Selamat Ulang Tahun Dira

Sepulang dari toko buku, Kiva menelan beberapa pil berwarna putih. Di kala pikirannya sedang diserang cemas berlebih, pil itu menjadi pilihan terakhirnya. Seringkali, dia menghabiskan waktu untuk menyendiri. Baginya, itu lebih baik ketimbang datang ke psikolog, Kiva percaya dirinya bisa menenangkan dirinya sendiri. Meski pada kenyataannya, Kiva tak mampu menaklukkan dirinya sendiri. Setahun yang lalu, Kiva pernah datang ke psikolog dan mendapatkan nasihat yang kini dia abaikan begitu saja. Di toko buku, dia sedang merencanakan sesuatu yang belum pernah terpikirkan. Dan setelah pil itu menyatu dalam darahnya, Kiva akan lebih mengerti tentang hidupnya yang rumit. Dengan ketenangan yang selalu dia dambakan, ketika penyakit psikisnya itu kumat tiba – tiba.

Minggu ini, ada hal yang membuat Kiva lebih bersemangat dari biasanya. Perempuan yang bernama Dira akan berulang tahun beberapa hari lagi. Sesungguhnya, Kiva sedang berusaha untuk menemukan buku yang dapat dijadikan sebuah hadiah ulang tahun. Dira, seorang perempuan yang menyukai menghabiskan waktunya di dalam kamar hanya untuk membaca sejumlah buku. Sehingga ketika tiba hari ulang tahun, Kiva tak tahu harus memberikan kado apa yang pas untuk Dira.

“Bagaimana jika aku mengajak Dira ke sebuah taman yang jarang dikunjungi di kota ini?”

“Bagaimana jika aku datang ke beberapa museum? Aku ingin dikenang dan mengenangnya seperti benda – benda yang ada di museum”

“Bagaimana jika aku memintanya datang menemaniku berbincang dengan seorang pak tua penjual bunga, yang selalu berkeliling di kota ini. Setelah perbincangan kami selesai, aku akan menghadiahkannya bunga kaktus. Aku menyukai kaktus”

“Bagaimana jika Dira kuhadiahkan sebuah buku yang menghimpun beberapa puisi cinta?”

“Bagaimana jika aku menulis sesuatu yang menarik untuk dia baca?”

Kiva terus bertanya – tanya. Namun, semakin dia memikirkan semua itu, dia akan mencemooh pilihannya sendiri. Seperti halnya tentang tulisan. Kiva selalu merasa tak mampu menulis sebaik apa yang dilakukan Dira. Malam kemarin, Kiva memikirkan rencana yang lebih sederhana dibandingkan member sebuah buku atau tulisan. Sejauh ini, sejauh dia tak mampu menemukan buku yang pas, mungkin rencana itu yang akan dia gunakan sebagai hadiah untuk ulang tahun Dira.

Hubungan Kiva dan Dira sudah berlangsung beberapa tahun. Di mulai dari sebuah perkemahan di bulan Maret yang diadakan pihak kampus, mereka saling kenal dan kemudian berlanjut di lingkungan kampus. Mereka berdua hemat kata, namun sesekali mereka bisa mengisi hari dengan tertawa lepas dan mengabaikan apa saja. Dunia mampu menjadi milik mereka berdua. Di dalam kepala mereka berdua, ada dunia yang tak dimiliki siapa pun, kecuali mereka berdua.  Terlepas dari kerumitan yang ada di kepala Kiva, sesungguhnya Dira tak pernah meminta apa pun kepada Kiva, kecuali dihadiahkan waktu.

Pada akhirnya, sehari sebelum hari ulang tahun Dira tiba. Kiva mengirimkan pesan untuk Dira,

“Datanglah ke rumahku, besok akan kuhadiahkan kau sesuatu yang semoga berarti untukmu”

Menerima pesan itu, Dira pun tersenyum lalu terdiam sejenak. Kegembiraannya terpancar, Dira tentu tak sabar ingin bertemu dengan hari yang mungkin akan menyenangkan untuknya.

*
Di hari ulang tahun Dira,

Kiva berdoa dengan penuh ketulusan, agar jiwanya selalu mampu menjaga Dira. Saat Dira sedang dalam perjalanan menuju rumah Kiva, rencana sederhana untuk Dira pun dijalankan.

Kiva memilih gantung diri,


Dengan harapan tak ada lagi yang mencintainya setelah Dira dan dirinya tak akan pernah mencintai perempuan lain selain Dira. Ketika Dira sedang menerka – nerka kejutan dari Kiva, pil yang selama ini dikonsumsi Kiva berhamburan, terjatuh dari kantong jaket yang dia kenakan.       

*

"Selamat ulang tahun Dira" kata roh Kiva yang sedang menanti ekspresi wajah Dira saat melihat atau mendengar tentang Kiva. 


No comments:

Powered by Blogger.