Sebuah Catatan Observasi di Halte Bus

Di halte bus yang baru saja diresmikan, aku memperhatikan beberapa orang yang masih menunggu kedatangan bus. Sedangkan aku, sama sekali tak berniat menunggu bus. Hari ini, aku hanya ingin menyelesaikan tugas observasi yang harus kukumpulkan Minggu depan. Beberapa hari yang lalu, dosen telah memberikan sejumlah pilihan tempat untuk tugas itu. Selain itu, kami diperbolehkan memilih tempat yang tidak ada di daftar catatan dosen. Dengan alasan itu, aku memilih halte bus yang jarakanya tak begitu jauh dari rumahku. 

Dari rumahku, aku cukup berjalan kaki selama 10 menit, maka aku akan tiba di halte bus. Hampir setengah jam aku duduk di halte bus, belum ada perilaku menarik yang bisa kutemukan. Juga belum ada perempuan yang semalam tiba - tiba muncul dalam mimpiku. Tapi sebenarnya, keputusan untuk memilih halte bus disebabkan karena mimpi yang tak cukup buruk untuk disebut mimpi buruk dan tak cukup indah untuk disebut mimpi indah. Aku mulai merencanakan untuk pindah ke tempat lain, mungkin aku bisa berkunjung ke museum atau ke sebuah cafe. 

Sebelum berpindah, aku memutuskan untuk menunggu selama 15 menit lagi. 

"15 menit saja, mungkin itu cukup" pikirku

Sudah ada beberapa penumpang yang datang dan pergi, aku juga merasa tugasku ini akan selesai tanpa harus pindah di tempat lain. Namun, mimpi itu membuatku bertahan untuk tetap menunggu di halte bus. Waktu itu, aku diserang perasaan yang mudah percaya pada apa saja, termasuk mimpi yang jelas - jelas tak akan selamanya menjadi kenyataan. Aku bahkan percaya, jika perempuan itu akan menyempurnakan tugas observasiku. 

Seperti mimpiku, "aku melihat diriku menunggu di halte bus setelah menyelesaikan tugas observasi dan mencatat sejumlah hal penting. Sebelum pulang, ada seorang perempuan yang menyapa dan bertanya tentang buku catatan kecil yang kupegang. Perempuan ini membawa payung dan mengenakan tas berwarna cokelat. Sebelum pulang, kami membincangkan beberapa topik menarik. Topik menarik itu hanya tersimpan di perasaanku, tidak di ingatanku" 

Halte bus kini menjadi sepi. Beberapa menit yang lalu, bus tiba dan seluruh penumpang ikut pergi. Aku tetap yakin jika akan datang perempuan yang menjadi penutup dari coretan kecil di buku catatanku.
  
- 5 menit terakhir

Dari jauh kulihat ada bus yang mendekat dan pelan - pelan berhenti. Sebelum bus berhenti, aku berpikir jika perempuan itu ada di bus itu. Ternyata, saat bus berhenti, seperti dugaanku, seorang perempuan turun dan duduk di sampingku. Parahnya lagi, perempuan itu tepat seperti yang ada di dalam mimpiku. Kami terdiam, mungkin tak akan ada kata sebelum kami berpisah. Aku masih punya waktu beberapa menit. 

Kucoba memberanikan diri untuk memulai percakapan, "Selamat ulang tahun" sambil memberinya sebuah pin bergambar lambang psikologi. Dia tersenyum, dan kuputuskan untuk segera pulang ke rumah tanpa ada percakapan baru yang menahanku. Dan sebelum (mungkin) aku terbangun dari mimpi yang sebenarnya. 

Catatanku selesai, persaanku berontak, langkahku berat, mungkin aku mulai menyesal. 

"Semoga ini bukan mimpi di alam mimpi" pikirku


No comments:

Powered by Blogger.