"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Tuesday, April 21, 2015

Manusia dan Paradoks Mencintai

4:55 AM Posted by Wawan Kurn 1 comment
Bagaimana jika cinta dibawa ke dalam laboratorium? Harry Frederick Harlow, sebagai ilmuwan psikologi pernah melakukan itu. Pada tahun 1951, dia pernah membawakan pidato presidensial yang begitu memukau. Pidato itu didengarkan oleh Asosiasi Psikologi Amerika (APA). Isi pidato Harlow berisi tentang pemahamannya akan cinta. Harlow adalah salah seorang ilmuwan pertama yang membawa cinta ke dalam laboratorium. Bukan hal yang mengherankan jika pada saat itu Harlow menciptakan pidato yang seperti itu. Penelitian eksperimen Harlow tentang delapan bayi monyet yang dengan sengaja dibuat bergelantungan pada “ibu” yang terbuat dari kain dan kawat. Pengalaman itu berhasil membuatnya belajar banyak hal.

Penelitian itu membuat Harlow yakin jikalau cinta adalah sumber kekuatan, kehangatan yang begitu mendalam dan tertanam. Harlow membuktikan jika keberadaan cinta dari ibu yang sebenarnya sangat berpengaruh pada perkembangan. Isi pidato Harlow juga berupa teguran yang sebenarnya dilupakan di kalangan para ilmuwan psikologi. Harlow diliputi keresahan ketika psikologi hanya digunakan untuk mempelajari kebencian, kekerasan, rasa takut, tetapi melupakan emosi - emosi positif. Cinta akan selalu menarik untuk dipelajari.

Cinta adalah awal mula kehidupan yang sebenarnya. Fichte, seorang filsuf asal Jerman berkeyakinan “das leben ist liebe”. Bagi Fichte hidup yang sesungguhnya adalah mencintai. Dalam bukunya yang berjudul Die Anweisung zum seligen Leben (Petunjuk untuk hidup bahagia) dia menjelaskan jika cinta kepada manusia harus mampu menuju cinta kepada Tuhan. Sebab Tuhan ada di mana - mana, khususnya dalam batin kita. Hanya saja, tidak banyak yang sampai pada kontemplasi seperti itu. Seperti halnya kontemplasi Plotinos. Kebanyakan dari kita hidup dengan dangkal dan tidak menyelam ke dalam diri masing - masing.  Akibatnya, kita kembali kehilangan diri kita yang sebenarnya. 

Seperti yang terjadi pada tahun 1960-an, ketika para sosiolog mendefinisikan orang Amerika tipikal yang “protean”, seperti nama dewa Yunani yang selalu mengganti identitas yang dimiliki. Bagaimana jika pernyataan itu kita pindahkan di masa sekarang. Memperhatikan atau merasakan kehidupan tanpa cinta tentu akan mencemaskan. Cinta terkadang begitu dekat namun mampu terasa begitu jauh. Pikiran kita tak sepenuhnya mampu merasakan atau perasaan kita tak mampu memikirkan kehadiran cinta. Kehilangan cinta jelas akan membuat kita tak lagi mengenal kesetiaan. Bahkan kesetiaan pada diri sendiri.  

Lain lagi dengan Mahatma Gandhi, baginya cinta adalah satyagraha (kekuatan kebenaran). Dengan itu, Gandhi mampu menghentikan penindasan kolonialisme Inggris di India tanpa menggunakan senjata. Bagaimana pun cinta bukanlah perkara yang sederhana untuk dipahami. Mulai dari laboratorium hingga ke ruang batin, cinta dapat menempatkan dirinya dengan indah. Begitu seringnya kita mendengar cinta, namun belum tentu yang terdengar itu mampu mewakili makna sebenarnya. Cinta adalah kekuatan paling radikal. Wajar jika kekuatan itu menurut Harlow adalah yang terdalam dan tertanam dalam diri kita masing - masing. Maka, Ficthe seringkali mengajak kita untuk menenggalamkan diri ke dalam cinta. Cinta antar sesama yang menuju cinta di dalam pelukan Tuhan. 

Namun sayangnya, cinta antar sesama kadang terabaikan begitu saja. Di sekitar kita, ada orang tua yang sibuk bekerja lalu mengabaikan keluarga. Di jalanan, kadang kita melihat sekelompok anak kecil atau bahkan lansia yang dipekerjakan untuk dijadikan alat mencari uang. Selain itu, ada pula yang harus berselisih dengan saudara atau keluarga hanya karena memperebutkan warisan. Belum lagi para petinggi pemerintahan yang berebut kekuasaan. Hampir sebagian besar berusaha untuk mendapatkan materi yang lebih besar dengan mengabaikan makna cinta antar sesama.


Sebuah paradoks dalam mencintai kemudian timbul diantara manusia. Sejatinya, manusia tercipta untuk dicintai. Sedangkan benda - benda diciptakan untuk dimanfaatkan dengan bijak, termasuk hal - hal yang seringkali diperebutkan. Alasan mengapa kehidupan kita semakin buruk dan kacau, adalah karena kita seringkali mencintai benda - benda dan manusia hanya menjadi objek yang digunakan. Atau mungkin saja, hari ini manusia tak jauh beda dengan benda yang diinginkan dan diperebutkan?

*Tulisan ini diterbitkan di Literasi Koran Tempo Makassar, Senin 20 April 2015. 

1 comment: