"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, January 10, 2015

Dialog Batu Nisan

9:34 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Pagi ini selepas menyeduh teh hangat yang ia buat sendiri, dia mengutuk mimpinya. Tak ada ingatan yang sepenuhnya belajar mencintai pemiliknya, atau mungkin sebaliknya. Mimpinya adalah ingatan yang begitu kuat, terlebih ketika dia berhadapan dengan segelas teh buatannya sendiri.  Dan, ketika teh hangat itu dihabiskan, ada dua kemungkinan yang akan dia lakukan. Pertama, sehabis minum teh dia akan pergi ke dapur dan membuat segelas teh hangat lagi.

Namun, dia tak pernah meminum teh hangat itu. Dia hanya memperhatikan segelas teh hangat itu, dan mengenang seorang perempuan yang dulu mengajarkannya tentang mimpi. Kedua, dia akan berjalan menuju sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya. Duduk di sebuah bangku berwarna putih, dan memandangi sejumlah pengunjung yang datang. Jika ada anak – anak yang tengah bermain bersama ayah atau ibunya, itu akan menjadi pemandangan yang sempurna untuknya. Dua hal itu sangat mudah untuk diamati, setiap Minggu dengan mudahnya kita menemuinya di taman atau melihatnya lewat jendela rumahnya, dia duduk sendiri menikmati segelas teh. Jika kau teliti, kau akan melihat segelas teh lain yang dihidangkan untuk orang lain, yang entah siapa.

Dua hal tersebut bukanlah rahasia, orang terdekatnya paham betul akan kebiasaannya. Terlebih dia pernah menuliskannya di sebuah cerita yang disukai banyak orang. Para pembaca, menduga jika bukunya adalah kisah yang dia alami sendiri. Sehingga, cara terbaik mengenal lelaki itu adalah dengan membaca tulisan – tulisannya. Dia lelaki yang pandai merawat bunga, senang memancing, memandangi awan, dan memperhatikan tanah di pot kaktus miliknya sendiri. Dia tak sepenuhnya menyembunyikan dirinya, namun dengan cara itu dia menciptakan orang lain yang tak seorang pun mampu menerkanya dengan baik. Perempuan yang telah mencoba untuk menerka, telah gagal berkali – kali dan berakhir menjelma kenangan di kepalanya.

“Aku tak melihat tujuanmu, namun mampu merasakan jalanmu” perempuan itu selalu memberikan pesan seperti itu. Juga kesediaan untuk terus menerka dan belajar saling menemukan. Namun, semua pesan itu dihiraukan begitu saja. Dia selalu mengabaikan semuanya, dan hanya memberikan senyum yang tak sepenuhnya menyenangkan untuk perempuannya. Dia bukanlah lelaki yang sepenuhnya baik, namun berusaha untuk berpura – pura baik. Tak ada kesungguhan yang sia – sia, bahkan ketika dia bersungguh – sungguh untuk berpura – pura. Semua yang dia capai, dengan senang hati dirayakan di dalam segelas teh.  Termasuk mimpinya, meski pada akhirnya mimpi itu dikutuk habis – habisan.  

Seminggu yang lalu, dia menghadiri sebuah pemakaman seorang perempuan. Dia hadir di antara kerumunan keluarga perempuan itu. Berdiri di belakang suami dan anak – anak perempuan itu. Hari ini, setelah menghabiskan segelas teh hangat, dia kembali datang ke tempat peristirahan terakhir perempuan itu. Seorang diri sambil mengatakan, "Terima kasih telah mengajariku menikmati segelas teh hangat, semoga suatu waktu kita bertemu di meja yang sama dengan teh yang kau buat khusus untukku"

*
Perempuan itu begitu mencintai ayahnya. Sehingga, ketika usianya tiba untuk berkeluarga, ayahnya jauh hari telah merencanakan semuanya dengan tepat, termasuk pasangan untuk anaknya sendiri. Perempuan itu mencintai ayahnya lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. Keputusan ayahnya diterima, dan menjadi kutukan untuk mimpi seorang lelaki yang tengah terdiam di hadapan segelas teh yang memantulkan wajahnya.


Di suatu malam, ketika musim kemarau baru saja tiba di kotanya, lelaki itu duduk terdiam setelah seharian  menghabiskan waktu sepinya di hadapan batu nisan seorang perempuan. Dalam diamnya, perlahan waktu menjadi lebih pelan. Usianya sebentar lagi akan usai. Setelah menyeduh teh terakhirnya, dia membayangkan, di sebuah taman di kotanya, dia berkumpul dan bermain bersama istri dan anak - anaknya. Namun, bayangan itu tak pernah lagi akan terwujud. Kisahnya berakhir di suatu malam, ketika musim kemarau baru saja tiba di kotanya, dan ikut mengutuk kemalangan lelaki yang payah itu. Mimpinya tak lain adalah bersetia kepada dirinya sendiri.  



0 comments:

Post a Comment