"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Tuesday, January 27, 2015

Pintu di Bulan

11:04 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Tak ada pintu di bulan. Seperti halnya hati perempuan yang dinantikan oleh Derby selama ini. Tak ada lagi jalan yang akan dia tempuh selain menerima takdirnya. Hari ini Derby mulai menyusun cara untuk belajar mengenal dirinya sendiri. Sejauh ini, dia belum menemukan apa yang selama ini hilang dari dirinya. Sejak kematian kakaknya, jauh di dalam kepala dan hati Derby lahir seorang lain. Dia mulai mencoba untuk merayakan kesendiriannya dan tidak mengharapkan siapa - siapa. Kecuali perempuan itu, dia datang di waktu yang tepat, namun mungkin saja di waktu yang tak begitu tepat. 

Hari ini, Derby memutuskan jikalau perempuan itu tidak pernah datang di waktu apapun. Seperti halnya kematian kakaknya, perempuan itu sepertinya hanyalah bayang - bayang kematian yang tak perlu selalu untuk dihiraukan. Sekali saja dan selanjutnya selesai. Tamat. 

"Bagaimana jika kau berkunjung ke rumah teman kakakmu?" saran itu muncul dengan sendirinya, saat Derby masih duduk terdiam di dalam kamarnya. Minggu ini tak ada buku yang dia baca, melainkan hanya bermain - main dengan catatan dan buku gambar miliknya. Rencana untuk berkunjung ke rumah teman kakaknya, mungkin akan menjadi pilihan lain. Sesuatu cara yang bisa membuatnya sedikit lebih tenang.  

Sebelum pergi, dia ingin membawa dan menyiapkan sebuah catatan kecil. Derby berharap akan mendapatkan cerita baru tentang kematian kakaknya. Sebab saat kejadian itu, Derby sedang berada di luar rumah. Dan pada Minggu menjelang peristiwa bunuh diri itu, Derby disibukkan dengan aktivitas kampus yang padat. Sebulan telah berlalu semenjak peristiwa itu, namun baru kali ini Derby terpikirkan untuk mengusik kematian kakaknya. 

"Isi kepalamu jauh lebih rumit dari kepalaku" pesan itu yang dia ingat dari kakanya. Derby tak begitu paham dengan pernyataan kakaknya itu. Semua dijalani dengan apa adanya. Yang terjadi, biarlah terjadi. Derby tak begitu mencemaskan perkara isi kepala, namun dia sedang suntuk dengan perkara yang berkecamuk dalam hatinya. Rumah teman kakanya cukup dekat dengan rumah Derby, cukup berjalan kaki selama delapan menit. Melewati beberapa rumah dan cukup sekali belok. Rutenya sederhana, jalan terus lalu belok kanan. Rumah dengan pagar hijau, dan di halamannya terdapat pohon Mangga adalah rumah teman dari kakanya.  

Derby tak perlu mengetuk pintu lagi, sebab teman kakanya itu sudah menunggu di teras rumah. Mereka sudah saling kenal, dan dengan mudah Derby bercerita panjang lebar. 

"Kakakmu, meninggal tepat di hari ulang tahunku" 
"Kok bisa seperti itu?"
"Tunggu, ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu" 

Tak lama setelah itu, Derby diberikan sebuah surat dari teman kakaknya itu. 

"Ini surat terakhir untuk kamu" pesan teman itu. 

Derby membaca surat itu;

*

"Isi kepalamu jauh lebih rumit dari kepalaku" 

Jauh lebih penting dari sebuah basa - basi yang biasa di sebuah tempat seperti ini. Derby membaca surat itu hingga selesai. Di dalam itu, ada banyak pertanyaan aneh dari kakaknya. Seperti;

"Kamu masih sakit hati atau sudah dapat yang lebih baik lagi?"

"Bagaimana kabar mantanmu?"

"Bagaimana teman perempuan yang sudah lama kau kenal itu?" 

Surat kakak Derby ditutup dengan kalimat, "Tak ada pintu di bulan namun jika kau cermat di surat ini ada pintu untuk membantumu menemukan siapa dirimu sebenarnya". 

Derby menggaruk kepalanya. 

0 comments:

Post a Comment