Kebiasaan dan Budaya Berkarakter

William James, filsuf sekaligus psikolog, di tahun 1892 telah menjelaskan suatu temuan penting. Bahwa seluruh hidup kita, sejauh memiliki bentuk yang pasti, hanyalah sekumpulan kebiasaan. Konon, pilihan yang telah kita ambil merupakan hasil dari kebiasaan yang ada. Meski bersifat sederhana, kebiasaan itu mampu memberi efek di berbagai lini kehidupan. Penelitian tentang topik itu pun berkembang dari tahun ke tahun. Sejumlah buku dengan bahasan tersebut berhasil diterbitkan dan terjual dengan laris. Sebagian besar dari kita memahami jika kebiasaan adalah hal yang utama dalam kehidupan. Sebagaian lagi, mengabaikan pengaruh kebiasaan dalam kehidupan kita sehari - hari.

Jika merujuk pada prinsip seleksi alam, yang dijelaskan oleh Charles Darwin, kita dapat memberi sebuah kesimpulan sederhana. Kebiasaan diawali dengan keinginan untuk dapat bertahan hidup lebih lama. Perjuangan untuk bertahan hidup mendorong kita untuk bersaing dan berbuat. Lama kelamaan perilaku kecil akan tertanam dan membentuk pola yang sadar atau tidak sadar akan menentap dalam diri kita masing - masing. Namun, bagaimana jika kita berbicara tentang “national character”. Konsep tersebut akan menjelaskan ciri perilaku dan psikologis yang dianggap dominan pada satu kelompok bangsa.   

Di tahun 2005 sekelompok peneliti yang diketuai oleh Terracciano menghasilkan penelitian yang menggambarkan tentang “national character” di beberapa negara dan kebudayaan. Orang Amerika, pada sebuah studi internasional memandang diri mereka sebagai asertif dan kritis. Orang Indonesia menganggap diri mereka ramah tetapi kurang akan masalah kesadaran. Orang Argentina menganggap diri mereka arogan, impulsive dan ceroboh. Temuan - temuan itu bagi Charles Duhigg, seorang reporter investigasi New York Times adalah hasil dari kumpulan kebiasaan yang membentuk perilaku mereka. Sejumlah penelitian tentang kebiasaan telah dijelaskan dalam bukunya yang berjudul “The Power of Habit”. Duhigg berusaha menjelaskan dan menyebarkan bahwa kebiasaan mampu memberikan efek signifikan pada kondisi seseorang atau kelompok.

Di Indonesia, masalah kesadaran jelas sangat berpengaruh atau berdampak di beberapa hal. Masalah kebersihan, penegakan hukum, serta sejumlah masalah sosial ekonomi menjadi dampak yang entah disengaja atau tidak disengaja. Kebiasaan yang telah membuat kita mungkin akan sadar atau tak lagi sadar bahwa perilaku itu menetap dan menjadi karakter tersendiri. Misalnya saja, membuang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, menghabiskan waktu untuk ngerumpi, menggunakan kata - kata yang kasar adalah kebiasaan yang mudah ditemukan. Perilaku tersebut telah menjadi rutinitas sebagian besar dari masyarakat kita di Indonesia. Alhasil, kita pun menjelma sebagai bangsa yang dipenuhi dengan masalah yang tak kunjung selesai.

Kabar baik dari penelitian tentang kebiasaan adalah setiap kebiasaan dapat diubah. Tapi, tentu saja membutuhkan tahapan yang mesti disesuaikan dengan perilaku yang ingin diubah. Ketika Jokowi menggunakan slogan “Revolusi Mental”. Jokowi berhasil mengumpulkan massa untuk dijadikan pendukung, di saat yang bersamaan ada orang - orang yang terkagum dengan ide dan keberadaan Jokowi. Namun, setelah pemerintahan Jokowi berjalan, tak sedikit dari orang yang awalnya mendukung atau kagum kepada Jokowi berubah. Mereka menjadi sekelompok orang yang mudah berkata - kata kasar, mencemooh, dan mengkritik pemerintahan hari ini. 

Barangkali kita adalah masyarakat yang begitu mudah terpengaruh dengan sebuah slogan, iklan atau apa saja yang terlihat sedang tren di sekitar kita. Hingga kita tersesat dan sulit menentukan hal yang sesungguhnya kita butuhkan. Kita berada pada garis pijak yang tak cukup bijak. Nalar yang kita miliki perlahan pudar dan tak digunakan sebaik mungkin. Sekiranya, kita menjadi masyarakat yang pandai berbenah. Tak lagi sering kalah dengan perang pemikiran yang ada di sekitar kita. Kebiasaan terbaik akan lahir dari tekad terbaik untuk berubah. Terakhir, mari kita menyimak pepatah Bugis yang mengatakan“lele bulu tellele abiasang, naiya abiasangnge, abiasang topa palelei” Artinya, Gunung dapat dipindahkan, tapi tidak dengan kebiasaan. Kebiasaan itu hanya bisa diubah dengan kebiasaan yang lain. Pepatah Bugis ini sesuai dengan hasil penelitian yang ada.   


*Diterbitkan di Literasi Koran Tempo Makassar, Senin 1 Juni 2015

No comments:

Powered by Blogger.