Dealova

Kepada Dealova, 

Akhir - akhir ini, saya sedang belajar banyak hal. Menuliskannya, mungkin bukan jadi cara terbaik untuk belajar dan untuk memahamkanmu. Tapi, setidaknya dengan cara itu saya memeluk apa yang belum bisa kupeluk seutuhnya. Saya menggenggam apa yang tak mampu kugenggam dengan erat. Menciptakan banyak hal dalam kepala. Menemui banyak imaji yang tak pernah berhenti memanggil keresahan dalam diri.

Saat ini, saya berada pada sebuah cafe. Menjadi pengunjung pertama, dan memesan segelas teh. Di samping teh itu, kuletakkan dua buah buku bacaan, dan satu buku catatan. Saya sedang memikirkan cara untuk menuliskan sesuatu untukmu. Seseorang yang entah siapa, namun serasa telah berada. Saya tak ingin menjelaskan tentangmu, pada siapa pun. Saya sedang menuliskanmu, selalu.

Setelah menuliskan surat ini, saya akan datang menemuimu. Atau sebaliknya, kau akan datang menemuiku. Namun sejujurnya, saya mengerti jika kau telah memahami bagaimana isi kepalaku. Bagaimana saya yang selalu dipenuhi dengan ketakutan yang kadang terkutuk untuk sebuah hubungan. Bagaimana jika hari ini kita bertemu dan kita tak punya jalan lain lagi selain bersurat. Surat itu menjadi jalan panjang bagi ingatan kita yang tak seorang pun akan mengerti, di mana persinggahan kata. Juga tentang di mana kita berada. 

Saya baru saja menamatkan buku Susan Cain, berjudul "Quiet." Jika kau miliki niat untuk berjalan menuju pikiranku, bacalah buku itu. Saya mulai memahami jika anak kecil dalam jiwa saya tak pernah tumbuh menjadi dewasa. Anak kecil itu mungkin akan menyulitkanmu, dia tak pernah berhenti berceloteh. Saya pun sedang berjalan perlahan menuju pikiranmu, entah kau akan berikan kesempatan itu hingga esok atau akan berakhir dengan sangat cepat. Saya menyukai perjalanan ini, pun jika kita tersesat. 

Saya belum menghabiskan segelas teh yang kupesan tadi. Saya ingin kau belajar untuk tidak mencintaiku, melainkan belajar berusaha untuk mencintaiku. Kalimat ini saya berikan kepadamu, setelah melihat buku "The Paradox Of Choice" dari Barry Schwartz. Kau tentu boleh meminjamnya. Kau pun boleh memilih pilihan dari segala pilihan yang kuberikan nantinya, kau juga boleh membuat pilihanmu sendiri. Mencintai orang lain misalnya. 

Sekiranya, saya ingin membuat surat ini terasa lebih manis dari segelas teh yang kupesan. Namun, Minggu ini saya tak begitu baik. Hari Rabu selalu terbayang, dan membuatku agar lekas menyelesaikan surat ini. Selepas hari Rabu, ujian akhirku, akan kubuatkan surat yang lebih panjang dan lebih manis. Setelah membaca surat ini, bolehkah kau berkunjung ke toko dan membeli sepotong cokelat. Mungkin, anak kecil dalam jiwaku sedang merindukan hadiahmu. 

Semoga harimu menyenangkan, bila suatu hari kita bisa menghabiskan akhir pekan bersama dan menyeduh teh hangat, tentu akan jauh lebih menggembirakan. 

Makassar, 14 Februari 2015  

No comments:

Powered by Blogger.