"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Sunday, February 8, 2015

Maggie Tiojakin, Tersesat dalam Absurd

2:55 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Bagaimana awal dan akhir dari kehidupan? Setiap dari kita akan memberikan respon yang berbeda – beda. Seperti halnya Maggie Tiojakin yang menuliskan sejumlah peristiwa dengan sudut pandang yang berbeda. Baginya, kehidupan selalu dipenuhi dengan hal – hal absurd. Mulai dari kelahiran manusia, proses pertumbuhan hingga menghadapi sejumlah pengalaman panjang hingga akhirnya menemukan kematiannya. Secara mendasar, absurdisme merupakan suatu paham yang didasarkan pada keyakinan bahwa upaya manusia dalam mencari arti kehidupan selalu berakhir dalam kegagalan, dan kecendrungan manusia untuk melakukan hal itu sebagai suatu yang absurd.

Seperti halnya yang dituliskan oleh  Albert Camus dalam sebuah esai filsafatnya yang berjudul “The Myth of Sisyphus” bahwa “para dewa telah menghukum Sisifus untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar sampai ke puncak sebuah gunung; dari puncak gunung, batu itu akan jatuh kebawah oleh beratnya sendiri. Tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada pekerjaan yang tak berguna, dan tanpa harapan itu”.

Sisifus merupakan mitologi yang menjadi metafora dari kehidupan modern saat ini, ketika dengan mudah para buruh pabrik dan pekerja kantoran melakukan tugas yang sama sepanjang hari selama hidupnya. Melakukan tugas yang sama dan nasibnya ini tak kalah absurd. Namun ketragisannya hanya muncul di saat mereka sadar akan nasibnya. Penggambaran yang dijelaskan oleh Albert Camus mencoba memperlihatkan kondisi manusia yang senantiasa harus tabah menahan derita. Kegagalan begitu dekat, putus asa dengan mudah kita temui.

Kesia-siaan bukanlah sesuatu hal yang langka. Namun, apakah dengan penjelasan itu kita percaya bahwa hidup kita adalah penderitaan panjang yang tak berujung? Tidak ada jawaban pasti yang dapat disimpulkan, namun di kepala kita masing – masing akan selalu ada ruang yang berhasrat untuk menjawabnya. Mari kita kembali melihat konsep absurd, dari bahasa Latin absurdus. Ab-surdus yang berarti tuli, atau bodoh. Menurut kamus, absurd berarti demikian dan terjemahannya sebagai berikut:

“Absurd is having no rational or orderly relationship to human life: meaningless (an absurd universe). Lacking order or value (an absurd existence). absurdism is a philosophy based on the believe that the universe is irrational and meaningless and that the search for order brings the individual into conflict with the universe”.

Dengan begitu, kita dapat melihat absurd sebagai hal yang tidak rasional dalam hubungannya dengan kehidupan manusia: tiada artinya (alam/dunia absurd). Ketidakbermaknaan atau tidak berharga (eksistensi absurd). Absurdisme adalah sebuah filosofi berdasarkan kepercayaan bahwa alam semesta adalah tidak rasional dan tidak berarti dan bahwa pencarian makna membawa seseorang ke dalam konflik dengan alam.

Bagaimana pun, konsep yang sebelumnya telah dituliskan bukanlah kesimpulan yang baik. Hanya berupa ringkasan dan sebuah penggambaran dangkal yang mungkin juga bersifat absurd. Selanjutnya, kita patut untuk membaca sejumlah cerita pendek absurd karya Maggie Tiojakin yang berjudul “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa”. Saya pun menyukai sejumlah penggambaran dari cerpen yang ditulis perempuan kelahiran 10 Maret itu. Selain itu, Maggie Tiojakin sering menerjemahkan karya-karya klasik ke dalam Bahasa Indonesia. Karya pengarang besar seperti Edgar Allan Poe, Anton Chekhov, Ernest Hemingway, dan masih banyak lainnya. Maggie Tiojakin bahkan menjalankan sebuah situs bernama FIKSI LOTUS. Situs yang menghadirkan atau lebih tepatnya “menghadiahkan” cerita – cerita pendek klasik dunia yang telah dia terjemahkan untuk para pembaca Indonesia.


Pilihan Magie Tiojakin untuk menggambarkan hal – hal absurd dalam bukunya mungkin sebuah pesan tersirat. Kita diberikan kesempatan untuk menyelami kesia-siaan, namun tak sepenuhnya seperti itu. Masih ada jalan – jalan kosong yang belum kita sentuh dengan utuh. Konsep absurd selalu dapat kita pecahkan dengan penalaran yang kita miliki masing – masing. Namun, hal yang menarik dalam buku itu adalah pernyataan Maggie di akhir bukunya. Dia menyatakan bahwa dalam tulisannya dia tak berniat untuk menginspirasi, melainkan bertanya. Saya percaya, bahwa setiap dari kita memiliki pertanyaan yang sulit untuk dibahasakan dengan jelas, maka mari kembali melihat diri kita masing – masing. Mempertanyakan kesia-siaan kita sebelum menyimpulkan kebermaknaan kita. Sebut saja, catatan ini tak begitu bermakna, semuanya bersifat absurd.    

*Tulisan ini dimuat dengan beberapa revisi dari redaktur di Koran Harian Fajar, Kolom Budaya, 8 Februari 2015. Tulisan yang saya posting agak berbeda dengan yang telah dimuat. 

0 comments:

Post a Comment