Memulai Pertanyaan tentang Kesadaran

Sejak awal penelitian keilmuan tentang kondisi mental, para pemikir zaman dahulu menyadari adanya kesadaran (consciousness). Ide kesadaran sendiri telah berkembang dalam ajaran Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan beberapa aliran pemikiran teologi lainnya. Masing - masing mengembangkan tentang jiwa sebagai sesuatu yang abadi, ilahiah dan mampu memisahkan diri dari tubuh jasmani. Konsep kesadaran pun kian berkembang. Kesadaran pun mulai menjadi topik yang sering diperbincangkan. Salah seorang antropolog psikologis Hallowel menjelaskan tentang adanya “lingkungan behavioral”. Yaitu semacam representasi mental dari waktu, ruang dan dunia interpersonal. Pengaruh lingkungan sangat berpengaruh signifikan terhadap kesadaran serta perilaku. Cara kita berpikir atau memandang sesuatu, kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh lingkungan.

Kian hari di lingkungan kita terkadang dipenuhi dengan keresahan. Segala sisi kehidupan mampu menjelma jadi sebuah kecemasan. Pemikiran Epictetus, salah seorang tokoh filsuf dalam mazhab Stoa, setidaknya mencoba menjawab masalah yang akan dihadapi manusia. Bahwa, yang meresahkan manusia bukanlah benda - benda itu sendiri. Pendapat manusia tentang bendalah yang menciptakan semua itu. Semua akan kembali pada pengaturan “ide - ide” manusia. Kita tidak memandang sesuatu hanya dengan mata. Akan tetapi, pikiran pun mampu menjadi sesuatu yang dapat melihat dalam kepala kita. Sadarkah kita ketika sedang berada dalam pikiran yang melihat?

Lebih parahnya lagi, kita tak mampu menemukan kesadaran diri kita sendiri. Lingkungan mampu menciptakan kesadaran yang membentuk pribadi kita. Akan ada beberapa kemungkinan, seperti ketika kita bertahan dengan kesadaran yang kita miliki sendiri. Atau kita tak sepenuhnya berada dalam kesadaran diri kita melainkan berada pada orang lain. Orang lain berhasil mempengaruhi kesadaran awal atau kemampuan kita mempertahankan kesadaran, hilang begitu saja.

Muzafer Sherif dan Solomon E. Asch memiliki penelitian eksperimen yang berbeda namun mampu menggambarkan sebuah perilaku yang berubah tanpa kita sadari. Mereka berhasil memulai konsep dari teori konformitas yang dapat terjadi di lingkungan kita. Hingga penelitian tentang gagasan itu berkembang. Perilaku konformitas sangat dipengaruhi oleh lingkungan kita berada. Maka ketika kita berbicara tentang konformitas sosial, kita dapat menemukan bahwa kondisi negara dengan kemakmuran ekonomi ternyata memiliki kecendrungan konformitas yang lebih tinggi. Seperti itulah yang kemugkinan terjadi di Indonesia. Sangat mudah bagi masayarakat Indonesia untuk mengikuti dan berubah dalam menentukan pilihan atau selera. Bukan hal yang mengherankan jika Indonesia tercatat sebagai negara dengan pengguna sosial media terbanyak di dunia. Indonesia pun disebut sebagai pasar untuk menyebarkan produk dari luar negeri. Lantaran ketika ada satu produk baru yang datang, semua akan berlomba - lomba untuk menggunakan atau melakukan hal yang sama.  

Korupsi, yang menjadi permasalahan Indonesia mungkin saja terjadi karena alasan yang sama. Pepatah Maroko mengatakan, lakukan seperti apa yang dilakukan tetangga, atau pergi saja. Perilaku serupa tentu akan terus berkembang selama kita tak mampu menemukan letak kesadaran yang kita miliki. Perilaku konformitas tak sepenuh berkaitan dengan perilaku yang buruk, namun hampir sebagian besar berpikir kebaikan terkadang sulit untuk disebarkan. Sedangkan keburukan, adalah hal yang sangat mudah ditemukan sengaja atau tidak sengaja.

Mari kembali pada pemikiran Epictetus. Pemikiran yang dimiliki Epictetus menjadi rujukan berbagai ahli dalam bidang etika, khususnya terkait etika moral. Sekiranya manusia memiliki kemampuan dalam membatasi diri dari godaan nafsu-nafsu duniawi, khususnya nafsu memiliki segala sesuatu. Bagi Epictetus, manusia hendaknya memahami perilakunya masing-masing dalam hal hubungannya dengan pihak lain. Tantangan kita sebagai manusia adalah mampu menang melawan kecemasan. Kita cemas akan berbagai hal. Kesulitan untuk memahami letak kesadaran atau perilaku kita bermula akan selalu menjadi pertanyaan bagi diri kita masing - masing.

Bagi Fyodor Dostoyevsky, salah seorang novelis Rusia, penderitaan menjadi satu -  satunya asal muasal kesadaran. Jika kondisi Indonesia dipenuhi dengan gejolak atau dengan setumpuk permasalahan yang tak habis - habis, bisa saja itu adalah isyarat Tuhan agar kita mulai mengenal kesadaran secara individu hingga sosial. Sudah saatnya kita menggunakan kemampuan kita untuk membatasi diri dengan segala godaan yang merusak. Cara itu pula yang akan melepaskan kita pada kecemasan yang sulit dihindari. Secara perlahan kita akan mulai menemukan jawaban dari pertanyaan, apakah kita sadar dengan kesadaran kita sendiri atau mungkin kita berada di kesadaran orang lain? 

*

Tulisan ini diterbitkan di Koran Tempo Makassar, Literasi Senin 18 Mei 2015. 

No comments:

Powered by Blogger.