"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Tuesday, January 13, 2015

Saran Seorang Psikolog

10:14 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Semula kita tak saling kenal, kemudian kenal, lalu dekat dan saling menemukan satu sama lain. Siklus itu, bukanlah hal yang spesial. Semua orang, kemungkinan besar akan masuk ke dalam ruang itu. Namun, bagaimana jika lelaki seperti Derby mencoba menciptakan siklus lain dalam perjalanannya yang tak bertujuan. Derby, telah dekat dengan seseorang dan sampai pada tahap upaya saling menemukan. Sayangnya, Derby gagal menyempurnakan kisahnya pada hal – hal yang jauh lebih berharga dari sebuah usaha tuk saling memahami. Derby tak pandai melengkapi dirinya ataupun dilengkapi oleh pasangannya.  

Terakhir, Derby baru saja bertemu seseorang yang telah lama namun baru. Telah lama dia mengenal perempuan itu, namun baru beberapa bulan yang lalu, dia kembali memasuki siklus di kalimat paling pertama tadi. Ketika Derby mencoba untuk ke tahap yang lebih baik, pengalaman kegagalannya dijadikan sebuah alasan terbaik untuk menjatuhkan segala kemungkinan terbaik yang ingin dia berikan. Alhasil, Derby tak begitu meyakinkan di mata calon kekasihnya itu. 

Perempuan itu bertanya pada sejumlah alasan kehadirannya, dan meminta alasan yang jelas atas tujuannya memulai sebuah hal lama yang baru. Sesuatu yang terlupakan namun tidak sepenuhnya terabaikan oleh ingatannya. 

“Apa tujuanmu sebenarnya?” pinta seorang perempuan kepada Derby

“Jangan bilang kalau kamu cuma main – main?” tambahnya

Sebuah jawaban yang Derby pahami seutuhnya, namun tak pandai dia jelaskan seluruhnya. Derby hanya mampu bertingkah aneh, konyol, bodoh, dan sejumlah hal yang tak disenangi perempuan yang mengharapkan respon lain. Tentu, kita bisa membayangkan bagaimana Derby telah melangkah pada akhir siklus itu. Kemungkinan besar, dia gagal mengakhiri hubungan itu dengan sebuah kebahagiaan, melainkan sebaliknya. Dia berhasil merasakan kekecewaan yang berulang. 

“Perempuan selalu menyenangi kepastiaan, sedang aku benar – benar membenci kepastianku sendiri” pikir Derby dalam hati. 

Kemarin, Derby mencoba  melakukan hal  yang dia hindari selama ini. Derby menghindari dirinya untuk datang berkonsultasi ke seorang psikolog. Sebab setiap kali Derby melihat psikolog, dia akan terbayang akan kakak kandungnya sendiri. Lima tahun yang lalu, kakak kandung Derby berani menukar kepedihannya dengan nyawa, kakaknya bunuh diri setelah menelan pil khusus untuk bunuh diri. Padahal, kakak kandung Derby adalah seorang calon psikolog. Namun, alasan itu pula yang membuat Derby kadang ingin berkunjung ke psikolog. Datang membayangkan kakak kandungnya, mendengar dan berbagi cerita akan masalah yang dihadapinya. Juga Derby takut seperti kakaknya, yang ketika lelah dan merasa kalah, akan memilih jalan pintas untuk mengakhiri semuanya. 

“Mungkin aku juga akan bunuh diri” sesekali itu yang terbesit dalam pikiran Derby

Sore hari dia memberanikan diri datang ke psikolog, perbincangan dimulai dengan beberapa pertanyaan ringan. Perbincangan berlanjut, dan Derby menemukan sejumlah hal yang telah dia harapkan pada pertemuannya dengan psikolog sore ini. Sepulang dari psikolog, Derby tidak langsung ke rumah. Dia memilih pergi ke sebuah pantai dan memikirkan kembali sejumlah hasil dari diskusi yang berlangsung selama dua sesi.  

“Apa kau menyesal? 

“Tidak”

“Kamu yakin tidak menyesal?” pertanyaan ini terus diulang psikolog, namun Derby tetap saja menyembunyikannya.  

“Bagaimana jika kau membaca buku dari koleksi pribadiku? Kamu suka membacakan?”

“Boleh saja”

“Mungkin juga aku akan menyarankanmu untuk menggunakan SSRI (Serotonin Reuptake Inhibitor), dan semoga itu bisa membantumu. Tapi, sebelum itu, aku punya buku catatan ini” sambil menyodorkan buku bersampul hijau dan putih. 

“Ini buku apa?”

“Di dalamnya, aku pernah menulis tentang Atychiphobia. Kemungkinan, kau sedang mengalami itu”

“Itu seperti apa?”  

“Kau selalu takut gagal, termasuk gagal mencintai. Tadi, kamu bilang senang menulis, bagaimana jika kamu menulis sejumlah kegagalanmu, sejumlah ketakutanmu dan sejumlah kebisuaanmu yang membingungkan perempuanmu. Menulislah!” 

Derby memikirkan saran itu, hingga dia tiba di pantai, saran - saran psikolog terus berdengung tiada henti. Di sebuah cafĂ© yang jaraknya tak jauh dari pantai, dia berhenti dan membuka laptopnya. Lalu dia mulai memikirkan saran dari psikolog itu. 

*

“Aku seperti lelaki bisu yang selalu ingin mengatakan keinginanku dengan sebenar – benarnya kata. Aku ingin membuat perempuan itu mendengarnya dengan jelas, namun sayang sekali, perempuan itu tuli, dan aku akan selalu bisu selamanya”

Derby menulis, memulai paragraf pertamanya yang tepat menggambarkan dirinya sendiri. Derby dengan senang hati mengikuti saran psikolog. Dia menulis.   

0 comments:

Post a Comment