Kepada Ingatanmu

Kepada Ingatanmu,

Saat menuliskan ini, ada hujan yang menenami. Hujan itu, mungkin bukan siapa – siapa untukmu, namun berbeda untukku. Sore ini, aku mengirimkan sejumlah keinginan baru untukmu. Setidaknya, hujan sore ini membuatku belajar untuk berani untuk kembali menemuimu di sini. Di dalam catatan yang tidak ingin kupanjangkan, sebisa mungkin akan jauh lebih singkat dari biasanya.

“Kita mungkin adalah orang – orang yang mudah dilupakan” aku mengatakan itu untuk diriku sendiri. Namun, bagaimana dengan ingatanmu? Bagaimana kabar perasaanmu kelak, jika aku bertanya atau sekedar menjelaskan pernyataanku itu. Menuliskan semua ini, akan menjadi satu cara untuk tidak dilupakan begitu saja. Terlebih, kutuliskan ini untuk ingatanmu.

“Berapa kali aku mampu masuk dalam ingatanmu?”

Mungkin sebelum kau tertidur, kau mengingatku. Mungkin sebelum kau datang menemuiku, kau membayangkan senyumku, menerka warna baju yang kukenakan. Mungkin juga, sebelum kau meninggalkan aku semua yang ada dalam ingatanmu itu akan dengan mudah sirna. Maka, semoga ingatanmu tak begitu sombong untuk tidak menerima suratku ini.

Aku belum mampu mengurung ingatanmu, seperti kau mengurung ingatanku dalam hadirmu. Kau mungkin tak akan mampu menerka, siapa dan bagaimana aku setelah kau pergi dan melupakan ingatanmu tentang seorang yang ada dalam diriku. Semua ini, suatu waktu akan kau baca untuk mengingatkan dirimu sendiri. Bahwa aku pernah mencoba untuk mengingatkan ingatanmu, sebelum kau benar – benar melupakan aku di ingatanmu.

Ingatlah, aku seorang lelaki yang akan belajar keras untuk tidak mengingat semua yang tak harus kuingat tentangmu. Jika hal – hal buruk nantinya akan terjadi dan memaksaku untuk mengenal kata “melupakan”.

Di luar sana, mungkin hujan sedang menertawakanku.

Salam untukmu, untuk ingatanmu.


No comments:

Powered by Blogger.