Jerman ini. Namun, ia pun berkewarganegaraan Amerika. Ada banyak karya yang telah ia hasilkan, beberapa novelnya pun membuat saya selalu tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Selama ini saya hanya mengenal puisi-puisinya, tapi sudah saatnya untuk membaca karyanya dalam bentuk lain. Ham on Rye adalah novel yang sekaligus otobiografinya dapat menjadi bacaan menarik untuk mengenal Charles Bukowski. 

Pada buku puisinya ini, ia banyak menuliskan tentang sejumlah hal yang ia temukan dalam kesehariannya. Di masa remaja, ia telah gemar dengan alkohol, dan tak jarang tulisannya memunculkan hal seperti itu. Beberapa puisi juga bercerita tentang penulis, seperti Albert Camus, Kafka, dan Hemingway. Ada juga puisi yang bercerita tentang penyair, puisi dan juga hal menarik tentang menulis. Juga tentang anak perempuannya. Hal utama yang membuat saya melanjutkan membaca ini adalah gaya penulisan Charles Bukowski yang menurut saya begitu khas. Juga sebagai usaha saya untuk belajar mengenal puisi. 

Berikut beberapa terjemahan puisi dari buku "The People Like Flowers At Last.


salah seorang kritikus saya

Aku belum menulis puisi yang baik
minggu ini. Seorang perempuan berusia 15 tahun
datang dan berjalan.
“bajingan, kapan kamu bangun dari tempat
tidur?”
sepuluh menit menjelang siang hari
aku pun terbangun dan berjalan ke mesin tik
perempuan itu berjalan mengambil topi baseball Yankees
lalu menatap mataku.
“Jangan menatapku!” Aku berteriak. “Aku penulis”
“Tolol” katanya lalu pergi.

Sambil menatap selembar kertas putih
aku mulai berpikir jika sejumlah kritikus
lumayan benar.
Perempuan itu kembali berjalan ke dalam ruangan
dan melihatku
“Pembual,” katanya, “Halo, pembual.”
Aku mengabaikannya
dia mengulurkan tangan lalu menarik jenggotku
“Hei, kapan kau melepas topengmu?
Aku muak dengan itu”
lalu ia pergi ke kamar mandi
dengan pintu terbuka dan duduk di jambangan.
Ia menegang; “urrg, urrg, urrg . . .”
Sekilas aku melihatnya.
“dengar, seharusnya kamu menutup pintu
jika sedang melakukan itu”
“baiklah, tutup saja sendiri, bodoh” katanya
Aku berdiri dan menutupnya

Aku mengerti jika seorang penulis yang menghabiskan 2 ribu dolar
untuk memiliki ruang gabus berlapis dibangun untuk
dirinya sendiri namun tidak meningkatkan
kerjanya. Aku mengira akan mengambil kesempatanku
dengan cara yang kumiliki.


tentu saja

berdasarkan penelitian ilmiah
terbaru
dibutuhkan waktu 325 untuk menghasilkan
sel otak
untuk berkembang.


sekarang aku menyadari jika
sebagian besar perempuan
yang kutemui di bar
dan pulang bersamaku ke rumah
telah berbohong
akan
usia mereka.

selamat jalan, kekasihku

abu yang mematikan segalanya
kita telah melukainya jadi potongan
merobek yang tertahan
pada lengan
pada kaki
lalu memotong organ seksual
kemarahan ada di dalam jantung

abu yang mematikan segalanya
di mana pun
para pejalan kaki kini kesulitan
mata orang-orang kian kejam
musik terdengar semakin hambar

abu
aku pergi dalam kesucian
abu

mulanya kita murka pada jantung
sekarang kita kencing di atas abu. 

***

Di luar dari buku itu, Hasan Aspahani juga pernah menerjemahkan beberapa puisi Charles Bukowski. 


Tantangan Kegelapan

pandang apa yang tak terduga
sangka apa yang tak terkira
sepak apa yang tak tertebak

apakah apa yang bagai tari sebunga bunga

Saat Sajak-sajak

saat sajak-sajak berbanyak seribu biak
engkau sendiri menyadari betapa secuma
yang telah engkau cipta

Burung Biru

ada burung biru di hatiku
yang ingin keluar dari situ
tapi aku amat ketat mengurungnya,
Aku bilang, di situ saja, aku
tak akan membiarkan ada yang melihat
kau diam di situ.

Oh Ya

ada yang lebih buruk daripada
sepi sendiri
tapi seringkali perlu berdekade
untuk menyadari ini
dan lebih sering lagi
ketika engkau menyadari
sudah sangat terlambat
dan tak ada yang lebih buruk
daripada
terlambat yang sangat.

***

Akan tetapi, terjemahan yang dilakukan memberi kesan berbeda jikalau Charles Bukowski begitu puitis dengan kalimat yang kurang sederhana. Sebab Buk dikenal dengan puisi dan karyanya yang sederhana dan lugas. Namun, terjemahan saya sendiri jelas tidak berhasil menampakkan Buk yang sebenarnya. Jadi, sebaiknya anda membaca karya asli dari Buk, Charles Bukowski.

0 comments:

Post a Comment