Ilusi dan Beberapa Harapan Kecil Yang Mungkin Besar

Senin, 7 Desember 2015. Hari itu kami berencana mengumpulkan beberapa orang. Mereka yang berminat mengenal literasi. Atau mungkin telah mengenal lebih dari yang kami duga. Mengatasnamakan Ilusi, saya dan satu orang alumni; lima mahasiswa fakultas Psikologi UNM mencoba untuk belajar bersama. Kami senang bercerita dan bertukar kabar tentang tulisan-tulisan kami yang sedang belajar menjadi sesuatu. Sesuatu yang entah bagaimana dan mengapa. Saya tak akan bercerita tentang siapa di balik ilusi, mengapa mereka harus ada? Tentang mengapa mereka harus melibatkan saya dan harapan-harapan kecil saya. Entahlah! Kami akan mengajak lebih banyak kepala.

Senin, 7 Desember 2015. Saya tak percaya hari itu adalah waktu yang tepat. Namun setidaknya, mereka akan datang dan saya bisa mendengarkan cerita lain. Beberapa orang kadang bertanya, apakah saya telah lulus atau masih berstatus mahasiswa Psikologi UNM, jawabannya saya lulus tapi masih punya beberapa harapan yang belum terwujud. Karena harapan itu pula, mungkin saya masih berada di lingkungan kampus. Terlebih setelah menerima tawaran untuk menjadi staf di fakultas. Saya melewatinya dengan cerita yang belum sempat kutuliskan. Akhir-akhir ini, saya tak percaya waktu. Berpikir tentang itu jelas hal yang sangat membuang-buang waktu. Setidaknya, ilusi memulai. 

Senin, 7 Desember 2015. Pada tulisan ini, saya belum menjelaskan riwayat Ilusi di Fakultas Psikologi. Mungkin pada hari itu, akan lebih jelas dan mereka yang saya harap bisa lebih baik dari pikiran serta perasaan saya mampu menjelaskan. Menjelaskan dengan baik. Di Ilusi, saya menemukan beberapa hal menarik yang tak saya dapatkan selama menjadi mahasiswa fakultas Psikologi UNM. Mereka yang tergabung dalam Ilusi selalu membuat saya sadar, bahwa kami benar-benar bodoh. Kami selalu menggali diri dan seakan percaya pada Carl Rogers, seorang pendiri psikologi aliran humanistik. Rogers percaya bahwa diri kita sendirilah yang akan menyelamatkan atau menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Di lingkungan kampus, bukan hanya di UNM, ada banyak orang - orang yang begitu cepat meyakini bahwa dirinya lebih baik, lebih pandai, lebih benar dibandingkan orang lain.  

Kehadiran Ilusi setidaknya membuat lingkungan kampus akan lebih baik. Tradisi membaca dan menulis semoga terus berkembang. Di ruang sekretariat Lembaga Kemahasiswaan (LK), saya mengharapkan akan ada lemari buku. Lemari buku itulah yang mengajak para pengurus untuk lebih merasa bodoh, lalu terus berdiskusi mencari kebenaran. Sampai jumpa, mungkin kita akan seilusi.

No comments:

Powered by Blogger.