Belajar Mencurigai Diri Sendiri


Mungkin, manusia adalah kumpulan kejahatan yang berpura - pura menjadi kebaikan. Ketika kata “pencitraan” seringkali kita dengar menjelang pemilihan umum, di sana ada banyak yang melepas kedirian mereka yang sesungguhnya. Menjadi apa saja yang menurut orang lain baik hingga berusaha menjadi baik. Semua itu menjadi tujuan utama dalam “pencitraan” Ada pula sebagian orang yang dengan gagah berani melontarkan hinaan pada orang yang melakukan “pencitraan.” Namun sayangnya, mereka tanpa sadar telah ikut melakukan pencitraan dengan jalan yang berbeda. Setiap orang telah memulai membentuk diri mereka untuk menghadapi lingkungannya. Benar adanya, jika ada yang mengatakan hidup hari ini tak lebih dari pencitraan.

Lihat saja, jejaring sosial, dan segala kecanggihan teknologi digunakan untuk menggambarkan dan menjelaskan apa yang kita miliki. Tidak banyak orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja sedang sibuk memperlihatkan dirinya. Seolah semua menjadi perlombaan untuk memperlihatkan siapa yang lebih baik dan siapa yang lebih buruk. Kondisi ini pula yang diam - diam hendak menggiring kita pada situasi yang lebih dari sekadar pencitraan. Jean Jacques Rousseau pernah menyampaikan pendapatnya bahwa perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan kesenian hanya menghasilkan ketidaksungguhan, kemunafikan, kecongkakan dan kesombongan untuk umat manusia. Apa yang hendak disampaikan Rousseau dapat menjadi sebuah awal pemikiran yang bisa kita jabarkan bersama nantinya.

Tak jauh beda dengan Rousseau, Baltasar Gracian, seorang penulis dan pendeta Jesuit Spanyol mengatakan jika manusia terlahir sebagai barbar. Melalui kultur, ia diangkat naik setingkat lebih tinggi ketimbang hewan buas. Pernyataan itu sepertinya tepat dengan kondisi yang terjadi akhir - akhir ini. Sejumlah kejadian memperlihatkan jika manusia kadang tak jauh beda dengan hewan atau mampu lebih kejam dibandingkan hewan. Penggambaran itulah yang menjadi salah satu pesan dari buku “Animal Farm” karya George Orwell. Jika saja kita senang dengan kebiasan untuk berbenah, lebih banyak melihat ke dalam diri dibanding ke luar. Tanpa berlomba melihat dan mengutuk kekurangan orang lain, kehidupan mungkin dapat lebih baik.

Lain halnya dengan Philip Zimbardo, seorang tokoh psikologi sosial yang juga pernah menjabat sebagai presiden Asosiasi Psikologi Amerika (American Psychological Association) memiliki temuan yang menarik. Ketika Zimbardo melakukan penelitiannya yang dikenal dengan “stanford prison experiment“ dia mencoba melihat peluang orang baik berubah menjadi orang yang berlaku jahat. Penelitian itu tentu saja menyalahi aturan atau kode etik yang berlaku. Zimbardo menuai banyak kritik atas perlakuannya itu. Walhasil, melalui percobaan ini, Zimbardo menyimpulkan bahwa orang-orang baik, yang sehat secara psikologis, dapat melakukan kejahatan apabila diperhadapkan di situasi yang memungkinkan mereka untuk melakukannya. Lingkunganlah yang paling berpengaruh dalam terjadinya perubahan yang ada. Seluruh gagasan dari penelitian itu menjadi buku yang diberi judul “The Lucifer effect.”

Kebanggan menjadi diri sendiri kadang membuat kita lupa akan sejumlah kondisi yang ada di sekitar kita. Kesenangan kita mencurigai orang lain, memberi komentar negatif pada sejumlah peristiwa bisa menjadi bumerang untuk kita sendiri. Mungkin ketika kita diserang perasaan itu, bukan hal yang mustahil jika kita mampu lebih kejam dari pada hewan. Kasus Angelina, bocah 8 tahun yang hilang sejak pertengahan Mei 2015, ditemukan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali. Hasil otopsi mengungkapkan bahwa Angeline meninggal sejak tiga minggu sebelum jenazah ditemukan. Di tubuh jenazah ditemukan luka-luka kekerasan berupa memar pada wajah, leher, serta anggota gerak atas dan bawah.Selain itu, ditemukan juga luka lilitan dari tali plastik sebanyak empat lilitan. Kasus yang menimpa Angelina menjadi sebagian dari sekian banyak kasus yang membuktikan kemampuan manusia untuk memperlihatkan kekejamannya.

Tidak ada jaminan jika di masa depan kita akan menjadi orang baik atau orang yang buruk. Yang dapat kita lakukan hanyalah berbuat baik di masa yang saat ini mungkin kita miliki. Sebab kita hidup di tengah berbagai kemungkinan, patutlah kita belajar mencurigai diri sendiri. Mengendalikan masa depan dengan mengendalikan masa kini adalah cara yang terbaik. Jika “The Lucifer Effect” dari Zimbardo benar adanya, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kita telah berada atau membentuk situasi yang lebih baik atau lebih buruk? Mungkin, kita memang kumpulan kejahatan yang beruntung berada di situasi atau lingkungan yang lebih baik. Mungkin.


* Tulisan ini pernah diterbitkan di Kolom Literasi Tempo Makassar, 15 Juni 2015

2 comments:

  1. Hhhhmmm... intropeksi diri harus selalu ada ya mas bro. Makasih untuk ilmunya.

    ReplyDelete
  2. -Sebab kita hidup di tengah berbagai kemungkinan, patutlah kita belajar mencurigai diri sendiri-..... harusnya saya sedari dulu mencurigai diriku sendiri... terima kasih pencerahannya :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.