Rahasia Lolita

Setiap detik, rahasia di dunia ini bertambah. Namanya, Lolita. Perempuan kecil berusia sembilan tahun. Dia memiliki sejumlah rahasia. Ayahnya mengenalkan kata “rahasia” sehari setelah ibunya meninggal. “Kematian itu rahasia Tuhan nak!” Saat itu Lolita masih berusia enam tahun. Sejak saat itu pula, dia senang mengatakan pada ayahnya “Aku punya rahasia!” Meski sebenarnya Lolita tak sepenuhnya memahami maknanya.   

Ayahnya, selalu merespon pertanyaan itu dengan senyum. Kebiasaan itu terjadi hampir setiap hari. Lolita dan ayahnya tinggal di sebuah kota kecil. Kota itu adalah kota ke lima yang mereka tempati. Ayah Lolita seorang pelukis yang senang berpindah tempat. Selama sebulan dia menghasilkan minimal dua buah lukisan. Saat Lolita berulang tahun ke sembilan tahun, ayahnya menghadiahkannya lukisan.   

Lukisan perempuan berbaju merah yang memandangi sangkar yang tak berisi. Di atas sangkar  itu, ada dua ekor burung berwarna hijau hitam yang lepas. Ukuran lukisan itu besar. Gambar sangkar di lukisan itu, seukuran dengan tubuh Lolita. Lukisan itu pun dipajang di kamar Lolita. Ketika Lolita dihadiahkan, dia bertanya, “Ini siapa?” Ayah Lolita menjawab dengan satu kata, “Rahasia.” Lolita senang mendengar jawaban ayahnya. Lukisan hadiah itu pun selalu Lolita bawa saat mereka berpindah.

Setiap pagi, selain melihat keluar jendela, Lolita melihat ke dalam lukisan. Semakin hari Lolita mulai menyusun makna dari lukisan itu. Kota yang kini ditempati Lolita dan ayahnya berbeda dari kota yang biasa mereka kunjungi. Kota itu jauh lebih sepi, jauh lebih bersih dan jauh lebih dingin. Dan Lolita pun, jauh lebih menyukai kota itu dibandingkan kota - kota sebelumnya.

Hari ini di kota itu, disebar selebaran kecil tentang akan diadakannya “Launching Pasar Burung”. Di halaman rumah, ayahnya menemukan selebaran itu dan menyimpannya di meja makan. Lolita melihat selebaran itu dan membawanya. Selebaran itu direkatkan di kalender kamarnya. Dia melingkari tanggal launching itu dengan spidol berwarna merah. Di kepala Lolita, hari itu mungkin akan menjadi hari yang menyenangkan. Hari itu juga, mungkin akan ada rahasia baru.

Di hari yang sama, ayah Lolita menerima surat dari kawan lamanya. Surat yang berisi tentang agenda kegiatan, Pameran Lukisan dan Peresmian Museum Kesenian. Sehari sebelum “Launching Pasar Burung”, mereka harus berpindah dan siap untuk menempati kota yang sebelumnya pernah mereka tempati. Di kota itu, ayah Lolita akan memiliki tanggung jawab untuk museum kesenian itu. Sehingga mereka harus kembali berpindah. Ayah Lolita paham betul, jika di kota itu ada beberapa hal yang tak disenangi Lolita. Alasan itu membuat ayahnya sulit untuk menceritakan rencana itu kepada Lolita. Kasih sayang ayah Lolita tak jauh beda dengan kasih seorang ibu.

Diam - diam Ayah Lolita mengemas sejumlah barang pentingnya tanpa sepengetahuan anaknya. Hingga sehari sebelum perpindahan yang direncanakan ayah Lolita, tepat pada acara “Launching Pasar Burung” Lolita masih belum tahu rencana ayahnya. Ayahnya merahasiakan rencana untuk pindah kepada Lolita. Ayahnya telah merampungkan segala urusan di kota tempat yang dia tinggali, kecuali Lolita. Tiap kali ayah Lolita hendak berpindah ke kota lain, ayah Lolita selalu punya cara untuk menyampaikan keinginan kepada anaknya.

Ayahnya pergi ke kamar Lolita. Menuliskan catatan kecil di selembar kertas dan ikut menempelkan di kalender kamar Lolita, tepat di samping selebaran informasi tentang pasar burung itu. Catatan kecil itu bertuliskan kalimat, “Nak, kita akan pindah ke kota lain, kota kelahiran ibumu.” Setelah Lolita membaca catatan kecil itu, dadanya sesak. Lolita tak lagi ingin pindah ke kota lain atau kota yang dia anggap tak jauh lebih baik dari kota yang sekarang dia tempati. Dan selalu, Lolita diminta untuk menuruti kehendak ayahnya. Ketika Lolita ingin menyampaikan penolakannya, ayahnya tak sedang ada di rumah.

Lolita memilih mencari ayahnya di luar rumah, jarang sekali Lolita keluar rumah tanpa sepengetahuan ayahnya. Tapi kali ini, dia memberanikan dirinya. Kota itu tak cukup luas, mungkin saja ayahnya berada di café atau di taman kota. Lolita cukup berjalan kaki untuk ke tempat favorit ayahnya. Setelah ke taman dan ke beberapa café, Lolita belum juga menemukan ayahnya. Lolita terus berjalan, dia mengelilingi kota kecil itu.

Dari jauh Lolita melihat beberapa sangkar yang berisi puluhan burung. Lolita mendekat, dan mulai sadar jika tempat itu adalah lokasi pasar burung yang akan diresmikan esok hari. Semakin mendekat, Lolita mulai lupa dengan keinginan menemukan ayahnya. Lolita memperhatikan sangkar dan burung - burung yang ada di lokasi itu. Hingga tiba di sebuah sangkar yang cukup besar. Sangkar yang mengingatkannya dengan lukisan hadiah yang ada di dalam kamarnya.  

Lolita memandangi sangkar itu. Dia tak memperdulikan burung - burung yang ada di dalamnya. Baginya, dia merasa begitu mengenal sangkar itu. Selang lima menit memandangi sangkar itu, dia mulai mengingat ayahnya. Sekaligus lukisan ayahnya. Lolita mendekat dan memperhatikan burung - burung di dalam sangkar. Dia menyentuh kunci sangkar dan mengatakan dalam hati “Aku punya rahasia!”

Lolita membuka kunci dan membiarkan burung - burung dalam sangkar lepas. Burung - burung pun berterbangan, bebas dan berlomba keluar dari sangkar. Hari itu Lolita merusak pintu sangkar dan masuk ke dalamnya. Hari itu, Lolita mengenakan baju merah. Di atas sangkarnya, masih ada dua burung yang bertengger. Di dalam sangkar, dari jauh dia melihat ayahnya. Lolita tersenyum, dan di dalam hati mengatakan “Aku punya rahasia!”


*Tulisan ini diterbitkan di Kolom Budaya, Cerpen Koran Harian Fajar Makassar, 6 Juni 2015

No comments:

Powered by Blogger.