"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Thursday, February 19, 2015

Bila Kepalaku Menjelma Sebuah Planet

6:10 AM Posted by Wawan Kurn 1 comment
 Sebut saja, malam ini kepalaku menjelma sebuah planet. Hanya ada sepasang kekasih yang hendak memulai kehidupan. Tuhan selalu begitu damai, sepasang kekasih itu hendak belajar kedamaian dari Tuhan. Mereka mengulang kisah Adam dan Hawa. namun planet itu bukanlah surga. Tuhan tidak menciptakan aturan untuk tidak memakan buah. Terserah saja, mereka akan berkehendak mengikuti isi kepalanya masing – masing. Tapi di kepala mereka berdua, tak akan ada planet yang berhasil mereka ciptakan.

Di planet dalam kepalaku, Tuhan menanam pohon yang berusia cukup tua, usianya 100 tahun. Tinggi pohon itu sekitar 20 meter. Hanya ada satu pohon, dan dengan pohon itu mereka dapat berteduh dari terik atau lebatnya hujan yang datang. Setiap musim penghujan tiba, warna daun pohon itu akan berubah mengikuti perasaan sepasang kekasih itu. Jika mereka berdua sedang gembira, warna daun menjadi jingga. Jika mereka berdua sedang sedih, warna daun jadi hitam, jika mereka berdua sedang saling diserang rasa bosan, warna daun berubah jadi biru seperti langit. Semua itu, hanya di musim hujan. Bagaimana jika mereka berdua marahan, seperti yang sering dilakukan sepasang kekasih pada umumnya. Tapi, terkhusus untuk mereka berdua, mereka belum atau mungkin tidak akan mengenal marah. Semoga.

Pohon itu selalu belajar untuk tumbuh, dan berharap akan ada pohon lain yang bisa menemaninya. Pohon itu percaya, jika pada suatu hari nanti, sepasang kekasih itu akan mengenal kata marah. Dibiarkanlah daunnya tumbuh lebat, ranting pohon membentuk sesuatu dan selalu dapat berubah bentuk. Ketika sepasang kekasih itu merasa bosan, mereka akan memperhatikan pohon itu. Melihat serta memperhatikan bentuk dari pohon itu. Tentu, pohon dengan senang hati menghibur dan mencoba mengubur kesepiannya dengan cara itu.  

Planet itu tak pernah ingin kuberi nama. Namun jika ada yang bertanya tentang ukurannya, akan kuceritakan bahwa ciri – cirinya tak jauh beda seperti Pluto. Tapi, suhunya mungkin seperti Mars. Sejuknya, tak kalah dari Bumi. Aku juga ingin usia planet itu segera berakhir, dan kedua orang penghuni planet itu segera berpindah ke suatu tempat. Mungkin Bumi, atau langsung saja ke Surga. Sebelum mereka belum mengenal marah, dan entah dengan cara apa mereka mengenal marah.  Pohon itu berjanji pada akarnya, batangnya, pada seluruh yang ia miliki. Bahwa kelak, ketika sepasang kekasih itu mengenal kata marah. Tubuhnya siap untuk berhenti tumbuh. Pohon itu juga akan memohon agar planet itu segera dimusnahkan.

*

Pada suatu waktu, Tuhan sedang iseng. Diciptakannya orang ketiga yang bersiap menghilangkan arti kata sepasang. Ditambahkannya seorang perempuan, dan rasa cemburu lahir dari perempuan lain. Lelaki itu gagal menjaga janji dan menanggalkan kesetiannya. Hari itu musim hujan, pohon besar kini belajar memanggil warna baru. Ada yang belajar kembali mengenal jatuh cinta dan ada yang belajar mengenal luka. Pohon marah dan mengubah daunnya jadi merah. Akarnya membenturkan diri pada batu besar yang tertanam sejak lama. Pohon kini bersedia menepati janjinya.

Malam terakhir sebelum planet itu dimusnahkan, pohon berhasil masuk ke dalam mimpi lelaki itu dan diserang tiga pertanyaan.

“Apakah dia cantik?”
“Tanyakan pada matamu!” jawab pohon. Pohon terus menjawab tanpa ragu.
“Apakah dia baik?”
“Tanyakan pada hatimu!”
"Apakah dia baik dan cantik?”
“Tanyakan pada mata hatimu!”

Saat pagi tiba, pohon itu berhenti tumbuh dan perlahan mati. Maka, selepas kau selesai berkunjung di sini. Planet itu juga akan dimusnahkan. Permohonan pohon tua itu pun diterima.

*

Kepalaku berubah menjadi sesuatu yang lain, setelah memikirkan sesuatu yang lebih rumit. Tentang planet di atas, hanyalah satu dari sekian cara menghibur diri sendiri. Eh, kapan kau mengenal kata marah? Apa kau pernah marah melihat banyak pejabat rajin korupsi di Indonesia? Sudahkah kau menghibur dirimu sendiri? Sebelum kau memutuskan bunuh diri setelah menyerah melihat nasib bangsa Indonesia.


1 comment: