"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Wednesday, March 4, 2015

Firasat

5:43 PM Posted by Wawan Kurn No comments
Sepanjang malam ada seorang lelaki berdoa. Pada pagi hari, sebelum dia memanjatkan doa, lelaki itu baru saja menanam sebuah pohon. Bibit pohon itu diperoleh dari seorang teman lamanya. “Ini sangat pas dengan kondisi tanah di rumahmu” itu yang membuat lelaki itu mencoba untuk menanam pohon itu. Di sebuah kota yang ramai, lelaki itu telah memutuskan untuk menghindari tubuh kota. Dia berjalan jauh dalam doa, mencari apa yang ada dalam kepalanya. Berharap, segela kebisingan kota mampu diubahnya menjadi keheningan. Lelaki itu masih tetap berdoa.

Doa yang dia panjatkan telah lama ia pinta. Meski pernah ia putus asa. Dikabulkan atau mungkin tidak dikabulkan, seperti itulah doa. Sebelum malam berakhir, dia keluar dari rumah dan melihat pohon yang baru saja dia tanam. Sebelum berdoa, dia baru saja mengirimkan pesan dan mencoba menghubungi seseorang. Dia juga menghubungi ibunya. Mungkin karena malam telah larut, tak ada jawaban yang dia dapatkan. Barulah lelaki itu mencoba menghubungi Tuhan, lewat doa.

Lelaki itu percaya, jikalau ada waktu yang baik. Waktu saat Tuhan tak begitu sibuk, saat doanya akan lebih mudah dan cepat diterima Tuhan. Namun, dia tak mencoba menunggu waktu yang baik itu. Doanya tak butuh waktu yang baik, cukup dengan perasaan baik. Lelaki itu telah belajar untuk menjadi orang baik selama bertahun - tahun. Bahkan, kini saat usianya mencapai 54 tahun. Dia merasa tak pernah menjadi orang baik. Karena itu juga, dia belajar untuk menjadi seorang yang baik untuk sebatang pohon. Pohon itu masih belum cukup tinggi, tapi di kepala lelaki itu, pohonnya telah tinggi.

Bulan depan, lelaki itu sedang berusaha merayakan ulang tahun ibunya. Lelaki itu berencana untuk membeli beberapa bunga kesukaan ibunya. Jika tidak membeli bunga, lelaki itu akan pergi ke toko buku untuk mencari resep kue. Jika tidak, cukup mencari resep di internet. Dia hendak membuat kue ulang tahun untuk ibunya. Mungkin saja, mencoba dua hal tersebut akan jauh lebih baik. Di catatannya, sudah jelas jika dia akan membeli Alamanda, Aglaonema, dan Adenium. Baginya, bunga - bunga itu adalah kesukaan ibunya dan dia pun sudah pandai merawatnya. Dia berencana untuk melakukan yang terbaik untuk ibunya. Sebab, seminggu yang lalu dia seakan punya firasat, hidupnya tak bakal lama lagi. Dalam doanya, dia tak lagi meminta usia yang mungkin dapat dipanjangkan. Semuanya telah cukup baginya.  
*
 Lelaki itu pandai merawat tanaman sejak ia kecil. Saat tinggal bersama kakek dan neneknya, setiap pagi dan sore hari, dia akan menyiram tanaman. Neneknya punya banyak koleksi tanaman hias di tamannya. Halaman rumahnya tak begitu luas, namun dengan warna - warni bunga yang ada, semua serasa jauh lebih indah dan menenangkan hati. Semua itu berlangsung selama beberapa tahun, hingga akhirnya itu menjadi kebiasaan yang sulit untuk dilepaskan. Karena sibuk dengan berbagai urusan di luar rumah, akhir - akhir ini dia memutuskan untuk tidak merawat tanaman. Menjelang ibunya ulang tahun, barulah dia berencana untuk menyempatkan waktu untuk merawat tanaman.

Ibunya ada di suatu tempat yang cukup jauh dari rumahnya sekarang. Lelaki itu paham betul, betapa menyebalkannya seorang ibu. Dia tak lagi senang mendengar nasihat, namun ibunya tak pernah paham dengan itu. Setiap kali ibunya menelpon, selalu ada nasihat, kadang juga ada perintah secara tidak langsung. Kadang, itu semua membuatnya kesal dan mencoba menghindari ibunya sendiri. Tapi, pada dasarnya dia sangat mencintai ibunya. Dalam doanya, nama ibunya tak pernah luput dia hadirkan.

Selama bertahun - tahun, lelaki itu merayakan ulang tahun ibunya dengan cara yang berbeda - beda. Selalu ada kejutan yang dia hadirkan untuk orang yang paling dia sayangi. Baginya, semua itu adalah hal yang semestinya dilakukan setiap anak, dan itu bukanlah hal yang istimewa. Dia pernah menghadiahkan ibunya sebuah buku puisi. Dia pernah mengirimkan seikat bunga mawar putih kepada ibunya. Dia pernah mengajak ibunya ke tempat “pertemuan pertama ibu dan ayahnya” tempat itu di sebuah halte dekat kampus. Dia membeli cokelat, membeli payung, membeli jam dinding, yang semuanya telah didesain sesuai dengan usia ibunya. Isi kepala lelaki itu berserta kejutannya tak pernah mampu dituliskan dengan baik. Meski seperti itu, dia tak pernah merasa bahwa dia pandai membuat kejutan. Sepanjang hidupnya, tak ada kejutan yang pantas dia sebut sebagai kejutan.

*
Saat hendak menutup doanya malam itu, dia menitihkan air mata. Dia mengingat perbuatannya kembali. Terlebih saat ingatannya tiba pada peristiwa setahun yang lalu. Saat dia memberikan hadiah terakhir untuk ibunya, hadiah itu adalah minuman khas dari suatu daerah yang baru dia kunjungi. Di dalam minuman itu, ada racun yang dia tuangkan. Racun yang berhasil merenggut nyawa ibunya sendiri. Lelaki itu melakukan itu lantaran dipenuhi dendam yang begitu besar. Setelah sadar jika ibunya meninggalkan ayahnya karena selingkuh dengan lelaki lain, lelaki yang kemudian menjadi suami baru untuk ibunya. Ayahnya meninggal bunuh diri. Lelaki itu sayang pada ibunya, namun jauh lebih menyayangi ayahnya.


Bertahun - tahun dia belajar dan menikmati cara merawat tanaman. Selama itu pula, dia sadar jika merawat luka tak semudah merawat tanaman hias. Setelah berdoa, di hadapan lelaki itu, ada segelas minuman yang sama seperti apa yang telah merenggut nyawa ibunya sendiri. 

0 comments:

Post a Comment