Melihat Metafora Gen Egois Dalam Diri

Thomas Hobbes, seorang filsuf asal Inggris beranggap jika manusia adalah makhluk yang begitu kejam. Sehingga bagi Hobbes sendiri, setiap manusia pada dasarnya egois. Manusia mampu bertindak kejam pada orang lain untuk memenuhi kehendaknya. Sedangkan Richard Dawkins, ahli zoology Oxford memberi metafora “egois” kepada gen. Metafora tersebut mungkin memiliki irisan terhadap apa yang ada dalam pandangan Hobbes.
Dawkins menyatakan itu di sekitar tahun 1976 dalam karyanya yang berjudul, The Selfish Gene. Apa yang telah diungkapkan oleh Dawkins kadang dipahami secara keliru, bahwa kita dipenuhi dengan sel egois. Dan kita sepenuhnya dikendalikan oleh gen itu sehingga menggoyahkan moralitas dan kehendak bebas kita. Pemahaman tersebut tentunya keliru. Dawkins pun menyadari telah gagal untuk memberikan penjelasan kepada khalayak umum waktu itu.
Dawkins pun meluruskan metaforanya itu bahwa, manusia modern mampu mengendalikan gen egois karena memiliki akal budi. Kemampuan manusia untuk mengendalikan dirinya adalah sesuatu hal penting dalam bidang ilmu psikologi. Ketidakmampuan kita dalam mengendalikan diri itu, mungkin menjadi salah satu alasan mengapa Hobbes berpadangan bahwa manusia itu kejam. Masih banyak di sekitar kita yang tidak menggunakan akal budi dengan baik. Hingga akhirnya, mereka dikendalikan oleh sesuatu di luar dari dirinya.
Peristiwa yang dialami Salim di Lumajang menjadi bukti dari kejamnya manusia. Salim adalah seorang petani di Selok Awar-awar, Pasirian yang terbunuh setelah di menolak tambang pasir di desa Lumajang. Lalu terbunuh setelah dikeroyok oleh lebih dari 40 orang. Hal itu pun memicu munculnya kalimat “Di Tanah Kami Nyawa Tak Semahal Tambang. Salim Kancil Dibunuh” di berbagai media sosial sebagai bentuk dukungan sosial. Hari ini, dengan mudahnya kita dapatkan manusia yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan kepentingannya sendiri. Masa seperti ini begitu mencemaskan dan menakutkan.
Nyawa tak lagi diperhitungkan. Kepentingan di atas segalanya. Manusia hari ini mungkin saja akan membuktikan anggapan orang yang keliru pada istilah gen egois.  Namun yang tak kalah lebih kejamnya adalah aparat hukum serta pemerintah yang selalu saja tak mampu bersikap tegas. Di bangsa kita ini, ada hal yang mampu mengendalikan keadilan di luar dari keadilan itu sendiri, uang misalnya. Istilah UUD yang seringkali diplesetkan menjadi “Ujung - Ujungnya Duit” membuktikan mental dan pola pikir sebagian besar bangsa ini. Apalagi yang mesti diharapkan jika hampir seluruh sektor telah diserang dengan kondisi seperti ini?    
Mirisnya lagi, materi menjadi sesuatu yang menggerakkan manusia. Kemampuan dan kesempatan kita dalam melatih ketulusan pun hilang dengan sendirinya. Ini tentu saja akan menjadi penyakit mental yang layak mendapat perhatian. Bagaimana lingkungan telah membentuuk sebagian orang berorientasi pada materi dan selalu diajarkan untuk menjadi lebih egois. Kepentingan di atas segala kepentingan akan selalu digunakan dan diaplikasikan.
Jika kembali pada Dawkins, kita patut mencatat dan mempelajari temuannya. Bertahun - tahun, Dawkins mencoba meluruskan makna gen egois yang sebenarnya. Ia selalu beranggapan jika manusia selalu memiliki kekuatan untuk menjadi lebih baik dengan kendali yang ditemukan dari dalam diri sendiri. Hal menarik lainnya dari buku The Selfish Gene ada pada bagian bab terakhir.
Pada bab terakhir, Dawkins membandingkan budaya dan genetika. Selain gen yang dapat diwariskan, budaya kita pun dapat diwariskan. Tentu saja membuktikan apa yang dikatakan Dawkins dapat kita mulai dengan melihat kondisi Indonesia hari ini. Jika dulu kita kerap menemukan budaya nepotisme, kemungkinan budaya itu menular dan dilestarikan. Terlebih jika sebagian dari kita merasa nyaman dan tak merasa bersalah atas keadilan.  
Hanya saja, kita tetap wajib memiliki harapan pada manusia - manusia yang berhasil lolos dari perangkap waktu dan lingkungan. Meskipun tak jarang kondisi memaksa kita menjadi pesimis, namun pada suatu waktu kita akan membuktikan apa yang dikatakan Dawkins pada kalimat terakhir bukunya, “Kitalah satu - satunya di bumi yang bisa memberontak terhadap 

*Diterbitkan di Literasi Tempo Makassar, 12 Oktober 2015

No comments:

Powered by Blogger.