Dua Buah Puisi di Awal Bulan

melanjutkan menulis surat kepada perempuan itu


kita belajar mengenal huruf di kota yang berbeda. kau menyukai tiga huruf pertama dan aku menyukai tiga huruf setelahnya. kau menulisku dengan sepenuh tabah. sedang aku menulismu dengan tergesa-gesa. aku takut tak mampu menuliskan jawaban dari pertanyaanmu. atau aku sedang memulai pertanyaan sepele yang tak kau harapkan sama sekali. kalimat pertama tak perlu tentang pertanyaan kabar, aku ingin bertanya tentang sesuatu hal lain. tak kau duga dan semoga tak mampu kau jawab. 

jika aku membalas berlembar surat dengan terlambat, aku sedang membacamu berulang. kutulis namamu dalam tiga huruf dan kutafsirkan sesukaku. kadang semua menjadi apa yang tak mesti kau pahami namun ingin kusampaikan. akan kuhitung jumlah huruf yang kau gunakan untuk menerima atau membantah segala perasaanku. akan kuhitung pula kata yang terhapus dan pupus sebelum sampai kepadamu. mereka teguh dalam tiada di tengah inginku menjadikanmu selalu (ada).   

Batua, 2015


di sehelai foto kau dan aku

aku menjaganya dengan belajar memahami bahasa kegembiraan. di luar jendela ada sesuatu yang ingin mencuri sesuatu lain. di dalam sana kita tersenyum mempertahankan kebimbangan. apakah aku adalah ketenangan dari kumpulan amarah dalam rumahmu? apakah aku adalah ruas jalan yang memanjakan langkah menuju rumahmu? apakah kelak engkau tetap setia menanti di beranda, walau bayangku telah dicuri kematian sekali pun? di sehelai foto tak ada kematian yang memenangi kita berdua, sebab abadi sedang kita jinakkan bersama. 

Batua, 2015   


1 comment:

Powered by Blogger.