Anak - Anak Serigala

Pada umumnya, kita mengasosiasikan anak – anak dengan berbagai hal positif. Perilaku mereka, proses tumbuh kembang dan segala keunikan yang mereka miliki menjadi bagian dari keajaiban anak - anak. Kelucuan atau keluguan yang ada pada anak – anak, membuat kita dengan mudah dan nyaman untuk terus berinteraksi. Bahkan, bagi kita yang memiliki sanak saudara yang masih tergolong usia anak – anak, dengan mudah kita merindukan kehadiran mereka. Namun, akhir – akhir ini kondisi yang dihadapi anak – anak sedikit berubah. Ketika kita mulai merindukan mereka, kemungkinan terbesar yang terjadi pada mereka adalah hal yang sebaliknya. Kini, anak – anak tak begitu memperhatikan perasaan rindunya kepada ayah maupun ibu. Akan tetapi, anak – anak telah mulai mengarahkan rindunya, pada kehadiran televisi.

Bukan tidak mungkin hal itu terjadi, ada banyak orang tua yang mengabaikan anaknya. Membiarkan televisi hadir dan menggantikan waktu yang harusnya dihabiskan bersama. Orang tua tidak sadar, jika mereka telah menukar masa depan anaknya dengan berbagai muatan yang ada di dalam televisi. Tayangan yang belum tentu mampu untuk menjadikan anak – anak menjadi seorang yang lebih baik. Sayangnya, orang tua kurang peduli akan kondisi yang menimpa anak – anak mereka. 

Mereka tidak sadar akan tayangan yang disajikan cenderung sekadar hanya untuk menaikkan rating program tersebut. Sehingga kita bisa menyaksikan acara seperti bincang – bincang tanpa arah dan tujuan yang jelas, program tayangan mistis, serta sinetron yang berbau irasional. Kondisi tersebut, ternyata menuai keprihatinan dari berbagai kalangan, termasuk Remotivi, lembaga studi dan pemantauan media khususnya televisi di Indonesia.

Remotivi, bersama Hivos, mengajak siswa SD untuk membuat satu video mengkritik kebijakan pemerintah yang membiarkan tayangan seperti itu di televisi. Video yang diunggah ke Youtube tersebut berjudul, "TV, Jasamu Tiada....." Dalam video tersebut, terdapat sejumlah siswa-siswi SD menyanyikan lagu parodi "Jasamu Guru". Potongan lirik lagu tersebut seperti ini,

"Kita jadi bisa pacaran dan ciuman, karna siapa?
Kita jadi tahu masalah artis cerai, karena siapa?
Kita bisa dandan dibimbing TV
Kita jadi lebay dibimbing TV”
*

Selain itu, akhir – akhir ini dengan mudahnya kita menemukan anak – anak yang saat bermain berpura – pura mengeluarkan cakar, taring, dan mencoba terus mengaum. Mereka menirukan salah satu sinetron yang bercerita tentang manusia serigala dan pertarungannya melawan vampire. Anak – anak itu berusaha menjadi serigala, berkejar – kejaran, saling mencakar, layaknya seperti anak – anak serigala. Siaran  seperti sinetron irasional itu telah berhasil melahirkan anak – anak yang membayangkan dirinya mampu seperti tokoh pada sinetron tersebut.

Kondisi seperti itu, telah diterangkan oleh salah seorang ilmuwan Psikologi yang lahir di bulan Desember, Albert Bandura. Teori Kognitif Sosial dari Bandura mampu memberikan gambaran singkat akan kondisi tersebut. Konsep utama teori tersebut, menjelaskan pengertian tentang obvervational learning atau proses belajar dengan mengamati. Jika ada seorang "model" di dalam lingkungan seorang individu, misalnya saja teman atau anggota keluarga di dalam lingkungan internal, atau di lingkungan publik seperti para tokoh publik di bidang berita dan hiburan, proses belajar dari individu ini akan terjadi melalui cara memperhatikan model tersebut. Terkadang perilaku seseorang bisa timbul hanya karena proses modeling.

Teori yang dijelaskan dari Bandura mungkin dapat digambarkan dari pesan sederhana Haim G. Ginott, seorang pengajar kelahiran Israel. Bahwa anak-anak bagaikan semen basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak. Di masa depan, kita tak akan membiarkan ada banyak anak – anak serigala. Peran orang tua, keluarga, dan berbagai pihak semoga dapat lebih baik, atau mungkin kita akan mengorbankan anak – anak menjelma seburuk itu.  


*Tulisan ini telah diterbitkan di Koran Literasi Tempo Makassar, 31 Desember 2014

No comments:

Powered by Blogger.