Abraham, Kita dan Teater Korupsi

Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesamanya. Kisah Abraham Samad misalnya. Berhasil menjadi serigala untuk para koruptor. Sosok tegasnya dan tak pandang bulu, menjadikannya orang paling ditakuti oleh para koruptor di negeri ini. Setelah menjabat sebagai Ketua KPK, Abraham Samad telah meraih sejumlah prestasi. Setelah Abraham Samad menjadi serigala bagi koruptor, tentu akan ada seriga lain yang selalu siap menerkam Abraham. Hingga pada akhirnya, Abraham diputuskan menjadi tersangka setelah terlibat kasus kasus pemalsuan dokumen administrasi kependudukan. 

Penetapan tersangka terhadap Samad berdasarkan hasil gelar perkara Polda Sulawesi Selatan dan Barat, menindaklanjuti gelar perkara di Markas Besar Polri pada 5 Februari 2015. Penetapan itu mungkin adalah sebuah terkaman lain dari serigala untuk Abraham. Saat Abraham Samad menjadi Ketua KPK, hal tersebut memberikan kesempatan pada dirinya memiliki identitas baru. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Geroge Herbert Mead dalam karyanya Mind, Self, and Society. Abraham akan selalu bertindak dengan cara yang dapat diprediksikan. Bahwa kelakuan yang ada dalam dirinya bergantung pada konteksnya, berdasarkan posisi sosial dan faktor-faktor yang melekat. 

Selain itu, Abraham akan menggiring keluarganya untuk masuk ke dalam wilayah perannya. Mereka akan berteater dan berusaha melakoni semuanya. Setelah Abraham menjadi tersangka dan berbagai kasus yang menimpanya, keluarganya tentu dengan lapang dada mesti belajar menerima risiko dari peran yang dipilih Abraham. Teater adalah metafora yang sering digunakan untuk mendeskripsikan teori peran. Teori peran atau role theory lahir setelah penjabaran dari Mead. Peran itulah yang senantiasa mengundang serigala lain datang menyerang. 

Sebelum menjadi tersangka, Abraham bahkan diberitakan dengan isu fotonya bersama seorang gadis di sebuah hotel. Ditambah lagi dengan pengakuan dari sahabat dekatnya. Rentetan peristiwa itu, menjadi bagian dari peran yang telah dia pilih dan jalani. Menegakkan keadilan dengan melawan para koruptor bukanlah hal yang mudah. Meski seringkali kita mendengar slogan korupsi adalah musuh bersama. Namun tak dapat dipungkiri bahwa selalu ada kawan dan lawan. Ada yang memerangi korupsi, ada pula yang memilih jalan menjadi koruptor. Maka, pesan jikalau “hidup adalah sandiwara” mungkin dapat kita benarkan jika merujuk pada role theory. Setiap orang berlomba memainkan peran dengan sebaik – baiknya. Tak jarang, peran itu harus membawa kita melupakan siapa diri kita sebenarnya. Semakin banyak peran, semakin besar kesempatan kita melupakan siapa yang ada dalam diri kita sebenarnya.  

*

Pada tahun 2002, setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdiri, sejauh ini KPK telah berhasil mengungkap berbagai kasus. Berdasarkan beberapa temuan, Indonesia selalu berada pada posisi tertinggi sebagai negara terkorup. Semoga saja, setelah Presiden Jokowi merancang formasi baru dari KPK, kinerja dalam pemberantasan korupsi tidak menurun. Prahara KPK selama ini, semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. 

Penulis Jonas Jonasson dalam karyanya,  The 100 year old man who climbed out of the window and disapperared bahkan sempat menggambarkan Indonesia dengan satu kalimat. “Indonesia adalah Negara di mana segalanya mungkin.” Kalimat itu diungkapkan Allan, tokoh fiksi yang berusia 100 tahun setelah berhasil menyuap pengatur lalu lintas Bandara Internasional di Bali. Sepertinya, Jonasson mengenal kondisi yang telah terjadi di Indonesia. 

Setiap dari kita memiliki perannya masing – masing. Kita juga bebas dalam memilih, menjadi kawan atau lawan dari upaya memberantas korupsi. Namun, teater kehidupan selalu dipenuhi dengan pertanyaan, “siapa aku” dan “dengan siapa aku”. Tidak mudah menjalani peran di saat sekarang ini. Terlebih ketika kita setuju, Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesamanya.

*Tulisan ini diterbitkan di Literasi Tempo Makassar, Tanggal 27 Februari 2015

No comments:

Powered by Blogger.