Tentang Ibu yang "Palsu"

“Anak - anak itu berbahaya bagi pernikahan”.

Kalimat itu mungkin lelucon, namun kadang kala menjadi sangat serius. Penulis Amerika, Peter De Vries berpesan tentang makna pernikahan. Peter menyatakan jika nilai sebuah pernikahan bukan sekadar melahirkan anak, melainkan anak mampu melahirkan kedewasaan. Tak jarang orang tua mengabaikan kehadiran anak. Banyak yang lebih mementingkan untuk menghabiskan waktu di luar atau di tempat kerja, dibandingkan bersama anak di rumah. Waktu yang begitu padat berhasil membuat kita terperangkap dan lupa akan hakikat menjadi orang tua. Jika itu benar terjadi, anak - anak akan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Di tahun 1960, D.W. Winnicott menuliskan sebuah esai penting berjudul "Ego Distortion in Terms of True and False Self." Karya yang dihasilkan Winnicott sebenarnya mengajak kita untuk kembali melihat masa kanak - kanak kita. Membuat kita kembali mengamati hubungan kita dengan ibu. Hubungan itu membuat kita akan paham tentang konsep True dan False Self. Konsep ini mengacu pada hubungan pengasuhan ibu. Jika hubungan pengasuhan terhadap bayinya “cukup baik”, maka pertumbuhan pun akan berkembang melalui tiga tahapan: ketergantungan mutlak, ketergantungan relatif, dan mandiri relative. Si anak akan mampu untuk mengembangkan pemahaman atau kesadaran sejati mengenai kekuasaan-kekuasaan dirinya di dalam relasinya dengan kekuasaan dan autorits sejati dari dunia objek.

Jika penjelasan dari Winnicott cukup rumit, kita dapat belajar dari Novel yang ditulis oleh Louisa May Alcott yang berjudul Little Women. Alasan mengapa buku ini disebut menarik terletak pada semua kepribadian dari karakter Mrs Margaret March yang merupakan seorang wanita yang kuat dan mandiri yang tidak pantang menyerah. Tokoh Mrs Margaret March juga seorang ibu yang menanam nilai-nilai kuat pada anak perempuan, sehingga nilai-nilai tersebut menjadi fondasi kuat pada keluarga March.

Dikisahkan bahwa Mrs Margaret March memiliki berbagai karakter anak yang berbeda. Namun, dengan ketulusannya dia berhasil memahami dan menjalin hubungan yang baik. Misalnya, anaknya yang bernama Jo, terkesan nakal namun memiliki bakat menulis. Beth, sering merasa kurang sehat, namun selau bersikap manis. Amy sebagai anak bungsu senang dimanja, dan juga Meg yang selalu ingin dicintai namun selalu ragu dengan penampilannya. Meg menggambarkan kondisi perempuan pada umumnya. Semua karakter itu berhasil dipahami dari seorang ibu yang benar - benar tulus kepada anak - anaknya.  Menjadi seorang ibu memang butuh ketulusan.

Buku itu berlatar belakang masa perang sipil, dimana banyak terjadi ketegangan antara kulit hitam dan kulit putih. Selain itu juga, keluarga March, yang dulunya adalah keluarga kaya, dan mempunyai hubungan kekerabatan dengan kasta masyarakat "lebih tinggi", harus rela dan dengan terpaksa dipandang menjadi lebih rendah, hanya karena mereka jatuh miskin. Dari kasus itu, Mrs Margaret March mengajarkan anak - anaknya untuk tetap menjaga hubungan dengan orang lain. Beberapa nilai yang diajarkan Mrs. Margaret March kepada anak-anaknya mengenai pentingnya berusaha dan jangan pernah menyerah untuk mencapai cita-cita, jangan untuk menjadi sesorang yang penting karena memiliki harta atau materi, namun menjadi penting karena memiliki kekuatan mental.

Tentang kekuatan mental, hal inilah yang menjadi salah satu dari banyak masalah yang ada di Indonesia. Sehingga kondisi itu pun sempat membuat Jokowi - JK membuat visi “Revolusi Mental” yang sesungguhnya sekadar pemanis dalam mendapatkan dukungan rakyat. Tanpa berniat merendahkan visi itu, kita seharusnya paham bahwa kekuatan mental bukanlah sebuah hal yang sederhana. Mental serupa tanaman yang mesti dirawat sejak kita menanamnya. Sehingga, seorang ibu atau keluarga akan sangat berperan penting dalam menguatkan sebuah mental. Mental yang baik selalu dimulai dari kasih sayang yang cukup dari seorang ibu atau dari dalam keluarga.


Jika benar banyak orang tua atau ibu yang gagal menjaga hubungan dengan anaknya, itu menjadi sinyal datangnya malapetaka. Bagi yang belum menjadi ibu, ada baiknya semakin rajin membaca, belajar dan meneladani kisah ibu yang tulus. Bukan belajar atau mempersipakan menjadi seorang ibu yang palsu. Jika kita kembali melihat teori Winnicott, dia telah membangun sebuah istilah yang disebut “False Self”. Istilah tersebut ditujukan pada orang - orang yang memakai “topeng” lantaran kehilangan dirinya yang sejati. Kehilangan itu selalu dimulai saat para ibu melupakan atau mengabaikan kasih pada anak - anaknya. Jika sejak kecil anak - anak tak diajarkan tentang perasaan, maka orang dewasa harus siap menerima kenyataan, bahwa generasinya adalah pemilik mental yang lemah. Dan itu, tentu sangat berbahaya.  

*Tulisan ini telah diterbitkan pada kolom Literasi Tempo Makassar, Senin 23 Maret 2015. 

No comments:

Powered by Blogger.