"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Tuesday, January 27, 2015

Apakah Kamu Pernah Menunggu Kematianmu?

5:34 AM Posted by Wawan Kurn 1 comment
Apakah kamu pernah menunggu kematianmu? Seperti seorang anak usia tujuh tahun yang menunggu ibunya pulang dari pasar. Sebelum ke pasar, ibu itu berjanji akan membeli beberapa mainan dan makanan pesanan anaknya. Mungkin, jika kau adalah anak usia tujuh tahun itu, kau akan dengan senang hati menunggu ibumu pulang dari pasar. Kau (jika kau menjadi anak usia tujuh tahun itu) mungkin akan menunggu dengan sedikit berceloteh. Atau kau mungkin saja akan berbicara dengan sejumlah mainanmu di kamar. Menjelaskan kepada boneka atau robot kecil tentang rasa gembiramu akan janji dari ibumu.

Apakah kamu pernah menunggu kematianmu? Seperti apa saja yang ada di kepalamu. Pertanyaan itu beberapa kali saya ulang, dan beberapa kali saya tertawakan. Sebab hari ini saya sedang senang membahas topik kematian, dengan seseorang yang saya harapkan meninggal setelah saya meninggal lebih dulu. Ketika orang itu meninggal lebih dulu, maka itulah yang akan menjadi ketakutan bagi saya untuk melihat kematian datang di halaman pikiran saya. Dia termasuk orang – orang yang saya anggap mampu mengurungkan niat saya untuk meninggal lebih cepat. Sebab, saya percaya bahwa jika saja kita hidup dalam kesendirian panjang, dan tak lagi punya alasan untuk hidup, mungkin kita akan lebih memilih agar kematian datang lebih cepat.   

Saya pernah cemburu dengan Ainun, dan sepertinya masih cemburu. Ketika Ainun meninggal, dan Habibie berhasilkan membuktikan bahwa cinta dan rindunya adalah sesuatu yang tak dibatasi dimensi ruang dan waktu. Saya berharap jadi Ainun, yang memiliki Habibie-nya. Sejauh ini, saya masih mengidolakan pasangan itu, mungkin karena masih sedikit kisah yang baca dengan baik. Pun jika saya menemukan kisah lain, mereka akan mendapat tempat yang istimewa. Saya senang ketika Habibie mendengar dan memilih saran seorang psikolog untuk menuliskan perasaannya, melawan kekalahan dan kelelehan psikisnya setelah Ainun benar – benar tiada. Menulis memang selalu menjadi obat, obat psikis. Lewat bukunya yang berjudul, “Ainun dan Habibie” Habibie berhasil menghidupkan gambaran kisah cinta yang tulus. Buku itu juga memberikan saya kesempatan untuk mencintai dengan cara yang lebih baik. Meski hari ini, saya tidak yakin dengan makna kata “mencintai” yang ada di dalam kepala saya.

Saya juga berharap, setelah saya tiada, akan ada seseorang yang menuliskan sesuatu untuk saya. Tentu, ini adalah sebuah harapan yang berlebihan. Saya menginginkan, siapa pun yang akan mendampingi saya kelak, mungkin dia bisa menuliskan kebodohan – kebodohan saya yang rumit dan tidak jelas. Menuliskan tentang isi kepala saya yang terlalu sempit, dan mimpi saya yang kadang kala menyedihkan atau patut ditertawakan. Seperti halnya yang sedang anda baca sekarang ini.

Pertanyaan besar dalam catatan ini, pertama kali saya lontarkan untuk diri saya sendiri, tepat saat kakek saya meninggal di tahun 2004. Minggu pertama setelah beliau tiada, saya memilih mengurung diri dan dikepung pertanyaan di atas. Saya menunggu kematian datang, dan mengira akan segera bertemu dengan almarhum kakek saya. 17 Hari setelah kakek saya meninggal, adik kedua saya lahir, Adil Teguh Patengko. Kelahirannya membuat saya untuk sementara waktu berharap hidup lebih lama.

Anggap saja, catatan ini ditulis oleh saya yang masih ingin berusia tujuh tahun setelah sadar sebentar lagi usia saya bertambah namun berkurang. Dan sebenarnya saya mencoba menjawab pertanyaan dalam diri saya sendiri, untuk diri saya dan (mungkin) untuk orang lain.  

Makassar, 26 Januari 2015


1 comment: